
...Kebenaran dari Fauzan Yang Terbaring....
...Flashback....
Tahun 2019 saat malam hari dimana setelah keributan yang terjadi saat hari terakhirnya acara sekolah kelulusan yaitu pesta perpisahan yang diadakan di sekolah atau prom night.
Fauzan menyesali semuanya dan terdiam menatap kepergian Hanna. Sedangkan Fauzi memutuskan untuk menyusuli Hanna. Aji sekali lagi memukul wajah Fauzan.
"Lo seharusnya mendapatkan pukulan lebih dari ini. Ini tidak sebanding dengan kehancuran hidup Hanna saat itu."
Teman-temannya pun meninggalkan Fauzan sendirian disini. Fauzan hanya diam dan diam tidak berdaya karena dia berhak untuk menerima semua ini. Fauzan menatap sayu menunduk. Tangisnya menyatu dengan air hujan yang membasahi. Tangis penyesalan kembali lagi datang dalam kehidupannya.
"Maafin gue Han .."
Fauzan menahan isakan tangisannya.
Saat itu pun Fauzan bergegas pergi menaiki motornya. Lagi-lagi kembali terjadi menimpa Fauzan.
BRUKKK!!
Fauzan mengalami kecelakaan dia tidak melihat jelas ada sebuah mobil menghampirinya. Membuat dirinya mengerem mendadak namun karena jalan aspal yang licin karena hujan. Dirinya terjatuh dan terbentur sangat keras.
...****************...
Di sebuah rumah sakit. Keluarga dari Fauzan sangat terpuruk. Hari dimana Fauzan kecelakaan sang ibu tengah melahirkan. Fauzi baru saja tiba disini. Menuju ruangan bersalin untuk menemui ayahnya. Ibunya berhasil melahirkan dengan selamat. Fauzi memasuki ruangan tersebut. Mendapatkan suasana yang bahagia dan haru. Tapi apa daya kebahagiaan ini harus direnggut oleh kabar kecelakaan Fauzan. Mendapatkan kabar tersebut membuat ibunya mengalami shock berat setelah selesainya melahirkan. Fauzi dan ayahnya benar-benar panik dengan keadaan dari keduanya.
Fauzi dan ayahnya menuju ruang operasi untuk melihat keadaan Fauzan yang dilarikan ke rumah sakit setelah kecelakaan dan harus segara di operasi. Seorang pemuda terlihat sedang berada di dekat ruang operasi. Dirinya melihat bahwa mereka sepertinya keluarga dari Fauzan karena melihat sosok wajah yang sama yaitu kembaran Fauzan.
"Maaf Abang yang menelepon saya tadi?" tanya Fauzi.
"Iyah itu saya. Tapi yang menemukan Fauzan kecelakaan bukan saya, saya yang mendapatkan telepon dari orang yang menemukan Fauzan."
"Kenapa bisa? Abang kenalannya Fauzan?" tanya Fauzi.
__ADS_1
"Saya Gilang. Benar sama temannya Fauzan begitu pun Fauzan bekerja dengan saya."
"Kerja?" tanya ayah sedikit terkejut.
Tetapi Fauzi tidak. Ah jadi yang bosnya Fauzan, bang Gilang ini.
"Fauzan bekerja sama saya sebagai penyiar radio..." lanjutnya.
Fauzi dan ayahnya hanya bisa terdiam dan kecemasan mulai kembali datang. Mereka menunggu dengan perasaan cemas, sedih dan khawatir. Selesainya. Dokter pun keluar.
"Om...."
"Ben bagaimana dengan anak saya?"
"Tenang dulu, Rud. Fauzan,,, alhamdulillah masih bisa diselamatkan."
Mendengar hal itu membuat Fauzi dan ayahnya menghela nafas begitu lega. Namun.
"Tapi... karena benturan di kepalanya terjadi lagi membuat cedera di otaknya semakin parah," sambung dokter itu yang merupakan kerabat dari keluarga mereka.
"Kita berdoa agar Fauzan dapat berjuang melawan masa krisisnya ini."
Pertengahan di tahun 2020
"Dokter Ben bagaimana ini? Kenapa Fauzan tidak bangun juga? Ini sudah satu tahun setelah kecelakaan," isakan tangis dari seorang ibu.
