
Satu minggu sudah berlalu dari selesainya Ujian Akhir Semester. Dan hari ini kami benar-benar bersemangat menyambut hari libur panjang semester kami.
Semuanya telah berkumpul di sebuah Taman Impian tempat rekreasi yaitu Dunia Fantasi - Ancol (Dufan).
"Hanna ..."
"Afra ...."
Teriakan mereka berlari mengarah pada kami. Mereka, Gina dan Oni segera memeluk Hanna. Namun, saat hendak memeluk temannya yang lain, Afra. Dia menghentikan kami dengan tangannya menolak untuk dipeluk.
"Ish dasar es," gerutu Oni pada Afra.
"Salju," lirih Hanna membenarkan.
"Es batu, Han," kata Oni tidak mau disalahkan.
Hanna hanya tersenyum-senyum.
Teman SMA yang dipenuhi dengan drama dipertemukan untuk bermain bersama sebelum Hanna pergi ke Belanda beberapa hari untuk menghadari kelulusan Aji. Dan terkejutnya bahwa Afra memberi kabar pada kami, dirinya pun akan pergi ke Eropa. Lebih tepatnya ke Jerman untuk mewakili sebagai mahasiswa arsitektur menghadiri kegiatan arsitektur dunia yang diadakan di Eropa.
Kami benar-benar bangga terhadap sahabat kami ini. Ternyata dia pintar juga. Bukan. Dia sangat bekerja keras dan berusaha mencapai impian seperti ayahnya dulu sebagai arsitektur.
Namun bukan hanya ada Gina, Oni, Afra, Hanna dan Nasrul. Nyatanya Afra membawa temannya yang bernama Gilang. Tentu saja Afra tidak mengajaknya tapi temannya itu bersih keras ingin ikut. Dan Afra pun menyerah.
"Eh?" Oni mendapatkan sosok pria bersama keduanya temannya itu. "Siapa?"
Afra memberi kode kepada teman laki-lakinya itu.
"Oh gue Gilang temen Afra. Satu jurusan."
"Ohh ini yang namanya Gilang," ucap Oni penuh arti melirik ke arah Afra. "Gue Olla panggil aja Oni."
"Gue Gina."
Gilang mengangguk senyum.
Oni berjalan lebih mendekat pada sisi Afra dan berbisik. "Gue kasih restu kalau lo jadian sama dia."
Dugh!
"Awww! Yaa Afra?!" sungut Oni.
"Kenapa?" Afra acuh tanpa dosa sudah menginjak kaki Oni.
"Ish awas ya lo!"
"Baru ketemu udah ribut ajah kalian ini,"
sindir Gina.
"Kata kalian Nasrul ikut juga. Mana?" tanya Hanna.
"Oh tadi Nasrul ke kamar kecil dulu sama ..." Sambil mencari-cari yang ternyata sudah nampak. "Nah itu dia."
Oni dan Afra masih bertengkar di sini.
"Hanna .. Hai Af-Afra?" sapanya Nasrul. Suaranya merendah melihat temannya ini sudah bertengkar saja.
Afra mendorong tubuh kecil Oni sampai terpental. Afra tersenyum menyambut sapaan Nasrul. Oni mengerutkan keningnya kesal sebelum emosinya meledak.
__ADS_1
"Oni." Tangannya diraih oleh Gina.
"Hem," deham malas. Oni pun terdiam.
"Kalian bawa temen juga?" tanyanya Hanna melihat orang asing yang belum ia kenal.
"Ahh Hanna. Dia Husein temen gue," papar Gina. Husein menyambut dengan sopan. "Tapi, bukan gue yang ajak. Malah tuh bocil ..." lanjutnya melirik pada Oni.
Oni cengegesan.
Dan itu membuat kami terkejut apalagi untuk Gina. Husein teman se-jurusannya itu ikut bersamanya.
Gina bertanya-tanya sejak kapan mereka dekat sampai Oni mengajak Husein dengan gampangnya. Gina pun tidak tahu akan hal itu.
"Maaf nih, gue jadi ikut main sama kalian."
"Ngga--" Baru saja Hanna akan menjawab.
Oni mencerocos.
"Nggak papa-papa kok. Tenang aja, temen-temen aku tuh pada baik. Nggak bakalan gigit."
Husein tersenyum melihat tingkahnya.
"Kita emang nggak gigit. Tapi, dia ..." Dengan santainya meledek Oni kembali.
