
Setelah melihat kondisi Fauzan. Hanna tetap diam, dengan murung duduk di halaman rumahnya.
"Hanna... kok diem aja? Maen yuk?"
Memangnya Hanna anak kecil, dihibur seperti itu.
"Han lo belum makan siang loh, makan dulu ya. Gue suapin."
Hanna menggeleng tidak mau.
Aji sangat khawatir dengan keadaan Hanna, mencoba untuk menghiburnya tapi responnya biasa-biasa saja.
"Lo harus makan Hanna nanti lo sakit."
Terus menggeleng tidak mau. Aji menyerah. Dia melekatkan makanannya itu. "Gue simpen disini ya, lo makan."
Pergi meninggalkannya sendiri.Begitu juga dengan keluarga Hanna, mereka baru saja keluar untuk mengeceknya.
"Gimana?" tanya Bella.
Aji menggeleng.
"Coba kamu telepon temen-temennya biar pada dateng kesini," saran Fatur. "Mungkin dengan datengnya mereka ke sini bisa ngalihin pikiran Hanna soal Si kembar."
"Aji harus hubungin siapa?" Aji kebingungan.
"Yang sering nginep disini tuh, siapa? Afra yah? Coba telepon dia," kata Bella.
"Afra?"
Ragu.
"Iyah telepon sana."
Aji terlihat ragu untuk menghubungi Afra karena sejak pertengkaran di rumah sakit, hubungan mereka cukup renggang, mereka juga sudah lama tidak saling mengirim pesan. Terakhir kali dia bertemu adalah di pemakaman Fauzi. Bahkan kemudian mereka acuh tak acuh satu sama lain.
Bakalan diangkat nggak ya?
Nomornya berdering. Aji menjadi gugup.
📞
"Hallo?"
Diangkat. Ucap Aji dalam hati.
"Ha-hallo, Fra. Ini gue Aji."
"Gue tahu."
Aji mendengus, hawa dingin suara Afra terasa sampai sini.
"Ada apa?"
"Sorry ganggu, tapi lo bisa nggak dateng ke sini ke rumah Hanna?"
"Kenapa sama Hanna? Dia nggak papa kan?"
Suara dinginnya menghilang berubah menjadi kecemasan pada sahabatnya.
"Lo kesini aja, lo bisa liat langsung kondisi Hanna sekarang."
"Gue ke sana sekarang."
Telepon berakhir dengan perasaan lega. Di sisi lain untuk dirinya, dia bisa bertemu dengan Afra.
...****************...
Ia menatap sayu menunduk. Tangisnya menyatu dengan air hujan yang membasahi. Tangis penyesalan kembali lagi datang dalam kehidupannya.
"Maafin aku Han .."
Ia menahan isakan tangisannya.
Saat itu pun ia bergegas pergi menaiki motornya. Lagi-lagi kembali terjadi menimpanya.
BRAKKK!!
Ia mengalami kecelakaan dia tidak melihat jelas ada sebuah mobil menghampirinya. Membuat dirinya mengerem mendadak namun karena jalan aspal yang licin karena hujan. Dirinya terjatuh dan terbentur sangat keras.
"Wah bang gimana ini? Kalau dia mati gimana?" Paniknya seseorang.
Suara samar-samar itu terdengar olehnya, Fauzan belum sepenuhnya semaput.
"Itu tujuan gue buat dia mati."
"Bang kalau ada apa-apa gue nggak ikutan ya..."
"Gue juga bro..."
Plak! Berwajah codet itu memukul satu persatu anak buahnya. "Pengecut! Dasar bodoh! Gue juga nggak mau balik ke penjara. Yaudah cabut! Sebelum ada yang liat."
"CCTV bang kalau ada CCTV gimana?"
"Nggak ada CCTV, ini jalanan gue. Buruan cabut!"
Fauzan teringat akan kecelakaan yang dialaminya. Itu bukan kecelakaan biasa tapi itu disengaja oleh orang-orang yang membencinya sejak dulu. Dan yang paling jelas terdengar adalah suaranya Kiki, seniornya itu.
__ADS_1
Fauzan sangat marah sehingga setelah mengingatnya, seniornya itu hampir membuat dirinya mati. Tapi yang dia sesali adalah masalah waktu. Waktu tidak akan bisa dikembalikan lagi.
Katlyn dan Tyo baru saja tiba untuk menemani dan melihat kembali kondisi Fauzan. Mereka mengobrol sejenak dengan orang tua Maevino itu. Tapi teralihkan dengan sosok yang berjalan ke arah mereka. Dia berjalan tergesa-gesa dengan penuh amarah, wajahnya yang merah dengan mata menyipit, sungut kesal.
Semua orang menyadarinya.
"Uza, kamu mau pergi kemana?"
Suara ibu membuatnya terhenti. Ia menoleh. "Uza mau keluar dulu sebentar."
"Nggak boleh kondisi kamu belum pulih." Larang Anita.
