Me And Yu : Maevino

Me And Yu : Maevino
Eps. 8 'Me2Yu' Mengalihkan


__ADS_3

Setibanya di kos Arnold. Hanna sedang menunggu di luar kamar kosan. Menunggu di ruang tamu. Menunggu Arnold yang tengah mengambil buku yang akan dipinjam oleh dirinya. Tak lama Arnold pun kembali dengan sebuah buku.


"Nih."


Hanna mengambil buku tersebut. "Makasih, Kak."


"Hum."


Hanna pun langsung beranjak dan berdiri. "Kalau gitu, Hanna pamit pulang."


"Bentar," ucap Arnold menahan kepergian Hanna dengan memegang lengan adik kelasnya itu, Hanna. Tersadar, Arnold pun melepaskannya. "Gue anter, rumah lo dimana?"


"Nggak, Kak. Hanna pulang sendiri aja."


"Ini mau malem, gue anter aja. Ayo."


Tanpa persetujuan Arnold langsung keluar menuju motornya yang tengah terparkir.


...****************...


Netherlands


Katlyn baru saja sampai ia memasuki kamar Fauzi.


"Dari mana dulu? Lama banget."


Katlyn memberikan obat pada Fauzi. "Ketemu sama teman ngobrol dulu sebentar." Ktlyn beranjak lagi mengambil minum untuk Fauzi. "Fauzi...."


"Yah apa?"


"Apa sebaiknya kamu coba jelasin lagi sama mereka. Semoga aja kali ini mereka bisa dengerin penjelasan kamu." Katlyn memberikan segelas air pada Fauzi. Fauzi belum menjawab perkataan Katlyn, dia meminum obatnya terlebih dahulu. "Lagi pula, ayahnya Hanna itu bisa kembali dan mengakui kesalahannya karena usaha Fauzan."


"Aku tahu, tapi ... ya aku bakalan usahain."


Saat mereka masih duduk di bangku SMA.


Fauzan dan Fauzi adalah murid ajaran baru kelas 11 di Sekolah Bakti Nusa. Saat pertama masuk. Fauzan telah menyadarinya bahwa sosok Hanna adalah gadis yang menjadi korban kecelakaan yang sama dengannya. Gadis yang sebelumnya ia pernah temui juga setelah kecelakaan terjadi. Malam yang dingin begitu deras hujan membuat kami benar-benar terjebak dalam lubang hitam yang gelap.


Saat itupun Fauzan berusaha agar dirinya dengan Hanna tidak pernah saling bertemu dan berpapasan. Namun saat kami menjelang naik kelas 12. Takdir mengatakan bahwa kami harus bertemu dan saling mengenal. Semua mengalir begitu saja. Membuat Fauzan semakin bersalah menghadapi Hanna. Lebih mengenalnya, akhirnya Fauzan memutuskan untuk mengembalikan kebahagiaan Hanna bersama keluarganya. Dan ia berhasil mendapatkan informasi tentang keluarga Hanna. Terutama ayah dari Hanna.


Bersamaan kembalinya Si Kembar ke rumahnya. Fauzan melepaskan helmnya lalu mengarah untuk melihat Fauzi yang keluar dari mobilnya.


"Darimana?"


"Harusnya gue yang nanya lo habis darimana?"


Suara Fauzi berbeda.


"Gue cari angin."


Bohong.

__ADS_1


"Cari angin tapi bibir lo berdarah? Lo nggak bisa bohong sama gue. Lo itu gue!"


Fauzan masih tetap diam hendak pergi namun dihalangnya oleh Fauzi. "Cerita sama gue...!"


"Gue habis menemui ayahnya Hanna," tawarnya mengaku.


Fauzi tertegun.


Mencoba menjelaskan semua yang terjadi bahwa itu bukanlah kesalahan Hanna yang menyebabkan kematian kakaknya Hanna yaitu kak Annisa.


Kakak tiri dari Hanna, yaitu kak Bella ikut membantu Fauzan saat itu. Yang akhirnya membuat ayah Hanna sadar telah berprilaku salah dan menyesali perbuatannya di masa lalu sampai saat itu. Mementingkan ego dan menginginkan kepuasan dirinya sendiri kepada anaknya.


Dan Hanna sendiri belum tahu soal tersebut.


...****************...


Indonesia. Pukul 18:38 WIB.


Terlihat motor Arnold telah tiba mengarah ke rumah Hanna berada. Arnold berhenti di depan gerbang.


"Kak makasih buat hari ini," ucap Hanna sembari memberikan helm.


