
HAPPY READING!!
.
.
.
Indonesia ~
Kembali lagi dalam pertemuan Hanna bersama teman-teman SMA-nya. Mereka tengah asik mengobrol di sebuah kafe.
Mereka mengenang masa sekolah mereka dan tertawa terbahak mengingat hal yang lucu.
"HAHAHAHAHAHAHAH ....."
"Gue agak kesel waktu itu. Gue dikerjain sama pak Raja, dan gue baru sadar dikasih tahu sama mang satpam kalau kelas 12 udah bebas masuk keluar sekolah," terang Hanna. Yang menghukum adalah pak Raja alias ayah dari Nasrul yang menjadi guru dan mengajar di sekolahannya dulu.
"Hahaha gue lihat pas lo dihukum itu .." kekeh Nasrul.
"Sayang gue nggak lihat waktu itu. Kita lagi dimana yah?" tanya Oni.
"Emmm... kalau nggak salah sih kita lagi di kelas, kan?" tebak Gina.
Afra menganguk-angguk perlahan.
Oni pun malah mengingat kejadian saat dimana Tyo mengerjai dirinya dengan mendekatkan wajah padanya. Oni segera menghapus ingatan itu.
"Hahahahah ..."
"Ini ini lebih seru," kata Gina.
"Apa? Apa?"
Mereka penasaran tentang hal yang lucu yang dimaksud oleh Gina.
"Waktu itu... karena kita nganggurin Oni, dia malah berulah sama Tyo. Mereka berdua ngerjain si Aji kan? Sepatunya diambil."
"Gue inget gue inget.... sampe rame seisi sekolah," terang Hanna.
Gina mengangguk dan Oni malah tersenyum-senyum.
"Malah dijadiin saimbara sama si Aji, balik ngerjain," jelas Nasrul.
"Hahaha bener tuh. Eh fotonya masih ada nggak sih?" tanya Gina.
"Ada, gue masih nyimpen kayanya," jawab Hanna. "Videonya juga kayaknya masih ada di HP gue."
Hanna pun mengecek ponselnya dan mencari foto dimana Oni dan Tyo itu mendapat balasan dari kejahilannya dari Aji yaitu mereka berdua dikerumuni oleh murid-murid yang menginginkan traktiran yang diharuskan mencorat-coret wajah Oni dan Tyo terlebih dahulu.
Hanna pun mendapatkan foto tersebut. "Nih .. nih .."
Semua melihat video Oni dan Tyo dan mereka tertawa habis-habisan mengolok Oni yang ada disini.
Oni pasrah. "Itu momen yang buruk buat gue. Mereka nggak habis fikir corat-coret pake spidol permanen kan jadinya susah dihapus."
"Ahahah makanya jangan jahil," sahut Afra.
"Kalau nggak jahil kan nggak seru," cicit Oni.
Afra menggeleng mendengar hal itu.
__ADS_1
"Gimana kalau videocall si Aji?" saran Nasrul.
Afra langsung tersentak bahwa mereka akan menghubungi Aji.
"Boleh tuh, gue masih ada pulsa LN buat hubungi Aji atau ..." Tatapan Hanna melirik pada Afra. "Atau lo aja yang mau hubungi?"
Afra mencoba tidak salah tingkah. Tapi, "Hah? Gue? Kenapa jadi ke gue?"
Mereka semua tertawa melihat reaksi dari temannya itu, Afra.
"Sok sok'an. Pura-pura nggak tahu," sindir Oni.
"Yaudah gue aja." Hanna pun akan menghubungi Aji yang berada di Belanda.
Belanda ~
Di sebuah apartemen yang Aji tinggali. Aji tengah mengerjakan skripsinya. Namun disana Aji tidak hanya sendirian. Melainkan.
"Mas Aji ini gimana? Kalau misalkan aku nggak pake ini?"
Aji menoleh melihat data yang ada di laptop milik Yolanda. "Ah itu kalau kata gue sih nggak usah pake. Soalnya nggak terlalu penting sama yang dibahas di bab ini kan?"
Yolanda berpikir dulu. "Emm ....." Yolanda pun tersenyum. "Bener! Mas Aji pinter banget sih..."
Aji mulai kembali efeil jika Yolanda sudah mencoba mengimut-imutkan suaranya kembali. Aji akhirnya menerima dengan sangat terpaksa mengerjakan skripsi bersama dengannya.
