Me And Yu : Maevino

Me And Yu : Maevino
Eps. 38 'Me2Yu' : Tidak Bisa Diprediksi


__ADS_3

Indonesia


Setelah mencari-cari kontrakan yang murah namun tidak dapat. Meski Fauzi ingin membantu menambahkan uang pembayarannya, tapi Bu Diana menolak. Sebelumnya, mereka mengunjungi makam untuk berziarah ke makam anak pertama dari Bu Diana, yaitu Annisa. Bu Diana begitu tersendu dan terisak, dia terus mengatakan permintaan maaf berharap putrinya itu membalas permintaan maafnya itu. Fauzi yang menemani pun ikut sedih, mengingat kembali bahwa Annisa salah satu korban dari kecelakaan itu, yang Fauzi lihat secara langsung.


Pencarian ditunda. Mereka memutuskan untuk mencarinya lagi di lain hari, karena hari ini sudah begitu gelap.


"Assalamu'alaikum bi..." Fauzi mencium punggung tangannya.


"Waalaikumussalam gimana? Dapet?"


"Belum bi, besok lanjut cari lagi."


"Nanti bibi bantu juga, tanya-tanya temen bibi dimana kontrakan yang murah."


Fauzi tersenyum tak lupa juga dengan Bu Diana.


"Makasih bi."


"Sekarang Nak Uzi, sama ibu makan dulu. Bibi udah siapin..."


"Siap Bi Asih cantik..." ucapnya membuat Bi Asih malu. Fauzi menoleh pada Bu Diana. "Tante makan duluan aja, Fauzi mau mandi dulu."


Bu Diana hanya mengangguk dan tersenyum. Fauzi pun pergi ke kamarnya.


"Ayok bu..." ajak Bi Asih ke meja makan. Selagi Bi Asih menyiapkan dibantu juga oleh Bu Diana, mereka sedikit berbicang-bincang.

__ADS_1


"Bi Asih udah lama tinggal disini?" tanya Bu Diana karena selama dia tinggal di kompleks ini dulu, tidak pernah melihatnya. Keluarga dari Fauzi. Atau mungkin memang dirinya yang tidak pernah keluar bersosialisasi di lingkungan ini, disibukkan dengan pekerjaan.


"Ah, maksudnya sama keluarga Nak Uzi?" Bu Diana pun mengangguk. "Bibi udah lama tinggal disini, kerja sama kakeknya Nak Uzi. Setelah kakeknya meninggal, keluarga Nak Uzi ini semuanya pindah ke rumah ini."


"Oh jadi bukan dari dulu?"


"Iyah bu. Awalnya mah tinggal di Jakarta, pada pindah tuh waktu Nak Uzi... kalau tidak salah, SMP. Heem SMP baru ke sini."


"Em apa mereka tinggal di Jakarta lagi? Saya datang ke sini udah sepi. Saya juga lihat foto mereka yang dipajang itu, Nak Fauzi punya kembaran?"


"Bibi kira Ibu Diana sudah tahu," ucapnya. "Mereka nggak tinggal di Jakarta tapi di Singapura..."


Bu Diana mengangguk-angguk.


"Inalilahi..." kejut Bu Diana yang tidak terduga-duga. Salah sangka dalam apa yang dipikirkan Bu Diana sebelumnya. "Dari kapan, Bi? Kenapa bisa sampai koma?"


"Kecelakaan motor waktu... apa namanya,, bibi lupa, euhh... pesta, pesta di sekolah. Pron naig..." Bi Asih masih memikirkannya.


"Prom night?" sanggah Bu Diana.


"Nah itu pron night..." lontar Bi Asih walaupun cara pengucapannya masih salah. "Aduh bibi mah kasian pisan ka keluarga ieu... utamina ka Nak Fauzan." Tiba-tiba logat Bi Asih lebih sunda. "Naas we."


"Kenapa memang, Bi?"


"Nak Uzan pernah kecelakaan juga sebelum yang ini waktu SMP, itu mah lebih parah pisan." Bi Asih merinding. "Ibu teurang berita yang ramai-ramainya dulu itu? Itu yang ada tawuran sekolah ditambah ada kecelakaan mobil, ngindar truk."

__ADS_1


Seketika Bu Diana pun ketakutan, tangannya gemetar. Apa yang Bi Asih ceritakan itu adalah kecelakaan yang merenggut nyawa anaknya juga.


"Aduh karunya pisan bibi mah, korbanna pada anak sekolahan. Tapi alhamdulilah na, Nak Uzan selamat. Tapi yaa gitu bu, jadi depresi merasa bersalah wae. Pernah kabur oge ti rumah terus.... nahan sakit kepalanya, cedera."


Bibi melihat perubahan kulit wajah Bu Diana yang menjadi pucat, nampak takut. "Eh ibu...." Bi Asih cemas. "Minum dulu bu..."


Fauzi yang sudah selesai mandi, dia pun turun untuk lanjut makan malam. Suasana di sana begitu aneh, Fauzi berlari dengan khawatir.


"Bu Diana... Bi Asih, Bu Diana kenapa?" tanya Fauzi panik.


"Nggak tahu bibi juga. Waktu bibi cerita, ibu Diana jadi ginih."


"Bi Asih cerita apa?"


"Cerita Nak Uzan."


"Bi Asih ceritain semuanya?" panik Fauzi.


"Iii-iyah..." gugup Bi Asih dengan kecemasan.


Fauzi melihat pada tangannya yang dipegang Bu Diana. "Ibu minta maaf." Suara begitu lemah merasa bersalah. "Ibu minta maaf sama kalian, Nak. Nak Fauzi, Fauzan... Ibu minta maaf."


Waktunya Bu Diana tahu semuanya. Ternyata kenyataan yang selalu datang di waktu yang tidak pernah bisa kita prediksikan oleh kita. Fauzi memang tidak menceritakan masalah yang menghadapi Fauzan, karena urusannya berbeda. Hanna lah untuk Bu Diana.


...🦄🥀...

__ADS_1


__ADS_2