"Iyah. Gue cabut."


Hanna tersenyum. Motor Arnold pun kembali melaju. Saat Hanna berbalik badan dan memasuki rumah. Hanna mendapati mobil yang ia kenali. Seseorang keluar sembari menggendong si kecil keponakan Hanna.


"Afra?" Hanna melanjutkan kembali langkahnya memasuki rumah. "Sejak kapan disini?"


"Yang lain pada kemana? Kok sepi?" tanya Hanna.


"Pas gue kesini, mereka udah pake pakaian rapih. Katanya mau ke acara pertemuan... apa gituh, gue nggak paham juga," terangnya. "Lo yang pasti tahu."


Hanna tahu apa yang dimaksudnya. Pertemuan acara formal dengan orang-orang penting di perusahaan milik ayahnya.


"Terus gue diizinin buat nunggu disini. Ada bibi juga lagi masak di dapur."


Hanna pun ikut bermain-main dengan keponakannya ini yang masih berumur satu setengah tahunan. "Udah aja lo nginep disini, udah malem juga," sahut Hanna. "Dede gemes kok anteng banget sama Ate Afra." Hanna mencubit-cubit pipi keponakan pelan.


"Gue sih kesini emang mau numpang tidur," kekeh Afra.


"Nggak salah lagi." Hanna tertawa kecil.


"Gue lihat lo dianterin senior itu," ucap Afra tiba-tiba.


"Oh lo liat? Iyah kak Arnold," terang Hanna.


"Ada hubungan apa lo sama Bang Arnold bisa akrab gitu? Lo kan nggak suka sama dia," tutur Afra.


"Gue punya proyek sama dia. Buat lomba,"


jelas Hanna sembari berjalan.

__ADS_1


"Ohh... gitu."


"Bi.... Hanna pulang."


Ternyata bibi asisten rumah tangga tengah menyiapkan hidangan di meja makan. "Eh Non Hanna udah pulang, ayo makan. Bibi udah masak."


Hanna salam kepada bibi. "Kebetulan banget bi, Hanna udah laper belum makan."


"Makan yang banyak," kata Bibi.


"Non Afra juga ayo makan, biar adek Bibi yang gendong."


"Nggak usah pake Non, Bi. Afra nggak cocok pake gitu-gituan." Afra terkekeh diikuti oleh yang lainnya.


"Hehe yaudah Nak Afra," kata bibi.


"Nah itu baru oke, Bi." Afra pun ikut duduk di sebelah Hanna dan bersiap untuk makan.


"Aji bentar lagi lulus, dia pasti pulang ke Indonesia," kata Hanna.


"Iyah gue tahu."


"Kalian bakalan tetep kaya gini? Friendzone?" Hanna terkekeh. "Kasian loh.... Aji nunggu jawaban dari lo itu."


"Biar aja," tawar Afra.


"Jangan nyesel kalau nanti Aji berpaling." Hanna tertawa setelah menggoda Afra.


"Nggak peduli," deham Afra.


Namun dalam hati berkata lain. Dirinya sangat menunggu kepulangan Aji selesai dari belajarnya di Belanda. "Gue sih nggak yakin kalau lo sama bang Arnold itu bakalan akrab setiap hari," sindir Afra membalas.


"Gue tahu, sedikit sedikit dia buat gue kesel. Tahu ah .."


Afra menggodanya lagi. "Awas aja lo tertarik sama bang Arnold."


"Nggak mungkin lah, gue sering ribut mulu sama dia."


"Yang kaya ginih nih .. Justru yang sering terjadi," sindir Afra.


"Maksudnya?"


"Yang awalnya benci jadi bisa cinta," ejek Afra.


Hanna tertawa mendengarnya. "HAHAHAHAH." Dan seketika mukanya menjadi datar. "Mana mungkin." Kemudian Hanna mengambil minum.


"Hmm.. atau mungkin lo nunggu seseorang?" Tiba-tiba saja Hanna tersedak dengan minumannya. Afra tersenyum melihat ekspresi Hanna. "Ternyata bener."


"Lo buat gue jadi nggak nafsu makan," rajuknya. Hanna beranjak dari duduk tetapi dirinya mengambil makanan makanannya.


"Katanya nggak nafsu makan, tapi makanannya dibawa. Hahahah." Afra tertawa setelah menyindirnya dan tawa itu mereda. "Lo nunggu Fauzan atau Fauzi sih Han? Atau keduanya?"

__ADS_1


...🐨🌹🐻...


__ADS_2