
Rumah yang dia tinggali sejak lama. Sebuah rumah yang telah berada di sini selama bertahun-tahun penuh kebahagiaan tetapi juga dengan kesedihan dan penyesalan berakhir di dalam dirinya. Tidak ada yang berubah dari rumah ini.
"Tante, tante mau nunggu di rumah ini?"
"Tidak, Na. Tante sudah tidak berhak atas rumah ini, tante akan mencari rumah kontrakan. Tidak jauh-jauh kok dari sini."
"Biar Fauzi bantu, tante. Tapi lebih baik sekarang tante ikut ke rumah Fauzi aja, ini masih gelap, rumah Fauzi juga nggak jauh dari sini. Tante bisa tinggal sementara di sana sampai kontrakan ketemu. Ya?"
"Tante nggak mau nyusahin kamu lagi. Kamu sama yang lainnya sudah banyak bantu tante sama Hanna."
"Tidak tante. Kami sangat senang bisa bantu tante sama Hanna. Ayok, Tante."
Di rumah Fauzi yang sudah lama tidak dihuni, karena semua orang sudah pindah ke Singapura untuk menemani Fauzan yang dirawat. Fauzi akan membantu Bu Diana dulu di Indonesia sebelum berangkat lagi ke Singapura untuk menyusul keluarganya.
Fauzi mengetuk pintu rumahnya. "Bi Asih..... Assalamu'alaikum. Bi..."
"Waalaikumussalam.... Eh? Nak Uzi udah balik? Ya Allah, kamu udah besar.... Bibi sampe nggak ngenalin. Bibi kangen pisan." Fauzi tersenyum dielus-elus oleh bi Asih yang sudah seperti keluarganya.
"Bi Asih ini Bu Diana, ibu dari temennya Uzi waktu SMA. Sementara waktu Bu Diana bakalan tinggal dulu di sini."
"Ah iyahiyah. Eh iyah masuk-masuk bibi lupa..."
"Bi Asih tolong anterin Bu Diana ke kamarnya ya..." pinta Fauzi.
Bi Asih mengangguk. "Ayok bu ikut saya." Bu Diana pun tersenyum angguk dan ikut bersama asisten rumah tangga di rumah ini.
Fauzi menaiki tangga menuju kamarnya. Berdiri tepat di depan pintu kamarnya, ia berbelok ke kanan, yang merupakan kamar milik saudara kembarnya, Fauzan. Melihat kerinduan dan kesedihannya, dia pun memutuskan masuk ke kamar Fauzan menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Membuang nafas panjang menatap langit-langit kamar.
"Fauzan, tunggu sebentar lagi."
***
Pukul 08.46 Am. Bandara Amsterdam Schiphol
"Pah, Aji minta tolong sama papah kali ini..."
"Papah akan bantu, jadi sekarang ibu kandung Hanna udah ada di Indonesia?"
"Iyah, Pah. Tante Diana sekarang ada di rumah Fauzi temen Aji itu."
"Iyah, papah pasti bantu soal putri papah, Hanna.."
"Makasih, Pah."
Aji dan papahnya pun pergi setelah membeli beberapa cemilan untuk dimakan sekarang.
__ADS_1
"Bunda seriusan mau pulang sekarang?" tanya Hanna.
Mereka sedang duduk menunggu keberangkatan.
"Papah kan ada kerjaan nggak bisa lama-lama di sini."
"Tapi kan nggak seru nggak ada bunda sama papah di sini. Nanti Aji bisa ngerjain Hanna terus kalau nggak ada--awwwh!"
"Aji...." tegur bunda.
"Bunda tuh kan Aji nyiksa Hanna. Sakit..." Hanna mendekat pada bundanya.
"Biar papah bales..." Papah pun membalas kesakitan Hanna kepada Aji, papah mencubitnya.
"Aww! Sakit, Pah!" protes Aji.
"Makanya jangan usil sama adik kamu."
Aji menatap malas. "Iyahyah." Melihat ke arah Hanna yang sedang menjulurkan lidahnya untuk mengejek.
...****...
Ding Ding Dong
Bunyi bel gedung dihuni oleh mahasiswa dan pekerja yang tinggal di satu atap. Di Indonesia namanya kost.
Tyo menelan ludah. Di pagi hari dia sudah mendapatkan pemandangan indah. Ah! Setelah beberapa tahun tinggal disini naluri dia sebagai orang asli Eropa ada. Tyo yang polos. Tidak? Menjadi lebih berpengetahuan tentang bersosialisasi di luar sana. Mungkinkah di Indonesia juga demikian? Tyo tidak tahu, karena saat di sana apalagi teman-teman di sekitarnya adalah teman yang baik.
"Ik zoek Kaltyne (Aku mencari Katlyn)"
"Ah oké, je mag binnenkomen (Kamu boleh masuk)"
Tyo menunggu duduk di sofa yang sudah disediakan di tempat ini. Suaranya sudah terdengar mengobrol sesuatu sepertinya.
"Tyo?"
"Hai." Tyo segera berdiri. Tapi tak lama dia duduk kembali.
"Kamu ada perlu apa nemuin aku?"
"Hari ini kamu sibuk nggak?"
"Nggak sih, kenapa emang?"
"Jalan yuk."
__ADS_1
"Hah?"
"Iyah kita main sama Aji sama Hanna juga, kok."
"Ah gituh... sekarang?"
"Besok. Yah sekarang lah beautiful girl." Terlalu menggemaskan sampai Tyo ingin mencubit pipinya itu. Kesal.
"Hahah iyah deh kamu tunggu sebentar, aku siap-siap dulu."
"Okay. Dandan yang cantik..."
"Setiap hari selalu cantik, kamu juga sering ngatain aku beautiful girl? Hum?" godanya.
"Ah itu.... Gue cuman mau nyenengin lo aja, biar lo juga bisa ngakuin kalau gue sebenarnya ganteng."
"Ihs. Yaudah tunggu aku ganti dulu."
Setelah perginya Katlyn, Tyo menahan malunya. Dia pun tidak sadar dengan apa yang sering dikatakannya pada Katlyn untuk menyebutnya 'Beautiful girl'
...***...
"Dadahhhh bunda dadahhhh papah....."
"Ayok Han udah kita balik..."
"Ih Hanna mau liat dulu pesawat bunda sama papah terbang."
"Ih kelamaan." Aji menarikanya. "Kasian Tyo sama Katlyn nungguin kita."
"Iyah yah tapi lepas jangan ditarik-tarik." Aji pun melepaskannya. "Kita mau ketemuan sama mereka?"
"Iyah kita mau ajak lo jalan-jalan... Tyo juga ada yang mau diomongin sama kita."
"Apaan?"
"Yah nggak tahu, makanya kita harus pergi sekarang."
"Okay deh."
.
.
.
__ADS_1
🦄🥀
Bersambung ....