
Cuaca yang cerah membuat pasangan muda yang dimabuk asmara ini memutuskan untuk berjalan-jalan keluar rumah. Tidak dengan sepeda motor seperti biasanya, tapi mereka benar-benar berjalan kaki sambil berpegangan tangan.
"Kata kamu, kamu ikut kompetisi, kapan diumumin hasilnya?"
"Pekan ini."
"Bentar lagi," sahut Fauzi. "Semoga hasil karya pacar ku sama temen-temennya bisa menang."
"Aamiin..." Hanna tersenyum bahagia. "Mm kalau kamu gimana? Udah keliling kemana aja?" Fauzi masih menunggu dengan hati-hati apa yang akan dibahas oleh Hanna. "Kamu pernah bilang impian kamu mau mengenal dunia. Apa selama ini kamu hilang buat keliling dunia?"
Gue nggak boleh salah jawab.
Fauzi angguk. "Iyah aku udah keliling dunia. Masih sebagian Negara Eropa aja." Fauzi tersenyum.
"Kalau kamu ajak aku, kamu mau bawa aku ke negara Eropa mana?"
"Umm Italia."
"Bukan Perancis lagi?" tanya Hanna heran.
"Ha? Oh kamu mau ke Perancis? Nanti aku bawa kesana." Fauzi mengelus rambut Hanna. Tapi Hanna merasakan kembali perbedaan Fauzan yang sekarang.
Langka Hanna terhenti, membuat Fauzi keheranan. "Ada apa?"
Fauzi dan Hanna saling berhadapan. "Kamu tahu aku nggak inget apa-apa sebagian kenangan aku, aku mau berusaha inget lagi dengan obrolan-obrolan kayak ginih."
Fauzi mengelus pipi tembem kekasihnya. "Iyah aku tahu."
__ADS_1
"Kamu nggak bakal bohong sama aku, kan?"
"Iyah Hanna. Kenapa kamu jadi curigaan sama aku, hum?"
"Aku nggak tahu. Tapi, aku ngerasain ada yang beda sama kamu." Hanna menatapnya sendu.
Fauzi tersenyum menyadarinya segera menarik Hanna dalam pelukannya. "Masih marah?"
Hanna mendorongnya pelan, melepaskan diri dari pelukan Fauzi. "Siapa yang marah? Aku nggak marah sama kamu."
"Iyah, deh. Kamu nggak marah," goda Fauzi. Hanna cemberut dan berjalan meninggalkan Fauzi disana. "Mau kemana? Tungguin." Fauzi berusaha menyusuli Hanna tapi Hanna malah berlari dan membuat Fauzi ikut berlari untuk menyusulinya.
...****************...
Kota Hujan pada akhirnya, air hujan turun ke kota. Seseorang mengalami kesulitan dengan sepeda motor yang tidak menyala lebih awal. Karena hujan, dia meneduhkan diri dulu di sebuah rumah orang lain. Orang Bandung asli pindah ke Jakarta dan akhirnya mencarinya di kota hujan ini. Mencari bagian dari keluarganya, yang telah lama menghilang. Tiba-tiba seseorang datang bergegas ke sini untuk berlindung dari hujan. Gadis itu basah kuyup saat membawa belanjaan. Arnold menoleh untuk melihatnya.
Gadis itu mendengarnya, nama Hanna yang membuatnya berbalik ke suara itu. "Kak Arnold?" Arnold tersenyum. Dan gadis itu masih tidak percaya bisa bertemu dengan seniornya Hanna disini. "Kakak kok bisa ada disini? Ah mau ketemu Hanna ya?"
"Bukan. Cuman ada urusan aja disini."
"Ohh gitu," imbuh Gina.
Melihatnya basah, benar-benar basah dikenakan oleh temannya Hanna, Arnold melepas jaketnya untuk diberikan kepada teman Hanna yang belum ia ketahui namanya. Atau mungkin dia sudah tahu, tapi karena lupa ia tidak mengingatnya lagi. "Pake, baju kamu basah."
"Eh? Ng-enggak usah, Kak. Nggak papa," tolak Gina.
__ADS_1
"Pake aja, nanti kamu masuk angin."
Gina awalnya berdiam dan menolaknya tapi pada akhirnya dia menerima bantuan itu. "Makasih." Arnold tersenyum angguk. Hujan masih mengguyur kota. Tidak hanya mereka berdua disini, tapi ada juga beberapa orang yang berteduh ditempat ini.
...****************...
Langit yang cerah pada awalnya sekarang alam tidak berpihak pada mereka untuk pergi ke luar dalam waktu yang lama. Mereka diharuskan berteduh di suatu tempat yaitu halte bus. Tidak menyangka hujan akan menghentikan kami dulu tidak jauh dari sekolah kami, sehingga membuat mereka mengenang masa SMA.
"Sekolah belum libur ya?" Hanna bisa melihat anak sekolah yang masih berada di sekolah tersebut. Hujan masih belum reda. Mereka juga tidak bisa menerobos hujan ini untuk kembali pulang ke rumah.
Fauzi melepas jaketnya dan memakainya pada Hanna. Hanna tiba-tiba berbalik dan menatapnya. "Kamu harus pake jaket biar nggak kedingan."
Perasaan muncul kembali karena perbedaan sikap Fauzan, yang diketahui Hanna. "Sapu tangan?"
Fauzi menatapnya bingung. "Kamu pilek?" Dan Fauzi panik. Mencari saputangan di saku baju dan celananya. Tapi tidak ada. Fauzi jarang membawanya kecuali saudara kembarnya yang selalu membawa sapu tangan kemana-mana. "Aku nggak punya sapu tangan. Euhh.. kita pulang aja gimana? Kita pesen driver online."
"Nggak, nggak usah. Aku cuman tanya doang," sanggah Hanna.
"Ah gitu ya." Kepanikan Fauzi mereda.
Apa benar Fauzan yang ku kenal ini udah berubah?
...🦄🥀☔...
...Bersambung.......
...Cast/ Gambar sebagai Ilustrasi agar memudahkan untuk mendalami karakter....
__ADS_1
...Dukung Author dengan LIKE - HADIAH - VOTE - FAVORIT dan tinggalkan KOMENTAR tentang chapter ini....
...Terima kasih ^^...