Karena saat mereka berdua bertemu dengan dosen pembimbing skripsi mereka yang sama. Dosen tersebut mengabulkan permintaan Yolanda yang saat itu berbicara tentang kesulitan dalam skripsinya dan meminta agar Aji membantu karena tema skripsi mereka saling berhubungan.
DERT .. DERT ..DERT ..
Aji melirik pada ponselnya yang bergetar. "Hanna?"
Aji pun menerima videocall tersebut.
📱 Videocall Indonesia - Belanda
Aji sangat terkejut dengan suara yang ternyata bukan suara Hanna melainkan Si bocil Oni.
"Eh bocil lo ngapain teriak-teriak? Gendang telinga gue jadi rusak," adunya. "Mana Hanna?"
Yolanda tengah mengetik sembari melirik-lirik Aji yang tengah videocall. Dia penasaran.
Oni memberikan ponsel pada Hanna. "Baik, Ji?"
Aji tersenyum. "Baik, Han. Kalian barengan? Lo yang ke Bogor atau mereka yang...."
Aji terpikirkan Afra saat ini.
"Gue yang ke Bogor. Disana udah siang kan?"
"Oh, heem disini siang."
Hanna pun mengarahkan ponselnya pada teman-teman yang lain.
"Hallo Aji."
"Hai Gina .. Apa kabar dengan pasien binatangnya?" canda Aji.
Gina malah tertawa. Ponsel pun mengarahkan pada Nasrul.
Aji terkejut kembali ternyata ada temannya Nasrul. "Weii Nasrul apa kabar? Woahh udah lama nggak ngobrol nih. Ehm sok sibuk dokter jiwa.."
"Dokter jiwa...." cibir Nasrul.
__ADS_1
"Hahaha dasar dokter cinta..." canda Aji lagi.
"Rambut itu kenapa? Jadi kayak lampu bohlam," ejek Nasrul.
Aji tersenyum dan memainkan rambutnya. Karena rambut Aji berwarna pirang. "Gue coba-coba aja sih disuruh sama Tyo juga."
"Oh Si Tyo gimana?" tanya Nasrul.
"Yah gitu mondar-mandir ngintilin gue mulu nggak punya temen."
Nasrul tertawa. "Hahahah."
"Oni," panggil Aji. "On, Si Tyo galau mulu tuh. Lo kapan mau nerima dia?"
"Mau nerima gimana? Dia nya juga asik-asik aja tuh sama bule bohay disana," decit Oni sebal.
Mereka hanya tersenyum dan tertawa kecil.
"Eh gue lupa. Nih, ada sosok cewek yang lo cinta," goda Nasrul mengarah ponselnya pada Afra.
Yolanda disana mendengar hal itu dan membulatkan matanya. Siapa?
Dan Afra pun mengerutkan keningnya dan menatap Nasrul tajam.
Ponsel pun sudah memunculkan Afra. Dia sedikit ragu dan malu walaupun dia dan Aji terkadang mengirim pesan satu sama lain lewat email.
"Hai Afra."
Afra tersenyum. "Hai."
Mereka yang melihat situasi tersebut menahan tawa mereka.
Afra pun memberanikan untuk bertanya lebih dulu. "Lo lagi ngapain?"
"Gue lagi ngerjain skripsi gue." Aji pun memperlihatkan keadaan kamarnya.
Memperlihatkan pekerjaan skripsinya pada Afra. Tanpa sengaja rekaman itu menunjukkan Yollanda yang hanya muncul sedikit.
Namun ternyata Afra melihat sosok tersebut. "Itu siapa Ji?"
"Hah?"
"Lagi sama siapa?" tanyanya lagi.
Mereka yang ada disini ikut bertanya-tanya dengan apa yang dikatakan oleh Afra.
Aji malah gugup. "I-tu ... gue ... lagi .." Aji takut jika Afra akan salah paham.
Afra masih menunggu.
"Ngerjain skripsi bareng sama temen gue, yah."
"Cewek ya?"
"Em iyah. Yollanda."
"Oh Yollanda," jawab Afra singkat dan tersenyum miring.
"I-yah."
"Gue kasih ke Hanna lagi yah." Ia pun memberikan ponsel kembali pada Hanna.
Hanna merasakan ada yang aneh dengan Afra. Semua menyadarinya.
__ADS_1
Walaupun dirinya tahu tentang Yolanda karena Aji maupun Hanna pernah bercerita tentang temannya itu, Yolanda yang selalu mengikutinya kemana-mana. Perasaannya mulai cemburu.
...🐻🌹🐨...