
Berlanjut ...
.
.
.
Zaanse Schans, Belanda.
Aji tiba di suatu tempat untuk bertemu seseorang.
"Kenapa mereka ngajak ketemuan di sini, sih? Jauh."
Pandangannya menemukan orang-orang yang tengah ia cari. Mereka sudah terlihat disana, Aji langsung menghampiri.
Langkah demi langkah mendekati mereka. Namun arahnya pada satu orang.
Bugh!
"Aji! Lo apa-apaan?!" bentak Tyo karena dengan tiba-tiba Aji memukul wajah Fauzi.
"Fauzi, kamu nggak papa?" tanya Katlyn cemas.
Fauzi hanya mengangguk menahan ngilu di bagian bibirnya.
"Itu pukulan pertama dan terakhir buat lo. Karena udah buat gue jadi orang yang bodoh selama ini," hardik Aji kepada Fauzi.
Dan.
Bugh!
Tyo dan Katlyn terkejut.
Aji mendapat pukulan balik dari Fauzi. Dia memegang wajah yang terasa sakit karena pukulannya.
"Itu pukulan pertama dari gue karena lo adalah manusia terbodoh yang pernah gue kenal," pekik Fauzi membuat Aji mengitari matanya tapi dia menyadari bahwa dia telah bodoh selama ini.
Bugh!
"Fauzi!"
Aji mendapatkan pukulan kembali.
"Itu adalah pukulan terakhir, untuk mewakili saudara kembar gue, Fauzan."
Awalnya Aji sedikit emosi karena mendapatkan dua pukulan. Tapi ia urungkan kembali mendengar alasan ia mendapatkan pukulan, karena nama itu diucapkan. Fauzan.
"Hei! Emangnya lo lo pada Mike Tyson vs Roy Jones, huh?! Yang lagi tanding di atas ring. Dasar bocah-bocah nakal." Tyo mendegungkan kepala Aji lalu Fauzi secara bergantian.
Aji mengerutkan keningnya kesal, dia membalasnya. "Dasar bule kampung." Mencoba untuk menjahili Bulyo sahabatnya ini.
"Aish! Yaa! Yaak! Lepas nggak! Anjir!" dengus Tyo.
Suasana yang menegangkan menjadi lelucon dan sebaliknya lelucon menjadi sesuatu yang menegangkan.
"Ieww. Orang-orang gila."
Ketlyn. Dia bertanya-tanya apakah cara perdamaian antara laki-laki seperti ini? Bermain fisik membuat saling menyakiti pada tubuh mereka.
"Upin, bule sok ganteng, dan bocah bohlam."
__ADS_1
Tiba-tiba ketiga pria itu segera menoleh ke suara Katlyn dengan tatapan heran dan terkejut, memanggilnya dengan nama yang aneh. Dia menyebut Fauzi Upin meski rambutnya tebal, tidak sehelai pun, lalu dia menyebut Tyo bule yang sok kegantengan padahal dia tampan, dan terakhir Aji dipanggil bocah bohlam? Apa apaan?!
Katyln mendorong perlahan pada ketiga pria itu untuk duduk manis.
"Nah gini kan enak. Lebih baik kalian bicarain dengan tenang dan santai. Fauzi, kamu jelasin semua sama dia, biar dia nggak salah paham lagi. Dan kamu, Aji. Selagi Fauzi jelasin semua, kamu dengerin baik-baik tanpa emosi."
"... Dan terakhir." Ketlyn menatap pada Tyo. "Kamu harus jadi penengah bukannya jadi memperkeruh keadaan."
Tyo hanya mendengus acuh.
"So guys, selesaikan masalah kalian itu. Aku bakalan tunggu di sana."
Tanpa ketiga pria itu belum sempat membuka mulut mereka untuk menjawab, Katlyn sudah pergi saja.
"Sesi kedua mulai!" teriak Tyo.
...****************...
Frankfurt, Jerman
"Bang. Ini seriusan cuman satu kamar?" tanya Afra sedikit gelisah kepada mentornya itu Dimas.
Dimas menganguk. "Satu universitas satu kamar."
Afra menghela nafas tidak terima. Meski.
"Yang penting kan kasurnya ada dua," lanjut Dimas kembali.
"Tapi kan,, hufht ..." Afra tidak bisa berkata-kata lagi karena dia bukan siapa-siapa.
"Gue tahu yang lo pikirin," cetusnya. "Gilang ..."
"Yah, Bang?" Dengan sigap Gilang langsung menjawab.
"Ii-yah, Bang. Masak gue macem-macem sama dia." Melirik pada Afra. "Dia kan cowok, Bang."
"Lo bilang apa?!" geram Afra menatap tajam pada temannya itu.
Gilang malah cengegesan. "Ampun Bang Jago."