"Ini terjadi karena benturan yang dialaminya. Karena kalau saja,, saat itu cedera pertamanya langsung ditangani kemungkinan tidak akan seperti ini. Saya akan mengajukan pasien Fauzan pada teman saya di Singapura. Pengobatan begitu pun dengan dokter-dokter disana. Saya berharap semoga ada kemajuan untuk kesembuhan Fauzan. Bagaimana?"
"Yah lakukan, Ben. Apapun untuk kesembuhan anak saya."
"Fauzan... Hiks... Seharusnya kamu nurut sama mamah, jangan keras kepala. Menunda-nunda pengobatan...." Ibunya menangisi Fauzan disini.
Fauzi benar-benar tidak bisa berkata-kata bahwa kembarannya ini tengah sekarat. Dirinya pun ikut merasakan sakit.
Karena masalah itu lo jadi kaya gini, Fauzan. Kalau semua harapan lo terwujud dan bisa ngembaliin kebahagiaan Hanna. Apa lo akan bangun?
__ADS_1
Kalau itu terjadi, gue akan berusaha mewujudkannya. Gue bakal lanjutin misi impian lo itu, Zan. Gue akan pergi ke Belanda.
Saat itu hari kelulusan Sekolah Menengah Atas, Fauzan berencana untuk melanjutkan studinya di negara Belanda sembari mencari tujuan dan impiannya disana untuk mencari orangtua, ibu dari temannya. Temannya adalah Hanna.
Namun takdir berkata lain. Dirinya harus mengalami kecelakaan kembali dan membuat dirinya sampai sekarang terbaring memperjuangkan masa krisis hidupnya. Karena kejadian ini. Fauzi selaku kakak maupun kembarannya menunda melanjutkan studinya satu tahun saat itu. Fauzi selama ini sudah mempersiapkan agar dirinya dapat sekolah di negara Belanda, Holland. Berencana untuk melanjutkan impian dan misi kembarannya tersebut. Dan dimana sekarang, hari ini.
"Kamu mau pergi juga?" Kesedihan yang terdengar.
"Maaf, Mah. Ini yang terbaik buat semuanya. Buat Fauzan," tutur Fauzi.
"Tapi...."
"Sudah, Mah. Kita nggak usah ngelarangnya. Fauzi pasti tahu mana yang terbaik buat adiknya, kembarnya."
"Tapi, Yah. Mamah khawatir kalau Fauzi anak kita sendirian disana."
"Mamah nggak usah khawatir. Katlyn, keponakan kamu mau kuliah disana. Jadi Fauzi nggak sendirian dan ada yang nemenin."
"Bukan itu tapi mamah. Mamah nggak mau kehilangan kalian berdua," isakan tangis ibunya kembali terdengar.
Ia merasa sudah cukup sengsara melihat anaknya sendiri Fauzan yang melewati ujian. Dan sudah merasa bahwa ibunya ini seperti sudah ditinggalkan. Ditambah dengan Fauzi yang akan pergi jauh dan meninggalkan kami.
".... Mamah nggak mau kehilangan kamu juga."
Fauzi memeluk ibunya. "Mamah nggak bakalan kehilangan kita berdua. Mamah nggak bakalan kehilangan Fauzan sama Uzi." Fauzi berusaha menenangkan ibunya ini. "Fauzan bakalan sembuh dan kumpul lagi sama kita. Mamah yang kuat yah." Ia menghapus air mata sang ibu.
"Disana, Uzi bakalan sama Katlyn. Mamah nggak usah cemas."
Ibunya sedikit merasa tenang sekarang. "Kasian dede kalian udah ditinggal jauh sama kakak-kakaknya."
Fauzi tersenyum merasa berat untuk meninggalkan mereka disini. Meninggalkan orangtuanya, meninggalkan kembarannya yang sakit, dan juga meninggalkan adik barunya yang baru saja lahir. Tapi bagaimana lagi. Ini sudah menjadi keputusan dirinya yang harus mengembalikan kebahagiaan kembarannya, Fauzan sekaligus mengembalikan kebahagiaan temannya, yaitu Hanna. Fauzi membawa tubuh kembarannya ini menjadi sosok dalam dirinya.
...🦄🥀☔...
...Flashback Selesai....
__ADS_1