"Emang mau keluar mau naik apa?" sambung Rudi.
Pertanyaan ayahnya membuat Fauzan terdiam. Benar, tidak ada sepeda motor, hanya ada mobil. Dia tidak bisa. Ketika pandangannya tertuju pada orang asing ini, ternyata temannya ada di sini.
"Yo bawa motor kan?"
"Iyah kenapa?"
"Anterin gue."
"Kemana?"
"Uza! Kamu nggak mau nurut sama mamah?" lirihnya. "Nggak boleh keluar, istirahat ke kamar."
"Mah..."
Memohon.
"Enggak Uza. Naik ke atas," perintah.
"Ini penting, Mah, Yah. Ini soal kecelakaan Uza," ungkapnya membuat mereka terheran.
"Maksud kamu apa?"
"Mah, ayah... kecelakaan Uza bukan kecelakaan biasa itu karena ulah seniornya Uza dulu, dia masih dendam sama Uza mah karena udah buat adiknya meninggal."
Sangat tertegunnya mereka setelah mendengar kebenaran dari kecelakaan itu.
"Kamu yakin itu ulah senior kamu dulu?"
Fauzan mengangguk cepat. "Uza udah inget."
"Yasudah sekarang kita ke kantor polisi," ajak Rudi. Fauzan menyetujuinya. Ini sudah keterlaluan untuk seniornya itu.
"Mamah ikut."
"Katlyn juga yah om," sambungnya.
"Kalau saya ikut boleh, kan?" harap Tyo. "Saya mungkin bisa jadi saksi."
Persahabatan Tyo dengan Fauzan memang cukup dekat sebagai teman bolos sekolah hanya untuk main PS. Tyo juga pernah membantu Fauzan ketika dia dipukuli oleh sekelompok orang, tetapi dia tidak mengetahui masalahnya. Saat itu.
"Yah kamu boleh ikut. Ayok."
Segera mungkin mereka akan melaporkan tentang hal ini kepada kantor polisi. Di sisi lain Katlyn mencoba menghubungi Hanna untuk memberitahunya hal ini tetapi tidak tersambung, beberapa kali dia mencoba ternyata masih sama. Akhirnya dia mengirim pesan.
...****************...
"Bang Kiki..."
"Napa?"
"Abang jangan balik dulu, gue udah dapet informasi soal makam Fauzan."
"Dimana?"
...****************...
Sebuh mobil antik telah tiba terparkir di rumah besar ini.
"Aji.. mana Hanna?"
Aji hanya melihat ke arah Hanna berada. Afra mengikuti pandangannya itu. Hanna yang masih diam duduk termenung di halaman rumah.
"Dari tadi dia diem terus, makan juga nggak mau," ungkap Aji.
"Kenapa dia bisa gitu?"
"Kayaknya mikirin Fauzan. Setelah gue anterin Hanna buat liat kondisi Fauzan di rumah sakit tadi pagi, dia jadi kayak ginih." Aji menoleh pada Afra untuk melihat lawan bicaranya. "Fauzan buta parsial, Fra."
Afra terkejut. Dia baru mengetahuinya sekarang. Meski dia tahu bahwa Fauzan sudah siuman.
"Gue temuin Hanna dulu."
Aji angguk.
Afra berjalan ke arah Hanna menghampirinya. Melihat makanannya pun belum disentuh sama sekali olehnya. Ia ikut duduk di sampingnya.
"Han."
Hanna mendengar, ia menengok, tapi tatapannya begitu sendu. "Afra..." Ia mendekat memeluk sahabatnya ini.
"Gue ikut sedih denger kabar Fauzan." Afra menepuk-nepuk mencoba memberikan ketenangan padanya. "Tapi lo juga nggak boleh kayak gini, Han. Lo jangan buat Fauzan sedih juga, lo nggak mau kan Fauzi di atas sana sedih karena lo terus-terusan nyalahin diri sendiri?"
Dengan cepat Hanna menggeleng melepaskan pelukan pada Afra dengan gelisah. Dia tidak mau Fauzi di atas sana kecewa dan sedih, padahal dia sudah berusaha untuk mengembalikan kebahagiaan Hanna.
__ADS_1
"Nggak mau kan? Nah sekarang jangan nangis-nangis lagi, lo juga harus makan," pinta Afra.
Hanna mengangguk mengiyakan.
"Mau gue suapin?"
Hanna mengangguk kembali. Tapi itu membuat Afra terkejut. Dia kira Hanna bakalan menolak.
"Se...rius mau gue suapin?"
Hanna tersenyum iya.
Keraguan untuk Afra melakukan ini. Tapi, tidak apa. Demi sahabatnya, dia akan menyuapi Hanna.
Di sana Aji yang memperhatikan mereka terukir senyuman dengan perasaan lega. Akhirnya Hanna tidak lagi diam dan sedih, Hanna tersenyum. Karena Afra. Aji jadi semakin mengagumi perempuan itu, dia merasa menyesali atas sikapnya saat di rumah sakit. Ucapanya pasti melukainya.