Dimas tersenyum menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah mereka. "Yaudah, kalau gitu kalian istirahat. Kalau butuh apa-apa lo hubungi gue atau nggak gue ada di kamar 126."
"Bang, kalau boleh gue tidur di kamar lo aja. Takutnya ni anak nggak nyaman," harap Gilang.
"Sebetulnya gue juga pengennya gitu. Lo tidur di kamar gue. Tapi gue nggak bisa, gue satu kamar sama mentor dari negara lain. Coba kalian bayangin, gue satu kamar dua kasur buat empat orang."
Afra dan Gilang terkejut.
"Kalau anak-anak berasal dari luar sana, mereka pasti berbagi kamar dan mengerti. Tapi gue tahu, kita kan dari Indonesia, mereka pikir mungkin sama dengan di negara lain. Jadi sorry nih gue nggak bisa bantu. Lo maen aman aja yah," lanjutnya.
Gilang mengangguk.
"Maen aman apa, Bang?" sungut Afra meninggi.
"Ma-maksud gue jangan macem-macem," cetus Dimas membenarkan kata-katanya. "Yaudah gue balik dulu ke kamar. See you at dinner tonight, guys."
Pintu tertutup.
Afra berjalan lebih dulu sambil menarik kopernya dari belakang diikuti oleh Gilang.
"Mm, Fra. Kalau lo nggak nyaman gue tidur di luar aja."
"Di luar dimana? Kolong jembatan?" decit Afra. "Atau nyewa penginapan baru? Lo bawa duit banyak?"
__ADS_1
"Kalau itu sih, nggak. Heheh."
"Yaudah di sini aja. Dua kasur ini."
"Seriusan nih?" Gilang bertanya lagi untuk meyakinkan.
"Tapi kalau lo macem-macem, gue bunuh lo di sini juga," timpal Afra serius sampai bulu kuduk Gilang merinding.
"Emangnya gue laki-laki apaan, laki-laki nackal?" balas Gilang dengan suara centil seperti ciwi-ciwi.
"Banci," seru Afra terkekeh.
Gilang tertawa melihatnya.
Afra duduk di tepi kasur sambil membuang nafas merasakan rehat sejenak.
"Fra ..."
"Hem?"
Suara yang memanggilnya itu tidak terdengar lagi.
"Kenapa?" Afra menoleh ke sisi kanannya.
"Huh? Nggak. Nggak jadi hehe."
Afra menghela nafas kesal.
...****************...
Kenyataan yang benar-benar membuat dirinya merasa bersalah. Bersalah seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa dan menuduhnya tanpa alasan yang nyata. Bodoh sekali. Penjelasan masalah dari awal sampai akhir, Aji sudah memahaminya. Kesalahan Fauzan tidak sepenuhnya kesalahannya.
Fauzan dan Hanna. Mereka berdua sama-sama menerima cobaan dari apa yang mereka dapatkan dari kecelakaan yang lalu. Bukan Hanna saja yang menderita. Tapi juga Fauzan menderita karena hal itu. Hidupnya di penuhi dengan rasa bersalah baik itu dia menanggung rasa bersalah dari teman-temannya yang terlibat dari kejadian itu. Tertekan dan menahan rasa sakit akibat penyakit yang dideritanya akibat kecelakaan tersebut hingga kecelakaan baru yang menimpanya mengalami koma. Dalam keadaannya yang seperti itu, dia masih memikirkan orang lain. Ingin mengembalikan kebahagiaan orang lain.
Jika dirinya ada di posisi dia. Mungkin Aji sendiri tidak akan sanggup untuk menerimanya. Aji sudah salah besar.
Fauzi, Aji, Tyo dan Katlyn. Mereka berdiri menatap di depan rumah seseorang.
Fauzi mengetuk pintu rumah tersebut. Tok Tok Tok.
"Wie is dit?" Wanita tua di balik pintu itu terbuka. "Eh ada kalian ..."
Tatapan Aji tidak berkedip sama sekali melihat sosok wanita itu. Perasaannya tidak bisa diartikan.
"Ini ... siapa?" tanya sosok wanita itu merujuk pada Aji.
"Tante ... ini Aji," balasnya dengan jantung yang berdegup.
Bu Diana menatapnya dalam. Perasaannya begitu ...
"Aji teman kecil anak saya Hanna? Putra Pak Sastra?"
Aji mengangguk pelan. Ekspresinya menahan kesenduan melihat sosok ibu Hanna yang sudah lama menghilang. Sangat lama.
Bu Diana pun menahan kesenduan di balik itu. Perlahan air matanya menetes mengingat anak lelaki yang dulu dikenalnya masih kecil dan sekarang sudah beranjak dewasa. Sahabat dari anaknya sendiri.
.
.
.
🦄🥀
__ADS_1
Bersambung ...