
Hanna, tadi malam harus dirawat di rumah sakit karena kondisinya tidak memungkinkan untuk pulang. Hari telah berubah. Hanna nampaknya sangat senang memberikan senyumnya yang indah tapi yang terjadi sebaliknya untuk keluarganya. Melihat kesedihan dan kekhawatirannya. Dokter mengatakan bahwa Hanna kembali ke masa lalunya dengan delirum, tapi sekarang lebih dari itu. Hanna memblokir semua kenangan yang menyakitinya dan dia hanya mengingat saat-saat indah. Seperti sebelumnya dia tidak tahu siapa ibu tirinya. Teringat saudara kandungnya, Annisa membuatnya dipicu oleh peristiwa di masa lalu yang kelam. Membenci orang tuanya, tidak bisa menerima semua yang terjadi padanya.
Semua orang kira Hanna sudah sembuh total tapi kenyataannya tidak. Perubahan sikap yang mendadak diharuskan Hanna selalu diperhatikan. Meski bagus Hanna memblokir ingatan menyakitkan seperti itu. Tapi itu semua bohong. Hanna tidak boleh terus hidup seperti itu, dia harus menerima kenyataan. Jika dibiarkan, sesuatu terjadi pada Hanna itu akan menjadi lebih buruk, kondisi mentalnya.
Hanna baru saja selesai makan, dia disuapi oleh ibunya, Diana. Setelah itu dia meminum obat. Pintu kamar terbuka memperlihatkan teman kecilnya yaitu Aji bersama ibunya yang selalu dipanggil oleh mereka 'Bunda'. Tapi ada lagi selain mereka, sahabatnya. Afra.
Melihatnya, Hanna semakin senang adanya kedatangan mereka. Hanna melambaikan tangannya sambil menunjukkan gigi putihnya kepada Afra, sahabatnya. Namun, mereka yang menerima lambaian itu tidak memiliki kekuatan untuk melihat Hanna seperti ini lagi. Hanna sudah cukup lama menderita kenapa dia harus menderita lagi.
Aji meletakkan buah-buahan di atas meja.
"Bunda," kata Hanna sambil memeluk.
"Anak bunda udah baik, kan?" tanyanya sambil tersenyum.
"Udah dong. Mamah kan udah jagain Hanna semalaman, nggak ninggalin Hanna," terangnya lalu melihat pada ibunya itu, Diana. Diana tersenyum dan membelai rambut putrinya.
"Afra," panggil Hanna bersemangat.
__ADS_1
"Hum?" Afra tersenyum.
"Kamu nggak percaya kan mamah aku ada disini."
Afra hanya tersenyum ikut senang tapi juga tidak. Dia tidak bisa membalas kata-katanya. Para orang tua memberikan waktu pada mereka untuk mengobrol satu sama salin. Hanya ada yang muda di sini.
Dengan Hanna seperti ini, ini jauh lebih menyakitkan daripada mengingatkannya saat sekolah untuk Afra sendiri yang telah melihatnya secara langsung. Hanna selalu berhalusinasi dan bermimpi buruk setiap malam, dia takut ketika hujan datang. Hanna sekarang, dia seperti amnesia. Hanya saja Hanna memblokir kejadian buruknya.
"Ciee kalian dateng barengan..." godanya. "Udah nggak friendzone nih."
Baru saja dia prihatin dengan kondisi sahabatnya, tapi tetap saja sikapnya menyebalkan dalam kondisi seperti itu. Afra memandangnya dengan malas.
"Jangan percaya," lirih Afra. Yang mendapatkan kekehan dari Hanna di atas ranjang itu. "Ah iyah, Han."
"Um?"
"Temen yang lain mau pada ke sini, jenguk lo."
"Siapa?"
__ADS_1
"Temen SMA, Han."
"Temen SMA?" Hanna masih berpikir untuk mengingatnya. "Oh Ollaf sama Gina mau kesini?"
Afra mengangguk senyum.
"Cuman mereka aja?" tanyanya kembali.
Afra masih kebingungan begitu juga dengan Aji.
"Cuman?" heran Aji. "Emang mau siapa lagi?"
"The Hago," jawabnya begitu santai. Tapi itu membuat Aji dan Afra tersentak.
Band masa SMA, The Hago. Apa yang dimaksud itu merujuk kepada Fauzi? Atau sebaliknya begitu juga dengan saudara kembarnya, Fauzan. Apa Hanna mengingat kenangan mereka yang indah saja?
Aji dan Afra menjadi lebih khawatir lagi jika membahas si kembar kepada Hanna. Afra sudah mengetahui semuanya dari Aji. Aji bercerita saat kami masih berada di Jerman, bahwa Fauzi yang kita kira itu adalah Fauzan ternyata sebetulnya dia adalah Fauzi bukan Fauzan. Tidak ada sedikitpun yang terlewatkan bahwa Afra sudah mengetahui semuanya. Ikut bersedih atas yang dialami oleh Fauzan. Juga berterima kasih atas Fauzi yang begitu bertekad untuk membantu permasalahan di antara Fauzan dan Hanna. Mereka bertiga sama-sama tersakiti.
Jika Afra berada di posisi, di antara mereka. Mungkin Afra tidak sanggup.
__ADS_1
...🦄🥀...