
Hanna dan Arnold telah sampai di sebuah toko buku. Hanna langsung menuju rak pelajaran yang pastinya buku yang sesuai dengan mata kuliahnya. Sedangkan Arnold terus mengikuti dari belakang. Sampai-sampai saat Hanna berhenti karena sudah menemukan buku yang dicarinya. Arnold tidak menyadari membuat.
"Eh sorry."
Hanna menatapnya dengan sinis. "Kakak ini nggak lihat apa kalau Hanna berdiri disini?"
"Hem."
"Hem .. hem, hem, hem," ejek Hanna sembari mengambil buku tersebut.
"Lo cari buku apa?" tanya Arnold. Hanna memperlihatkan judul bukunya. "Ohh buku ini."
"Kak Arnold tahu?" tanya Hanna.
"Tahu, gue punya bukunya. Kalau lo mau lo bisa minjem ke gue," tutur Arnold.
"Serius, Kak? Ada angin apa nih dari tadi tiba-tiba baik sama Hanna," ledek Hanna terdengar senang.
Arnold tersenyum baru kali ini Hanna senang mendengar ucapan yang keluar dari Arnold. Tapi, tetap saja diakhiri dengan menyebalkan.
"Dibaikin salah," gerutunya. "Serius. Kalau lo mau minjem buku lain pun boleh. Lo bilang aja, itu pun kalau ada."
Hanna pun meletakkan kembali buku tersebut. "Yaudah deh Hanna minjem buku ini ke Kak Arnold aja yah?" Hanna merasa senang. "Untung Kak Arnold nggak telat ngasih tahunya."
"Emang kenapa?" tanya Arnold.
"Uang yang awalanya buat beli buku tadi bisa Hanna beliin novel deh... Yeay."
Hanna mengatakan dengan gembira dan langsung beranjak pergi dari sini menuju rak novel.
Arnold menatap kepergian Hanna. "Gue harus kesel atau seneng sih?" Arnold pun menyusulinya.
Hanna mencari-cari novel yang ia sukai. Membaca sinopsis terlebih dahulu sebelum Hanna membelinya. Tak lama ia pun mendapatkan novel yang menurutnya menarik. Saat itu pun, Hanna tidak sengaja. Dirinya melihat buku dongeng. Buku dongeng yang persis sama yang pernah Hanna berikan kepada laki-laki Hujan saat itu. Masa SMA. Hanna menjadi diam setelah melihat itu dan mengingat kejadian bersamanya. Dirinya tidak tahu harus senang apakah harus sedih. Hanna sama sekali tidak mendengar kabar darinya. Begitupun dengan saudara kembarnya juga. Hubungan mereka langsung renggang dan komunikasi pun tidak terjalin setelah kejadian di prom night.
"Han?"
"Hanna?"
__ADS_1
Hanna tersadar dari lamunannya.
"Jangan ngelamun nanti kesambet setan," ucap Arnold.
"Setannya kan kakak," sahut Hanna tanpa sadar.
"Apa?" tanya Arnold.
"Ah.. eng-gak-enggak nggak, Kak." Hanna tersenyum kekeh dan meninggalkan Arnold disini menuju kasir.
Arnold sebenarnya mendengar apa yang diucapkan oleh Hanna. Dia tersenyum melihat tingkah laku Hanna tadi. Namun dia menyadari bahwa Hanna tadi memandang sebuah buku dongeng tersebut. Dia terheran-heran.
...****************...
Netherlands
Katlyn baru saja keluar dari apotek. Berjalan belum lama keluarnya dari apotek. Dia bertemu seseorang. Mereka saling berhadapan dan menatap diam.
"Lo.. yang sering sama Fauzan, kan?"
"Apa yang mau kamu obrolin?" tanya Katlyn. "Kalau misalkan kamu mau tetep nyalahin Fauzan, aku bakalan pergi."
Saat Katlyn beranjak dari duduknya. Seseorang itu pun menahan kepergian Katlyn. "Tunggu!"
"Gue udah duga lo pasti tahu permasalahan gue sama Fauzan. Tapi emang benar, dia yang salah," lirihnya. Dia adalah Aji.
"Salah darimana? Kamu aja yang salah pengertian dan nggak mau dengerin penjelasannya dulu," seru Katlyn dia terdengar emosi.
"Apa yang gue denger dan lihat saat prom night. Apa itu nggak cukup ngebuktiin semuanya? Fauzan tetap salah."
Katlyn berdecik kesal mendengarnya. Katlyn pun mendekati Aji. "Denger. Kalau lo tetep sama logika, asumsi lo itu yang salah! Gue pastiin lo bakalan nyesel."
Katlyn sudah kehabisan kesabaran. Dirinya benar-benar ingin memberitahukan semua kebenarannya. Tapi ia tahan, karena Fauzi telah beramanat padanya. Katlyn pun langsung beranjak pergi. Namun ia berhenti sejenak saat jarak mereka sudah lumayan jauh.
"Mereka udah cukup menderita sampai sekarang. Mengorbankan hidup mereka masing-masing untuk orang lain. Apa kalian nggak lihat?" Murka Katlyn.
Katlyn pun akhirnya pergi. Aji terdiam saat mendengar perkataan terakhir dari Katlyn tersebut. "Apa maksudnya?"
__ADS_1
...****************...
Indonesia.
Di parkiran.
"Lo butuh bukunya kapan?" tanya Arnold sembari mengambil helm.
"Umm... seminggu lagi sih tugasnya dikumpulin. Tapi, Hanna butuh sekarang buat ngerjain langsung."
"Kalau gitu lo ikut gue pulang ke kosan."
Tiba-tiba saja Hanna langsung menutupi tubuhnya. Berbuat aneh dan membuat Arnold terheran-heran. "Kenapa?"
Arnold pun baru saja tersadar dengan gelagat Hanna itu. Dia menjitak kepala Hanna yang sudah dipakaikan helm.
"Awww ..." rengek Hanna. "KAK ARNOLD!!!"
"Heh lo mikir apaan? Hah?"
"Han.. Hanna nggak mikir macem-macem, kok." Hanna langsung bersikap biasa.
"Otak lo ternyata..." tutur Arnold tidak melanjutkan ucapannya.
"Ternyata apa?!"
"Ternyata .... lo pikir aja sendiri yang lebih tahu."
Hanna mulai kesal kembali dengan Arnold seniornya ini.
Kayak anak kecil ginih bisa mikir mesum. Batin Arnold.
Kalau gue nggak minjem bukunya, udah gue tendang ni senior ke hutan biar ketemu sama koala-koala lain. Batin Hanna.
...🐨🌹🐻...
...Bersambung .......
__ADS_1