...****************...
Mereka baru saja keluar dari kantor polisi untuk melaporkan perihal kecelakaan itu dan polisi akan bertindak lebih lanjut. Kecelakaan itu dibuka menjadi kasus pembunuhan berencana.
"Gue harap orang itu bisa cepet ketengkep. Kalau dia tahu lo masih baik-baik aja, gue yakin orang itu bakalan berbuat yang enggak-enggak lagi sama lo, Zan," cetus Tyo.
Yang dibilang oleh Tyo benar. Fauzan pun menjadi curiga. Apa kecelakaan yang menimpa Fauzan dan Hanna itu juga bukan kecelakaan biasa? Tapi ia menahan untuk tidak memberitahu orang-orang tentang kecurigaannya ini dulu.
Sementara itu, Ridwan, ayah dari Si Kembar Maevino, mengkhawatirkan keselamatan anaknya. Dia tidak ingin kehilangan anaknya lagi. Berpikir untuk merencanakan sesuatu demi keselamatan anaknya, Fauzan.
"Ayah," panggilnya. "Uza mau ke makam Uzi dulu yah."
"Kamu mau ke makam?"
Fauzan angguk. "Yo gue minta tolong sekali lagi, anterin gue ke makam Fauzi."
Tyo mengangguk senyum.
"Kamu aja yah yang ke makam, ayah nggak ikut." Masih tampak dari sudut matanya yang sedih karena kehilangan anaknya. Fauzan merasakannya hal yang sama.
Fauzan dan Tyo pun bergegas menuju makam Fauzi.
...****************...
Di pemakaman. Beberapa pemuda berjalan menuju salah satu kuburan seseorang. Perasaan gelisah dan ketakutan jika makam itu benar-benar bukan yang diharapkan.
Nisan itu.
Bukan nama dia.
Terkejutnya mereka bahwa yang meninggal adalah kembarannya.
"Gue udah salah nyelakain orang."
Gemetarnya tubuhnya merasa bersalah. Dia sudah salam mengira bahwa yang mengendarai motor vespa itu adalah Fauzan.
Tidak jauh dari keberadaan makam Fauzi. Fauzan dan Tyo hampir sampai, mereka juga bertanya-tanya tentang orang-orang yang berada di dekat makam Fauzi.
"Maaf, kalian siapa?"
Orang-orang itu tersentak saking terkejutnya.
Fauzan membulatkan matanya, seketika kemarahan muncul dalam dirinya. "SIALAN! LO UDAH BUAT GUE CELAKA!"
Tidak menyadari, Fauzan dengan cepatnya sudah ada di dekat orang-orang itu. Geram pada orang yang penuh kebencian dan menginginkan balas dendam padanya. Bug! "--Aaarggh!" Dia berusaha melepaskan diri untuk kabur, tapi Fauzan menahannya.
"Ca-ca-cabut! Cabut!"
"Jangan kabur oy!"
Teman-temannya pun telah kabur duluan karena takut, dan Tyo mengejarnya.
Fauzan mencoba menindihnya, dan terus memukuli sampai babak belur. Menarik kerahnya itu kuat-kuat. "LO NGAPAIN KE KUBURAN SAUDARA GUE HUH?! APA LO KIRA MAKAM INI MAKAM GUE?! JAWAB!!!!!"
Bugh! "--Aaah! Zan ampun!"
Tatapan mencengkram yang diberikan. Mencoba menahan emosinya itu. "Lo nyoba nyelakain gue lagi! Karena lo kira Fauzi itu gue!"
"Enggak, Zan. Nggak...!" Bugh! "--Argg!"
"Lo kira gue bodoh?! Lo gagal buat gue mati dan sekarang... lo mau mastiin kuburan ini, tapi lo gagal lagi! BNGSAT!"
Memukulnya lagi tanpa ampun, Fauzan tetap tidak terima jika Fauzi mati karenanya. Meneteskan air mata karena perasaan bersalah terhadap kembarannya. "Harusnya lo bunuh gue! Bukan saudara gue!"
Dirasa lawannya mulai melamah karena terlalu meluapkan emosinya itu. Dia mencoba meraih sesuatu yang berat di samping kirinya. Otomatis Fauzan tidak akan tahu yang dia lakukan karena mata kanannya yang buta itu, yang masih tertutup oleh alat.
Dan.
Suara benturan keras mengenai kepalanya.
"FAUZAN...?!" Tyo berteriak dari kejauhan melihat kejadian yang mengejutkan itu. Paniknya berlari ke arah Fauzan untuk menolongnya.
Orang itu mendorong tubuh Fauzan menjauh darinya, jatuh ke tanah. Dia melarikan diri setelah memukul kepala Fauzan dengan batu.
Gelap.
Fauzan tidak bisa melihat.
Terlengar.
...🥀...
__ADS_1