Me And Yu : Maevino

Me And Yu : Maevino
Eps. 39 'Me2Yu' : Gelisah dan Gugup


__ADS_3

Jerman


Akhirnya keempat anak diujung remaja ini telah sampai di rumah utama milik keluarga Tyo Yudianto alias Sven Euginius yang terletak di Negara Jerman, Eropa. Rumahnya begitu besar dan mewah, mereka langsung disambut oleh para pelayan di rumah ini.


Salah satu pelayan menunjukkan kamar untuk ditempati oleh Hanna dan Katlyn.


"Ruhe dich aus," katanya sambil membukakkan pintu kamar.


(Selamat beristirahat)


"Dank je," jawab Katlyn yang memahaminya.


(Terima kasih)


Hanna terdiam dan berterima kasih pada bahasa tubuhnya juga.


Mereka menjatuhkan tubuh mereka di kasur. Mereka sedang mengistirahatkan badan yang terasa pegal setelah perjalanan jauh selama 3 jam.


Hanna menoleh ke kanan untuk melihat Katlyn. "Kat, lo sama Tyo satu jurusan?"


"Iyah tapi jarang nerima mata kuliah satu kelas."


Yang sering sekelas sih Tyo sama Fauzi. Lanjut Katlyn dalam hati.


Hanna mengangguk-angguk.


"Kamu sendiri?"


"Kamu?" tanya balik.


"Huh?" Katlyn kebingungan.


"Emm lo biasa pake aku kamu sama orang-orang?"


"Ohh..." Katlyn tertawa. "Hahah iyah kenapa? Aneh yah?"


Hanna ikut tertawa. "Sedikit. Kamu kan orang Jakarta."


"Hahah aku juga nggak tahu. Tapi yaa enak kayak ginih, udah kebiasaan. Jadi, kamu?"


"Aku--"


DERT DERT DERT


Suara dering ponsel Hanna membuat ucapannya terhenti. Hanna bangun untuk mengeceknya.


"Kak Arnold?" Hanna menoleh pada Katlyn yang masih terbaring. "Aku angkat dulu ya."

__ADS_1


Katlyn mengangguk sambil tersenyum dan Hanna berdiri untuk mengangkat telepon.


"Arnold?" gumam Katlyn.


Hanna berdiri di depan jendela sambil menelpon.


📞


"Kak Arnold ngapain nelepon Hanna?" cicitnya.


"Nggak assalamu'alaikum nggak apa maen emosi aja," kilah dibalik ponsel ini, Arnold.


"Bukan emosi, Kak. Cuman nadanya aja," kekeh Hanna.


Terdengar Arnold berdisis di sana. Arnold masih diam. Ada keheningan di balik telepon ini.


"Kak Arnold?" teriak Hanna.


"I-iyah..?"


"Kenapa malah diem? Jadi ada apa Kak Arnold nelepon Hanna? Hanna kan lagi di--"


"Soal lomba iya soal lomba..."


"Kenapa sama lomba? Bukannya kita tinggal nunggu pengumuman aja, kan."


Hanna terdengar kesal. "Lah terus ngapain nelepon? Ganggu aja, ih."


"Gue lupa mau bahas apaan, boneka!" resah Arnold.


"Ih dasar senior nggak jelas! Dasar Koala! Bhay!"


Hanna segera mematikan telepon dari Arnold dalam suasana yang kesal. Dia yang menelepon tapi tidak ada yang dibahas. Tidak jelas. Dekat juga tidak. Terutama saat melakukan panggilan kecuali mendiskusikan lomba.


...***...


Indonesia


Tut Tut Tut Tut


"Aish!" desis Arnold karena junior nya itu mematikan telepon dengan tiba-tiba.


"Makin berani aja tuh anak. Dasar boneka!"


"Dia bilang apa? Koala? Huh.. Koala... Koala bagus, nggak jelek-jelek amat. Tapi kalau dia yang bilang nyebelin amat."


"Kak Arnold... Kak Arnold..." Suara gadis kecil berlari ke arahnya. "Kak Hanna nya mana? Udah diangkat belum?"

__ADS_1


Arnold mengusap rambut gadis kecil itu. "Kak Hanna nya lagi sibuk."


"Yaaahh kan Rara kangen sama Kak Hanna," rengeknya.


"Nanti Kak Arnold telepon lagi kalau kak Hanna nya udah nggak sibuk, yah?" bujuknya.


Rara tersenyum angguk. "Jangan lupa yah, Kak."


"Iyah..." Arnold tersenyum pada adiknya itu.


Kenapa gue tadi gugup nelepon Hanna. Padahal mau ngasih tahu, Rara kangen sama dia. Tapi kenapa gue jadi bahas lomba... Aihh dasar Arnold, lo kenapa sih? Malu-maluin. Dalam hati Arnold yang tengah memarahi dirinya sendiri.


...***...


"Kenapa Han?" tanya Katlyn melihat kedatangan Hanna mengerutkan keningnya yang nampak kesal.


"Seniorku nelepon. Tapi nggak jelas."


"Senior apa senior....." godanya.


Hanna memberikan tatapan tak suka membuat Katlyn jadi tertawa.


"Hahahah iyah iyah deh..."


......................


Tyo dan Aji berada di kamar yang tidak jauh dari kamar Hanna dan Katlyn. Tyo terbaring lelah di kasur, sedangkan Aji yang sedari tadi terlihat gelisah dengan ponselnya. Seperti menunggu pesan atau menunggu telepon dari seseorang.


"Fraaaa kenapa nggak dibales pesan gue? Di telepon nggak di angkat juga lagih," kesal Aji.


"Ji... lo berisik. Gue mau tidur, capek nih." Suara serak dari Tyo yang benar-benar lelah.


Tapi Aji masa bodo. Suara hentakan kaki suara desisnya membuat Tyo geram.


"AJI!!" teriak Tyo.


"APA?!" dibalas dengan teriakan juga.


"Diem. Nggak usah berisik. Nanti juga kita ketemu sama Afra..." lirihnya.


"Tapi gue kesel, kenapa chat gue nggak dibales-bales..."


"Mungkin Si Afra sibuk sama kegiatannya. Dia juga ke sini kan bukan liburan kayak Hanna. Lo nggak usah ganggu dia dulu, kalau dia risih sama lo gimana? Huh? Lo mau apa? Gulang-guling nangis nanti....." ejek Tyo.


Aji diam, Tyo ada benarnya juga. Tapi perasaan Aji tidak tenang. Baru kali ini pesannya diabaikan selama ini. Dan yang ditakutkan Aji adalah Afra benar-benar tidak menyukainya. Hancur sudah penantian selama ini.


...🐻🌹🐨...

__ADS_1


__ADS_2