
Zaanse Schans, Belanda
Di suatu tempat dipenuhi dengan pemandangan desa dan kincir angin besar di setiap sudut.
Tiga mahasiswa perantauan di akhir keremajaan mereka masih berusaha memperjuangkan masa lalu SMA bagi semua yang terjadi yang menyebabkan hubungan mereka hancur.
"Gue masih nggak percaya, ternyata lo ..." Fauzi tak mampu meneruskannya.
Selama ini teman yang ia kenal adalah cucu dari keluarga Euginius. Seorang pengusaha beer terkenal di Belanda dan juga anak dari pengusaha taylor di Jerman.
"Waktu kita mau pergi, liat mobilnya juga aku udah yakin dia pasti anak holkay," sindir Katlyn.
"Nama lo yang sekarang apa tadi. Mm .."
"Sven Euginius," jawab Tyo.
"Beda banget sama Tyo Yudianto," kekeh Fauzi.
"Itu kan nama gue di Indonesia pemberian dari nenek."
"Yang lain tahu?" tanya Fauzi tentang identitas temannya ini.
"Yang lain siapa?"
"Temen lo, lah .. Yo."
"Temen di sini atau temen di Indonesia?"
Fauzi menghela nafas.
"Di sini."
"Kalau di sini gue nggak punya temen," jawab Tyo.
Fauzi tak habis pikir kenapa harus bertanya memilih kalau jawabannya seperti itu.
"Yang di Indonesia, temen SMA."
"Mmm kalau itu sih Aji udah tahu, Nasrul sama ... Hanna. Yah, cuman mereka."
Fauzi mengangguk-angguk. "Olla?"
"Dia? Nggak tahu."
"Lah, cewek lo yang paling deket kenapa nggak tahu tentang lo?"
"Adalah."
Fauzi hanya tersenyum.
Sepi.
"Yo..." Tyo menoleh. "Lo seriusan mau bantuin bu Diana?" Fauzi merasa tidak enak kepadanya.
"Lo percaya aja oke. Gue lakuin ini karena lo semua, temen yang gue punya. Nggak ada lagi temen selain lo lo pada. Ah damn! Kenapa gue ngomong kayak gini."
Tyo merasa malu sendiri dengan perkataan isi hatinya itu.
Fauzi dan Katlyn terkekeh. "Hahaha."
"Lo nggak usah khawatir, serahin sama gue soal ini."
Fauzi mengangguk. "Makasih, Yo."
Tyo tersenyum. Meski itu taruhannya gue. Gue sebisa mungkin ngembaliin keaadan kalian itu.
"Ah soal Fauzan, keadaannya sekarang gimana?"
__ADS_1
Katlyn melirik Fauzi dan Fauzi tersenyum kecut.
...****************...
Singapore
Seorang pria tua masuk ke dalam ruangan ini. Melihat istri kesayangan ini nampak kelelahan dan sayu duduk di sebuah sofa membelai rambut putri kecilnya yang tidur lelap. Namun tatapannya menatap putra yang terbaring di kasur rumah sakit yang belum sadarkan diri.
"Mah ..."
"Gimana, Yah?"
"Udah ayah urus semuanya. Tapi, Fauzan nggak bisa langsung dipindahin. Kita harus nunggu dulu untuk pengobatan selanjutnya."
"Fauzi jadi ke sini?" tanyanya.
Dia mengangguk. "Fauzi bakalan ke sini setelah ujian semesternya."
"Mamah udah kangen sama Fauzi, Yah. Mamah juga udah kangen sama anak kembar kita. Kumpul bareng, dan putri kita ini ..." Melihat pada anak bungsunya tersenyum kecut.
Suaminya memegang tangan istrinya itu. Dia tersenyum. "Kita bakalan kumpul lagi. Ayah yakin."
...****************...
Indonesia
Hari terus berganti dalam kehidupan ini. Hidup terus berjalan dengan tujuan yang telah kita rangkai menuju arah yang baik.
Hanna, Mia, Zeki dan Arnold telah berkumpul di suatu tempat yang merupakan salah satu lokasi yang menjadi tempat syuting. Di sini, anak-anak Panti Pelangi ada. Mereka berlarian di atas bukit hijau yang indah, di bawah langit biru dan mereka menjadi warna-warni seperti pelangi mewarnai bumi ini. Mengabadikan setiap momen meski untuk sebuah film, kami sebagaimana menyimpan kenangan ini. Dan sekarang kami semua bermain layang-layang. Awalnya menikmati menjadi berlomba-lomba saling memutuskan layang-layang satu sama lain.
