Me And Yu : Maevino

Me And Yu : Maevino
Eps. 49 'Me2Yu' : Saling Bertemu (2/2)


__ADS_3

Pintu lift tiba di lantai 5 tempat Hanna yang baru saja keluar. Tampa keheranan dibenaknya mencari kamar rawatnya menyulusuri semua lorong melihat satu per satu kamar rawat yang berada di lantai ini.


"Di kamar berapa ya."


Kebingungan muncul setelah dia tidak dapat menemukan kamar rawatnya. Dia bahkan tidak membawa ponselnya untuk memberitahu Aji. Tersesat. Dia memutuskan untuk mencarinya tanpa bantuan orang lain.


......................


"Bang." Arnold menoleh melihat kedatangan juniornya yang berjalan ke arahnya. "Kenapa belum masuk juga?"


"Harus ada izin dulu dari keluarganya. Tapi, kalian udah ngabarin Hanna nya, kan?"


"Udah, sih. Tapi, nggak dibales lagi," jawab Mia.


"Coba telepon aja, Mi," papar Zeki.


Mia mengangguk. Ia pun menelpon Hanna menunggu Hanna mengangkatnya. Padahal nomornya sudah nyambung. Tapi tetap tidak diangkat


Suara disekitarnya begitu ramai membuat Mia sendiri teralihkan perhatiannya pada orang-orang itu. Ketika dia melihat orang-orang yang tidak begitu asing baginya. Ia pun menyadarinya, terutama kepada pemuda berambut pirang itu.


"Eh sebelum kalian masuk, gue mau ngingetin dulu," pesan Aji untuk mereka agar tidak salah bicara saat bertemu dengan Hanna. Hendak melanjutkan kembali kata-katanya, Aji mendapatkan tatapan dari orang asing. Orang itu pun menyadarinya.


"Oh. Pacarnya Hanna, kan?" Pertanyaan itu membuat mereka terkejut seketika.


Pacar? Dalam hati Arnold.


"Maaf. Mbak kenal sama Hanna? Hanna Mafaza?" tanya Aji.


Mia mengangguk-angguk. "Kita temen kuliahnya."


Semua orang ber'oh setelah mendengarnya. Gina dan Oni yang sempat lupa sekaligus akhirnya mendapat jawaban bahwa pemuda yang juga teman kuliah Hanna itu.

__ADS_1


"Kalian kesini mau jenguk Hanna? Kita masuk bareng-bareng aja."


"Woah ahamdulillah bisa ketemu kalian. Jadinya kita bisa masuk," selosor Zeki.


Mereka semua akhirnya memutuskan untuk berkunjung bersama dengan dibantu oleh Aji selaku wali yang memberi izin.


Semua orang secara bersamaan naik ke lift dan berhenti di lantai 6 dalam sekejap. Jalan sebentar menuju ruangan yang dituju. Klek. Suara pintu terbuka. Tapi bukan mereka yang membukanya tapi wanita tua yang baru saja akan keluar.


"Tante? Tante mau kemana? Ini temen-temennya Hanna dateng, jenguk Hanna," ucap Aji tanpa curiga.


Di sisi lain Oni berbisik kepada Gina. "Itu ibu kandungnya Hanna, kan?" Tapi Gina mengisyaratkan dia untuk tidak berisik sebelum menanyakan pertanyaan itu. Meski sebenarnya Gina juga penasaran.


Semuanya menyapa wanita tua itu dengan sopan. Tapi sepertinya dia terlihat kepanikan.


"Hanna sama kamu?"


Aji sedikit heran. "Tadi sih sama Aji, Tante. Jalan-jalan cari angin. Udah itu Hanna kesini duluan. Emang Hanna belum nyampe sini?" Bu Diana menggeleng cepat. "Toilet udah di cek?" tanyanya lagi.


"Tante tunggu di dalem, biar Aji yang cari Hanna." Bu Diana mengangguk mencoba untuk tenang. "Kalian tunggu aja disini. Gue cari dulu, Hanna."


Setelah itu Aji bergegas pergi. Segera Arnold pergi tanpa sepatah kata pun. Dia ikut mencemaskan Hanna dan ingin mencari keberadaan Hanna.


"Gue ikut cari Hanna."


Aji sedikit terkejut dengan kedatangan Arnold. Meskipun mereka baru mengenalnya, tidak ada kecanggungan di antara mereka.


......................


Tidak pernah bertemu setelah sekian lamanya, tidak ada suatu rencana bertemu dengannya lagi, hanya perjuangan, harapan, dengan ingatan menyakitkan setelah adanya perpisahan itu.


Pertemuan yang tidak diharapkan atau takdir yang mempertemukan kami. Apa sekarang takdir memihak pada kami lagi setelah semuanya berakhir dengan saling menyakiti.

__ADS_1


Tubuh keduanya enggan untuk bergerak. Saling berdiri berhadapan satu sama lain, menatap lekat dari keduanya. Ada sebuah rindu yang menantinya tapi sulit untuk mendekat.


"Hanna?"



Entah kenapa gadis itu meneteskan air mata melihat sosok pemuda itu. Rindu yang dia rasakan, hanya kerinduan di dalam benaknya tanpa merasa ada yang tersakiti. Juga kekosongan. Kenapa aku menangis? Dia pun bertanya-tanya pada dirinya. Dia mendekat lebih dulu, selangkah demi selangkah dia mendaki perlahan anak tangga ini. Dan sekarang mereka hanya dibatasi oleh satu anak tangga. Hanna tersenyum lembut lalu memeluknya. "Fauzan."


Di bawah sana ada dua orang yang melihat pemandangan itu. Keduanya kaget dan tidak bisa berkata-kata. Tapi apa yang mereka rasakan di hati mereka berbeda. Salah satu dari mereka ada perasaan cemburu melihat pemandangan ini.


...🦄🥀🐨...


...Bersambung ......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Hanna peluk Fauzan? Seriusan? Jadi, Fauzan udah bangun dari komanya dong. Atau mungkin yang dipeluk Hanna itu Fauzi?...


...Jadi siapa yaa kira-kira???...


...Oho! Ada orang yang tersakiti nih liat pemandangan mereka yang saling peluk....


Kalian ada di tim mana nih?


A. Hanna Fauzan


B. Hanna Fauzi


C. Hanna Arnold


...Atau kalian dukung Hanna Aji?...

__ADS_1


__ADS_2