Me And Yu : Maevino

Me And Yu : Maevino
Eps. 48 'Me2Yu' : Saling Bertemu (1/2)


__ADS_3

Seseorang kembali ke tempat parkir untuk menemukan ponselnya yang tertinggal pada Vespa Matic miliknya.


Mencari-cari akhirnya dia menemukan handphone itu. "Ketemu."


Suara motor cross type datang untuk memarkirkannya di samping motor Vespa miliknya. Dia melirik sedikit untuk melihatnya dari pemilik kedua sepeda motor yang saling memandang tanpa tersenyum sama sekali karena keduanya sama-sama asing di mata mereka. Fauzi pun masuk kembali ke dalam rumah sakit.


Pemilik motor cross masih berdiri diam di dekat motornya sambil mencari kontak seseorang di ponselnya.


📞


"Kalian dimana? Gue udah sampe."


"Kita masih di jalan, Bang. Macet. Bang Arnold duluan aja masuk, kita nanti nyusul. Yah... Mi." Menoleh pada Mia yang duduk di samping kirinya. Dan mendapat anggukan darinya.


"Hem. Gue duluan."


"Iyah, Bang. Tungguin ya.. heheh."


Obrolan ditelepon telah selesai. Dia adalah senior Arnold pemilik motor cross itu. Memutuskan untuk masuk ke dalam untuk menjenguk juniornya itu, Hanna.


"Dia sakit apa?" gumamnya.


......................


Hanna dan Aji baru saja menghabiskan es krim mereka. Mereka sudah cukup lama disini, bu Diana mungkin akan mencari putrinya yang tidak ada di kamar rawat. Mereka memutuskan untuk kembali ke dalam.


......................


Masih di tempat parkir mobil baru saja tiba dan parkir disana. Ketiga orang di dalamnya keluar dengan penuh sesak dan bergegas keluar dari mereka.


"Ayok ayok ayok!!" Suara melengking begitu nyaring di telinga. "Ehh itu buahnya jangan ketinggalan."


Setelah menimbulkan keributan kecil. Mereka berlari menuju pintu masuk rumah sakit. Mereka bertiga seperti orang yang bingung. Salah satu dari ketiganya adalah seorang pemuda yang menunjuk langsung ke titik informasi, bertanya kepada petugas rumah sakit menanyakan temannya yang sedang dirawat di sini.


"Permisi, Mbak."


"Iyah, Mas. Bisa saya bantu?"

__ADS_1


"Pasien yang bernama Hanna Mafaza di rawat di ruang mana ya?"


"Ah baru saja ada orang yang menanyakan pasien tersebut. Itu disana..." Ketiganya mengikuti arah yang ditunjuk oleh petugas ini. Lalu kembali lagi untuk mendengar lanjutan darinya. "Untuk pasien Hanna Mafaza, dia di rawat di ruang VVIP. Apa mas sama mbaknya sudah dapat izin dari keluarganya?"


Semua terdiam, mereka lupa memberitahu keluarga Hanna, tepatnya Hanna. Tapi mereka sudah memberitahu Afra dan Aji bahwa mereka akan menjenguk Hanna.


"Mbak, kita ini sahabat dari pasien. Kenal juga sama keluarganya,, dekeeeeettt lagi. Mereka pasti izinin kita masuk. Boleh, kan?" Soloroh suara nyaring itu dari orang bertubuh mungil.


"Maaf, Mbak. Tetep nggak bisa. Sudah aturannya pasien yang berada di ruang VVIP tidak bisa dijenguk kecuali sudah ada izin dari keluarganya."


Oni mendengus kesal. Pemuda di antara mereka pun mengucapkan terima kasih kepada petugas rumah sakit ini. Setelah itu mereka pergi menuju ke tempat duduk yang di sediakan di dekat sini.


"Ribet amat sih aturannya. Lagian Si Hanna sok sok'an di rawat di ruang VVIP." Menjatuhkan pantatnya di kursi pengunjung.


"Namanya juga anak dari pengusaha besar," timpal Gina.


"Kalian nggak usah ribut. Gue coba hubungi Aji," sambung Nasrul.


Nasrul pun mencoba untuk menghubungi Aji agar bisa mendapatkan akses masuk untuk menjenguk Hanna.


Di sisi lain, Oni melihat ke samping untuk melihat orang yang ditunjuk oleh petugas rumah sakit tadi, bahwa orang yang bermata sipit ini, salah satu orang yang akan mengunjungi Hanna juga.


"Iyah," jawabnya. "Kalian... juga?" Arnold melihat pada ketiga orang ini, mereka tidak terlihat seperti mahasiswa dari kampusnya.


Oni mengangguk. "Mas siapanya Hanna?" Dan mulailah ke kepoan Oni muncul. Sedangkan Gina dia diam, tapi ikut penasaran.


......................


Hanna sedang menunggu lift dibuka. Namun, panggilan telepon dari ponsel Aji berdering.


📞


"Oy, Rul. Lo jadi jenguk Hanna nggak?"


"Gue udah nyampe nih. Tapi digabolehin masuk."


"Lah tahu-tahu udah nyampe aja. Yaudah lo tunggu, gue bakalan ke sana."

__ADS_1


"Oke."


Telepon pun berakhir.


"Siapa, Ji?"


"Nasrul. Mereka udah disini." Raut wajah Hanna bersinar gembira. "Lo duluan ke atas, gue jemput mereka dulu." Aji pun mendapat anggukan darinya.


Ting. Lift pun terbuka, Hanna memasukinya.


......................


"Gue..."


Oni dan Gina masih menunggu jawaban dari pemuda tersebut. Namun seseorang muncul memanggilnya.


"Bang." Arnold menoleh melihat kedatangan juniornya yang berjalan ke arahnya. "Kenapa belum masuk juga?"


"Oni, Gina" panggil Nasrul. Keduanya menoleh. "Bentar lagi Aji ke sini."


"Okay deh. Bagus," balas Oni.


Namun Nasrul merasa tempat berdirinya ini begitu ramai. Tak lama kemudian, akhirnya Aji pun terlihat berjalan kemari.


"Eh, bro. Apa kabar?" Aji tersenyum senang segera menyapa sohibnya tersebut, Nasrul. Mereka sudah cukup lama tidak bertemu satu sama lain. "Dateng sama calon istri, nih." Gina dan Nasrul hanya tersenyum mendapat sindiran darinya.


"Oy bocil," ejeknya kepada Oni.


"Ey dasar preman kampung," balas ejekan dari Oni untuk Aji.


Namun mereka tidak saling tersinggung melainkan sama-sama tertawa mendengar ejekan dari teman lamanya ini.


"Eh sebelum kalian masuk, gue mau ngingetin dulu," pesan Aji.


Hendak melanjutkan kembali kata-katanya, Aji mendapatkan tatapan dari orang asing. Orang itu pun menyadarinya.


"Oh. Pacarnya Hanna, kan?" Pertanyaan itu membuat mereka terkejut seketika.

__ADS_1


...🦄🥀🐨...


...Bersambung ......


__ADS_2