Me And Yu : Maevino

Me And Yu : Maevino
Eps. 64 'Me2Yu' : Maevino


__ADS_3

Tiga hari telah berlalu dimana Hanna telah menerima semua kenangan buruknya, apa yang terjadi padanya dia terima dengan tulus. Sekarang dia sadar, hidup di masa lalu yang kelam tidak akan pernah berakhir, dia tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan. Obat, terapi ia benar-benar sudah terlepas dari itu semua. Hanna sudah kembali dan akan memulai lembaran baru lagi dengan perasaan yang tulus tidak ada penyesalan. Meski masih sedikit ia rasakan ketika ia melihat saudara kembar ini, Maevino.


Fauzan yang terbaring koma dan Fauzi yang berusaha untuk mengembalikan kebahagiaan semua orang. Hanna sangat bersyukur mereka hadir dalam kehidupannya walaupun dalam ikatan awal yang saling menyakitkan. Tapi ini bukanlah akhir dari cerita mereka. Aku dan kamu akan terus berjalan dalam memori masa lalu dan sekarang. Berharap bahwa Fauzan dapat terbangun dari komanya dan bisa berbahagia bersama-sama. Apa itu pasti? Kami hanya bisa berdoa.


"Kamu berharap aku tidak membenci hujan pada malam itu, kan? Harapan kamu terkabul. Semuanya. Semua yang kamu harapkan, Fauzan. Aku sudah kembali mendapat kebahagiaan ku karena kamu, dan juga Fauzi. Aku sudah berdamai dengan masa lalu."


Hanna tersenyum sendu sekaligus bahagia.


"Tapi, biarkan kali ini aku yang berharap untukmu. Aku mau kamu bangun, aku mau melihat senyum mu yang terpaksa itu." Hanna berseri. "Bolehkah?" Berharap.


"Aku ingin menjadi hujan yang selalu kau rindukan dan menjadi payung untukmu berteduh." Hanna mengucapkan kalimat yang dikatakan Fauzan dulu yang selalu teringat olehnya. "Kamu ingat? Kamu mengatakan itu untuk mengungkapkan perasaan mu sama aku. Aku sangat senang."


Menghapus air mata. Mencium hidungnya perlahan menutup mata mencoba untuk melepaskan kerinduan padanya. Mengingat kejadian dulu yang tidak sengaja bahwa dirinya melakukan hal yang sama seperti itu. Terjatuh di atasnya, membuat bibirnya menyentuh hidung milik Hujan ini.


Biarkan aku egois untukmu. Aku minta maaf.


Melepaskan. Hanna tersenyum padanya meskipun dia tidak akan bisa melihat kembali padanya. Akan berbalik, dia menemukan sosok yang berjuang di luar menatapnya dan kemudian pergi begitu saja. Dengan cepat Hanna segera keluar untuk menemuinya, melepaskan pakaian rumah sakit ini.


"Fauzi..."


Nama yang disebut itu akhirnya berhenti. Hanna segera menemuinya, Fauzi berbalik. Sekarang mereka bisa melihat satu sama lain.


"Kamu kemana aja? Kenapa baru ke sini?" Hanna terheran karena setelah kejadian itu, Fauzi tidak pernah terlihat lagi. "Kamu ngindarin aku?" Hanna kembali bertanya.


"Tugasku sudah selesai disini. Aku harus pergi." Fauzi membalik tubuhnya untuk pergi.

__ADS_1


"Jahat," lontar Hanna. Fauzi masih diam, dia mendengar kata itu. "Kamu mau ninggalin aku padahal kita belum putus."


Diam. Masih mencerna. Fauzi tertegun membalik badannya lagi untuk melihat Hanna dibelakangnya.


"Aku masih pacar kamu, kan?" harap Hanna tersenyum.


Apa dia tidak salah bicara?


"Pacar kamu ada dibalik ruangan itu," tawar Fauzi.


"Bukan," tolak Hanna. "Pacar aku yah kamu."


Senang mendengarnya tapi tidakkah ini berpura-pura?


"Kamu nggak cinta sama aku, Han."


"Aku kembali buat kamu Fauzi."


Apa yang diucapkan Hanna membuat hati Fauzi merasa tenang dan bahagia. Terukir senyuman darinya, perlahan melepaskan pelukan itu. Hanna memandanginya heran. Tangan itu meraih kepala Hanna untuk mendekat padanya, Hanna memejamkan mata dirasa bahwa Fauzi akan mendaratkan bibir pada keningnya. Chu. Hanna mendapat kecupan di kening. Kembali terukir senyuman dari keduanya. Menerima dan melepaskan untuk orang yang dicintai.


"Ehekmm..."


Suara itu menyadarkan mereka.


"Ini rumah sakit kalau mau mesra-mesraan jangan disini," sindir Aji.

__ADS_1


Mereka hanya tersenyum mendapat sindiran dari Aji. Aji datang bersama Afra yang ikut tersenyum bahagia bisa melihat Hanna seperti ini.


Sekarang hanya ada Hanna dan Afra disini. Aji dan Fauzi, mereka berdua sedang membeli minuman untuk kami.


"Han."


"Yah?"


Senyum. Sama sekali tidak menunjukkan bebannya.


"Lo seriusan sama Fauzi?" pungkasnya.


Hanna angguk.


"Bukan karena lo merasa nggak enak sama dia?" tebaknya.


Senyum itu menurun tapi dengan cepatnya dia tersenyum kembali. "Ahaaha lo ngomong apa sih, Fra? Gue serius kok suka sama Fauzi."


Afra menyandarkan punggung ketika duduk. "Karena Fauzi berkorban banyak sama lo dan Fauzan, bukan berarti lo harus menyerahkan hati lo sama dia."


Hanna malah tertawa mendengar ucapan Afra tersebut. "Hahaha Afra omongan lo udah ngawur. Gue serius kok, atau kalau lo belum percaya juga gue kasih duarius, hum?"


Afra hanya tersenyum tipis untuk menanggapi. Afra sangat tahu sahabatnya itu. Meski dia mengatakannya begitu serius, tapi hatinya menutupi sesuatu.


Gue cuman bisa berharap buat lo, Hanna. Semoga lo bisa bahagia sekarang. Dengannya, dengan dia, keduanya ataupun tanpa keduanya. Gue mau sahabat gue bahagia.

__ADS_1


...🌹...


__ADS_2