"Ayok ayok ayok ...." Suara semangat juga tepuk tangan terdengar.
Hanna duduk manis bersama gadis kecil Rara yang tengah duduk di pangkuannya. Menyaksikan anak laki-laki yang berlomba. Arnold pun ikut bersaing di sana begitu juga Zeki ditemani oleh Mia dalam satu layangan. Hanna juga memperhatikan dua anak kembar dari Panti Asuhan Pelangi ini, mengingatnya kepada Fauzan dan Fauzi.
"Kak Hanna."
"Kenapa?"
"Yaudah ayok, kak Hanna anterin."
Gadis kecil Rara dan Hanna bangkit dan pergi menuju toilet.
......................
Beruang alias Nano dan Tampan alias Bagus. Mereka berdua berada diposisi yang bersampingan. Nano merasa layang-layang Bagus berada lebih tinggi daripadanya membuat Nano meninggikan layang miliknya. Dia menyeringai saat Bagus menyadarinya.
"Ishs....."
Bagus tidak terima ia pun membalasnya. Meninggikan layang miliknya. Dia pun tersenyum bangga dapat mengalahkannya.
Namun, Nano ikut tidak terima dengan kekalahan juga. Yang akhirnya mereka saling meninggikan layang-layang sampai tali nilon mereka semakin berkurang. Dan.
"Nano, Bagus. Tali nilon kalian mana?" tanya Oliver sang Batu.
Mereka berdua bersamaan melihat pada tangannya yang memegang sebuah tali layang. Namun. Mereka membulat mata lalu melihat pada layang-layang mereka masing-masing.
"Itu layang-layang siapa yang putus?" tanya Mia.
Nano menatap Bagus mengerutkan keningnya.
"Ini gara-gara kamu! Layang-layang aku jadi ilang."
"Ini gara-gara kamu Beruang!"
"Kamu, jelek!"
"Jelek?! Aku tampan."
__ADS_1
"Jelek!"
Bagus menyilangkan tangannya di dada kesal. "Dasar gendut!"
"Aku nggak gendut! Tapi lucu."
"Gendut gendut ... gendut gendut ..."
Nano terlihat kesal diejek oleh Bagus.
Oliver masih terdiam tidak bisa melakukan apa-apa untuk memberhentikannya.
"Nano, Bagus."
Mereka berdua berhenti saling mengejek dan menoleh pada suara yang mereka kenali. Kak Arnold.
"Minta maaf."
"Salah Nano, kamu minta maaf ..." seru Bagus.
"Kamu duluan ..." kata Nano.
"Kalian berdua."
Suara itu membuat kedua anak laki-laki itu terdiam kembali. Bagus mengulurkan tangannya lebih dulu lalu Nano pun menerima uluran dan saling menerima perminta maafan.
"Jangan berantem lagi jangan saling mengejek."
"Iyah, Kak Arnold," jawab kedua anak laki-laki.
"Kalian main layangan punya kakak aja."
Nampak mereka kembali berseri dan berlari mendekat. Arnold memberikannya.
Dia tersenyum.
Menyadari bahwa dua gadis menghilang. Gadis besar dan gadis kecil yang manis dari keduanya. Tidak. Tarik kembali kata manis dari Si gadis besar.
......................
Toilet Umum. Hanna menunggu dibalik bilik kamar kecil ini. Menunggu Rara keluar. Klek. Pintu itu terbuka.
"Udah?"
"Udah." Rara tersenyum cerah.
Hanna menggandeng tangan mungil Rara Si Kelinci.
Berjalan bersama-sama dan tersenyum gembira.
Langkah Rara terhenti.
"Kenapa berhenti?"
"Kak .."
"Hem?"
"Rara mau itu." Ia menunjuk pada penjual es krim.
"Kamu mau?" tanyanya.
Rara mengangguk semangat.
Hanna tersenyum. "Yaudah, kita beli es krim."
"Yeeee asik. Ayo ..."
__ADS_1
...🐻🌹🐨...
...Bersambung ......