Afra membuka peperangan kembali. Dia mendapatkan tatapan tajam dari Oni. Namun untuk Afra ini sangat menyenangkan. Teman mainannya telah kembali lagi.
"Ah lebih baik kita masuk sekarang. Ayok!" ajak Hanna mencegah peperangan kedua antara Afra dan Oni.
Akhirnya mereka pun masuk ke dalam untuk memulainya.
Satu per satu, dari wahana santai tersebut, selanjutnya kami menuju wahana yang memacu adrenalin kami. Tidak lelah tapi sangat bersemangat. Sampai-sampai kami tidak ingin ada wahana yang terlewat.
"Yah Fra?"
"Senior lo kenapa nggak di ajak?" goda Afra.
Hanna menatap datar padanya.
"Biasa aja kali," ucap Afra segera merangkulnya. "Gue bercanda. Tapi, kalau beneran juga nggak papa sih."
Bugh!
"Aww!" rintih Afra mendapatkan tonjokkan di perutnya. "Tenaga lo makin kuat," lanjutnya sambil memegang perutnya yang ditonjok itu.
Hanna mengangkat tangannya yang mengepal lalu mengangkat kepalanya angkuh untuk menyombongkan diri. "Hem. Hanna dilawan."
Lalu Hanna pun pergi.
Afra tertawa kecil lalu menyusulinya dan tersenyum bahagia bersama-sama.
Mengingat kembali saat itu.
Sapu tangan sama ...
"Ini."
Permen. Lanjut batin Hanna berbicara.
__ADS_1
Hanna segera menjernihkan kembali pikirannya. Untuk melupakannya. Mengapa akhir-akhir ini bayang-bayang 'dia' selalu muncul. Rasanya tidak bisa diartikan bahwa haruskan dia membencinya atau tidak. Malah yang lebih besar dia sangat merindukannya. Atau mungkin ingin mendengar penjelasan darinya atas masa lalu kelam itu.
Kami dalam antrian untuk menaiki wahana lain.
Kalian harus tahu apa yang lebih penting dari semua wahana ini. Harus naik bianglala untuk mengakhiri semuanya di penghujung sore atau malam hari. Entah kenapa tapi wahana ini terasa menenangkan. Rasakan semilir angin alami dan pemandangan indah yang menghadap ke kincir ria yang berliku.
Setelah setengah jam mengantri. Akhirnya ini gilaran kami.
Gina masuk diikuti oleh Nasrul di belakangnya.
"Eh? Nasrul kenapa kita doang?" kejut Gina.
Nasrul tersenyum. "Gue udah minta izin sama mereka. Terutama Hanna."
"Tapi nanti Hanna sendirian."
"Nggak, kok." Terdengar meyakinkan.
Mungkin. Lanjut Nasrul di dalam hati.
Satu kurungan bianglala dinaiki oleh Gina tentunya pasti Nasrul yang menemani ingin bersamanya.
Tahu diri.
Kemudian Oni dan Husein masuk dan seharusnya Hanna masuk juga. Tapi.
"Mas kita cuman berdua," cetus Oni.
"Oh oke."
Petugas itu menutup pintu kurungan bianglala ini. Dan bianglala itu sudah bergerak. Di sana Oni berdadah-dadah.
Hanna tercengang dan menggeram jengkel.
Temannya itu memang laknat sekali.
"Bukan sahabat lo, kan?" tanya Afra menepuk pundak Hanna sekali.
"Emang," decit Hanna jengkel.
Dan akhirnya Hanna pun ikut masuk ke kurungan bianglala bersama Afra dan Gilang.
Tentu saja nasib bermain dengan jumlah orang yang ganjil. Apalagi berpasangan dan satu orang hanya bisa diam melihat dan mendapatkan perlakuan seperti ini.
Kalau gitu tadi gue ajak Mia sama Zeki ajah. Dalam hati Hanna menyesal.
Jika ada mereka meski masih ganjil. Tapi, mereka akan terus bersama bertiga.
Meski Hanna tidak sendiri, Afra terus menempel padanya. Karena Hanna tahu ada yang tersembunyi dibalik itu semua. Karena Gilang.
Namun setelah itu. Nyatanya kami diakhiri dengan wahana komedi putar. Meski kami sudah menaikinya saat langit masih cerah. Namun tidak afdol jika tidak menaiki wahana ini lagi saat malam hari. Karena komedi putar ini akan nampak indah dengan lampu-lampu cahaya yang menerangi.
.
.
.
__ADS_1
🐻🌹🐨
Bersambung ...