
Jerman
Sudah tiga hari di negara ini dan hari terakhir untuk melakukan kegiatan ini. Memperoleh wawasan dan ilmu yang begitu banyak didapat setelah bertemu dan bertukar pikiran dengan sesama calon arsitektur dan arsitektur dunia.
"Woah, Fra. Ini arsitektur lanskap, kan?" kagum Gilang yang berada di tempat yang memiliki unsur-unsur seni yang dikatakannya tadi.
Afra mengangguk ikut kagum. Begitu indah dan tenang. "Bidang multidisiplin." Gilang menoleh padanya lalu Afra melihatnya. "Keren, menggabungkan segala aspek desain."
"Bener, Fra. Gue pikir-pikir di Indonesia jarang peminatnya, padahal profesi ini menarik," timpalnya. "Apalagi kalau kerjanya di America, beuh Fraaa berkontribusi sebesar U$2,7."
"Wow. Tapi kenapa lo sendiri nggak minat?" tanya Afra tersenyum tipis.
"Mm sebenarnya bukan nggak minat, tapi desain hunian yang paling gue minati," jawabnya. "Orang-orang suka bilang ginih, 'Kalau udah kerja punya duit mau beliin rumah buat orang tua, ah, itulah inilah' Pasti kata rumah sering diucapin kan sebagai impian selanjutnya?"
Afra mengangguk.
"Dari situ kenapa gue pengen jadi arsitektur. Daripada nyuruh orang desain, bangunin, atau langsung beli. Lebih berkesan kan hasil kita sendiri, bener nggak?"
Afra mengangguk senyum.
"Kalau lo?"
"Gue?" tanyanya. Gilang pun angguk. "Mungkin karena dulu bapak gue juga arsitektur."
"Seriusan?" kejut Gilang yang baru mengetahuinya dengan senang. "Keren... pantes aja anaknya juga jago." Afra hanya diam tersenyum. "Kapan-kapan boleh dong gue ketemu sama bokap lo."
__ADS_1
"Boleh, nanti gue ajak lo ke makam."
Gilang masih mencerna. Lalu matanya semakin melebar tergemap. "Ma.. maksud lo..."
Afra terkekeh melihat reaksi Gilang. "Bapak gue udah meninggal."
"So-sorry Fra. Gue nggak tahu."
"Nggak papa, gue juga udah iklhas. Dah lama ini," ucap Afra begitu tenang tapi ia rindu dengan ayahnya juga. "Jadi gimana? Lo mau masih ketemu sama bapak gue?"
"Kalau lo izinin, gue ziarah ke makam bokap lo."
Afra pun mengangguk senyum.
Akhir-akhir lo sering senyum sama gue, gue kan jadi berharap terus. Batin Gilang tidak bisa memalingkan wajahnya dari senyum manis Afra. Apa gue nyatain cinta lagi ya sekarang? Bodo amat kalau pengakuan cinta yang ke-8 ditolak.
"Fra..."
Afra hanya diam menatapnya. Apa jantungnya sehat? Tentu saja. Bagaimana bisa dia tidak merasakan apa-apa. Cewek dingin.
"Gue tahu lo mau ngomong apa."
Keberanian dan ke cool-an Gilang menjadi menciut. "Yaaa Afra gue kan...."
__ADS_1
Afra menahan tawanya. Dia jadi terbiasa dengan sikap temannya ini. Karena terlalu keseringan. Risih? Awalnya. "Atau lo mau langsung denger jawabannya?"
"Yaa Fra kok gitu sih... Gue kan bener-bener suka sama lo."
"Tapi gue nya nggak. Gimana dong?"
"Tapi gue nya suka. Gimana dong?"
"Suka, kan?"
"Huh?" Gilang malah bingung.
"Suka bukan berarti sayang, sayang bukan berarti cinta. Tapi cinta adalah hal yang tulus. Gue juga suka sama lo..."
"Seriusan?" kejut Gilang bahagia sebelum menyadari bahwa Afra mengatakan...
"Tapi buat jadi temen gue," terangnya.
Gilang merasa lemas untuk bergerak kali ini. Apa dia telah mendapatkan rekor tertinggi dari penolakan Afra.
"Ayok," ajak Afra untuk pergi namun ia lebih dulu untuk berjalan.
Dengan terpaksa begitu lemas, Gilang menyusulinya. Dia harus semangat ini bukan yang pertama ditolak oleh Afra. Yang pertama adalah penolakan yang begitu mengesankan.... sampai perutnya ditinju. Wow. Tapi Gilang menyukainya, dia tak menyerah. Kedua dan ketiga hampir kena tinjunya lagi, keempat dan kelima mungkin karena merasa lelah dia hanya diam tak menjawab, mengabaikannya. Kelima dan keenam akhirnya dia menjawab perasaan Gilang, tentu saja ditolak. Seperti tadi, tetapi dia menerima penolakan yang terdengar manis untuk yang pertama kalinya.
Oh sepertinya ada yang terlupakan. Penolakkan ketujuh?
__ADS_1
...🌹...