Me And Yu : Maevino

Me And Yu : Maevino
Eps. 44 'Me2Yu' : Doa yang Tersampaikan


__ADS_3

Sebuah pesawat mendarat di lapangan Soekarno–Hatta International Airport, Indonesia. Hanna, Aji serta Afra dan Gilang telah kembali dari negara Eropa. Sedangkan Tyo dan Katlyn, mereka masih tinggal di sana. Entah apa yang mereka lakukan disana membuat mereka tidak pulang ke tanah air.


"Gue ke toilet dulu ya," ucap Afra.


"Mau gue anter?" tanya Hanna.


"Nggak usah," balas Afra tersenyum lalu ia pun pergi meninggalkan kopernya disini.


"Han, tunggu dulu di sini ya. Gue juga mau ke toilet dulu," ucap Aji.


Hanna hanya mengangguk, Aji pergi hanya berseling beberapa detik saja dengan Afra.


Suara yang ditimbulkan oleh brankar dan orang yang kepanikan di sekitarnya menimbulkan rasa penasaran pada orang-orang yang melihatnya di bandara udara ini. Langkah Aji dan Afra berhenti sebelum mereka mencapai toilet untuk melihat apa yang terjadi. Kepanikan petugas rumah sakit yang bergegas dengan panik mendorong brankar pasien yang di atasnya terdapat pasien dengan alat bantu pernapasan. Juga suara tangisan yang sepertinya mereka adalah keluarga dari pasien tersebut. Brankar pasien melewati Hanna di depannya, meski jaraknya agak jauh beberapa meter. Mata Hanna dibasuh rasa ingin tahu tentang apa yang terjadi dan mengira pasien itu dalam kondisi kritis. Tidak ada rasa curiga sedikitpun hanya merasa kasihan pada pasien dan keluarganya, tetapi disampaikan doa untuk mereka meski tidak mengenalnya.


Cahaya kecil itu terbang menemukan keberadaan doa yang diucapkan untuknya. Semakin banyak orang memberikan doa, ia mendapatkannya dari setiap orang, cahaya itu telah masuk ke dalam dirinya. Henti jantung mendadak yang di alami pasien tersebut membuat semua orang kepanikan dan cemas. Akhirnya jantung kembali berdetak, semua orang sedikit bernafas lega.


...***...


Pengendara motor vespa biru langit dengan cepat menyusuri jalan, memberikan tatapan sedih dari pengendara.


...***...


Jerman

__ADS_1


Tyo berada di rumah utamanya ditemani oleh Katlyn. Yang terpaksa. Entah sejak kapan mereka menjadi begitu dekat, padahal kesan pertama mereka sering ribut tetapi keributan itu semakin ke sini telah berkurang. Karena sebuah candaan. Katlyn menerima pesan dari ayahnya yang merupakan seorang dokter di sebuah rumah sakit di Indonesia. Mengatakan bahwa Fauzan dan keluarganya telah tiba di Indonesia. Tetapi yang membuat Katlyn merasa khawatir adalah kondisinya malah memburuk. Tyo dan Katlyn mendoakan untuk kesembuhan Fauzan.


...***...


Hanna dan Aji berada di mobil yang sama, ayah Aji sedang mengemudi. Sebenarnya Aji juga ingin menemani Afra mengantarkannya pulang, tapi dia menolak. Bukan Afra kalau tidak keras kepala. Gilang, Aji tidak peduli.


Namun setiap tatapan ayah dan anak yang memandang Hanna tampak curiga, detak jantungnya terdengar gugup. Semoga semuanya baik-baik saja setelah sampainya ke rumah.


Hanna nampaknya begitu senang setelan berlibur dari Eropa. Saling memberikan senyuman dengan Aji, tapi dalam hati Aji ia begitu gugup.


Rumah besar milik keluarga Hannah, gerbangnya terbuka dan mobil kami masuk ke dalam. Kami turun dari mobil, ayah Aji membuka bagasi dan membantu mengeluarkan koper kami. Begitu bersemangatnya Hanna karena sudah merindukan rumah apalagi bermain bersama keponakan kecil yang menggemaskan. Hanna ingin segera menggendongnya. Saat langkah kaki Hanna hendak memasuki rumah, dia terhenti. Ia berusaha menyadari apakah penglihatannya terganggu dan salah melihat orang yang ada di hadapannya, apakah ia sedang delusi.


Semua orang berdiri dari tempat duduk mereka setelah melihat kedatangan Hanna. Semua tatapan mata Hanna seakan menurun, dari ayah, ibu tiri, saudara perempuan tirinya, Bella. Kakak iparnya, Fatur. Lalu ada bunda Aji. Dan satu-satunya orang yang membuatnya kaget hingga membuatnya membeku adalah sosok yang telah dia rindukan. Mamah. Yang sudah lama menghilang, tidak ada kabar. Tapi dia masih tidak bisa menerima kenyataan pahit masa lalu darinya, Hanna masih kecewa. Dia ditinggalkan, tanpa pamit untuk mengatakan sesuatu padanya setelah perceraian dengan ayahnya.


Air mata sudah mengalir membasahi pipinya. Sebaliknya, dia membalik badan dan pergi membuat semua orang cemas kepadanya.


"Hanna..." Semua berlari untuk menyusuli Hanna yang pergi keluar.


"Han...." panggil Aji.


"Susul Hanna," pintanya.


Aji mengangguk. "Yah, Pah."

__ADS_1


"Kamu juga."


"Iyah, Yah," balas Fatur.


"Hiks.. hiks..." Isakan tangis pun terdengar dari ibu kandung Hanna yaitu Diana. Bunda Aji, Kak Bella, lalu dari ibu tiri Hanna mencoba menenangkannya.


Hanna terus berlari tanpa arah. Yang paling penting adalah dia tidak ingin melihatnya lebih dulu. Dia sangat terkejut dengan kemunculan tiba-tiba mamahnya. Dia menyeka air matanya. Suara yang terus memanggilnya dia abaikan. Lari. Dan lari dan. Bunyi klakson begitu keras sehingga Hanna tersentak dan jatuh di tempatnya sekarang. Aji yang melihatnya juga kaget sekaligus khawatir saat Hanna hampir tertabrak motor.


"Hanna."


"Hiks.. Aa-Aji..." Hanna berbicara sambil terisak-isak.


Aji meraih Hanna dalam pelukannya. Mendekap erat untuk memberikan ketenangan pada sosok Hanna yang sudah dianggap sebagai saudara perempuannya.


"Han?" Isak tangis mulai berhenti, tidak ada satupun suara darinya. Saat melihatnya, Hanna sudah pingsan dan membuatnya gelisah "Han?! Hanna... bangun Hanna. Hanna."


"Bang Fatur... Pah.. Om" Panik dari Aji.


"Kita bawa ke rumah sakit."


...🦄🥀...


__ADS_1


__ADS_2