Me And Yu : Maevino

Me And Yu : Maevino
Eps. 24 'Me2Yu' Mahasiswa Teknik


__ADS_3

Indonesia


Fakultas Teknik


Di sebuah ruangan khusus arsitektur. Afra baru saja menyelesaikan Ujian Akhir Semester nya yang begitu rumit dan memusingkan. Akhirnya Afra berhasil bukan ujian mengisi soal melainkan seperti praktek.


Gambar sketsa yang telah ia rancang sebaik mungkin telah berhasil dibuat menjadi sebuah bangunan kecil 4D. Dia pun mempresentasikan hasil karyanya itu.


Selesainya.


"Terima kasih."


Prok Prok Prok


Afra bernafas lega menatap lurus pada hasil karyanya.


Dosen itu memeriksa hasil karya dari Afra lebih dekat. Dia hanya mengangguk-angguk senyum.


"Bagus. Bagus, Afra. Bapak sudah yakin, dari awal sketsa yang kamu buat itu akan menjadi lebih sempurna jika dibuat lebih nyata. Seperti ini." Dosen itu memujinya.


Mahasiswa yang lain mendengar pujian itu. Semua bersorak saling mendukung.


PROK PROK PROK


"Terima kasih, Pak." Afra begitu senang.


Dosen itu menepuk Afra bangga lalu ia berjalan pergi memeriksa hasil karya mahasiswa lain.


Terdengar bergumam, "Komposisi yang sempurna."


Afra senang bahwa hasil karyanya dipuji dan diterima baik. Dia tidak sia-sia berkerja keras untuk itu. Dan sangat berterima kasih kepada sosok yang tinggal jauh dari Indonesia. Orang itu memberikan inspirasi kepadanya. Namun jika mengingatnya, itu membuat Afra sendiri malu. Mewujudkan apa yang telah kami bincangkan bersama.


Saat awal tahun Afra memasuki kuliah. Sosok temannya dan sosok laki-laki yang menyatakan cinta kepadanya namun belum ia jawab. Dia, Aji yang berada di Negeri Belanda, mengubungi Afra.


"Nomor siapa ini? Nomor LN?" Afra pun mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."


Mendengar suara itu, Afra langsung terkejut menyadarinya. "Wa-waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Aji?"


"Hallo Afra. Hehe, apa kabar?"

__ADS_1


"Gu.. gue baik. Lo?" Afra terdengar gugup. "Apa kabar?"


"Gue sangat baik dan semakin baik setelah denger suara lo ini."


Afra kembali mendengar gombalan maut Aji. Afra tersenyum kekeh.


Kami mengobrol sangat lama hampir dua jam lamanya. Setiap yang dikatakan Aji membuat Afra mendengarnya begitu nyaman. Dan merasa bahwa dirinya telah kalah. Kalah. Dia sudah mulai mencintai laki-laki dibalik telepon ini.


"Aji, lo bakal dikenai biaya mahal loh. Ini udah kelamaan."


"Tenang aja. Hanya untuk lo, Fra. Gue bisa lakuin ini dan tentunya semuanya."


"Hemm," ejek Afra. "Sombongnya nggak pernah ilang."


"Hahahaha." Aji tertawa. "Eh Fra .."


"Umm?"


"Lo masih inget nggak sama ucapan gue yang di Kebun Teh?"


"Kita sering ke Kebun Teh. Waktu yang mana?"


"Waktu itu loh ... Fra. Hmm hah beres ujian, UN."


"Lo inget nggak apa yang gue ucapin?"


"Nggak."


Terdengar suara nafas Aji yang mendengus. Dan Afra menahan tawanya.


"Yaudah gue ingetin lagi nih. Awas aja lo lupa lagi." Mengancamnya.


"Mmm."


"Gue waktu itu pernah bilang sama lo. Kalau suatu saat nanti gue pengen tinggal di sebuah rumah impian sama pasangan gue nanti."


"Bukan di kandang sapi?"


"Jawaban yang sama yang lo jawab ke gue tiga setengah tahun yang lalu," cicit Aji.


Ketika dirinya sedang serius malah selalu di jawab candaan oleh Afra. Begitu juga sebaliknya.

__ADS_1


"Gue serius Afra ..." lanjut rengekan yang terdengar.


"Iyah iyah. Lanjutin."


"Rumah impian yang nanti gue tempatin sama pasangan gue. Gue rancang rumah impian itu bersama pasangan gue. Dan gue mau lo yang ikut merancangnya, mendesainnya."


"Kenapa gue ikutan? Bukannya itu rumah impian lo sama pasangan lo nanti." Afra tidak peka.


"Karena pasangan itu lo, Fra. Afra Amna. Gadis yang gue cintai."


Afra hening. Meski sebelumnya Aji pernah menyatakan perasaannya itu. Namun, kali ini dibuat kejang jantung. Tak seperti awal.


"Selera kita sama, Fra. Lo pasti tahu apa yang gue pikirin dan gue tahu apa yang lo pikirin. Jika kesamaan kita ini terwujud, itu akan menjadi hal yang luar biasa. Terutama pada maha karya Afra Amna. Gue tunggu hasil karyanya, Fra."


Keluar dari ruangan praktek tadi.


Afra berjalan sendirian.


"Afra..."


Langkahnya terhenti, dia menoleh. Melihat siapa yang memanggilnya. Gilang. Afra berjalan kembali dan Gilang menyesuaikan langkah dengannya.


"Hasil karya lo itu bener-bener keren."


"Eii, hasil karya lo juga dipuji sama Pak Imron," balas Afra tersenyum.


Gilang berseri.


"Gilang, Afra."


Keduanya berhenti menoleh ke belakang. Dosen Pak Imron memanggil.


"Ada apa, Pak?" tanya Afra.


"Bapak sudah membuat keputusan."


"Maksud bapak?"


Afra dan Gilang kebingungan.


"Kalian berdua, akan bapak kirim sebagai perwakilan dari kampus dalam kegiatan Arsitektur dunia yang diadakan di Eropa."

__ADS_1


"APA?" kejut keduanya.


...🌹...


__ADS_2