
Singapore
Rumah Sakit.
Hari terus berganti. Dia masih terbaring dan belum sadarkan diri. Bagaimana bisa mereka yang ada di sisinya itu tidak merasakan kesedihan melihat anaknya bertahun-tahun tertidur dan dibantu dengan alat bantu medis.
Sosok yang telah kami kenal. Seseorang yang memiliki kembaran yang tengah terbaring di berangkas tempat tidur Rumah Sakit. Dia.
"Bagaimana dok keadaannya?"
Laki-laki yang tampak tua dan memiliki kumis. Dia ayah dari orang yang terbaring tersebut, Pak Ridwan.
Dokter tersebut masih terdiam. "Masih sama belum ada perkembangan."
Kekecewaan yang didengar oleh mereka. Seorang perempuan yang bersama dengan laki-laki itu tengah menahan tangis. Mereka adalah orangtuanya.
"Kita harus terus berdoa dan berpikir positif pada anak ibu dan bapak. Walaupun begitu, Fauzan dia anak yang kuat .. masih bisa bertahan. Jangan khawatir, kami akan terus berusaha dalam hal ini. Saya permisi dulu."
"Terima kasih dokter."
Ibu tersebut duduk di kursi yang berada di sisi berangkas tempat tidur. Memegang tangan sang anak. Menatap kesedihan merasakan sakit juga.
"Sudah, Mah. Jangan nangis. Mamah harus kuat."
"Kenapa harus terjadi lagi sama kamu, Uza?" Terdengar isakan tangis. "Bangun ... Hiks Hiks..."
"Sudah. Mamah harus sabar. Ayah yakin Fauzan tak lama lagi akan bangun."
Suara anak kecil perempuan berusia 3 tahun terdengar sembari memeluk sang ibu disini. "Mama..."
Ibu tersebut membalas pelukannya.
...****************...
Indonesia
Universitas Indonesia. Hanna tengah menunggu teman-temannya. Mereka janjian bertemu di kampus untuk pergi bersama ke tempat pendaftaran lomba. Namun mereka masih belum terlihat sama sekali. Kecuali.
Suara motor terdengar mendekati kemari. Dia Arnold datang dengan motor cross nya. "Mana yang lain?" tanya Arnold setelah sampai disini dan membuka helmnya.
Hanna masih bingung terus mengecek handphonenya. "Nggak tahu, Kak. Padahal tadi masih aktif tapi sekarang malah off. Susah dihubungi."
"Kata lo hari ini pendaftaran terkahir, kan?" tanya Arnold.
"Iyah."
"Sampai jam berapa?"
"Jam 12 siang pendaftaran ditutup."
Arnold melihat ke arah jam tangannya. "Nggak akan keburu, ayo naik."
"Hah?"
"Kalau nunggu mereka apalagi susah dihubungi bisa-bisa kita nggak jadi ikut lomba," tutur Arnold.
"Hemm .. yaudah deh."
Arnold memberikan helm pada Hanna. Mereka pun akhirnya pergi tanpa Mia dan Zeki.
Namun tak lama dari itu.
__ADS_1
"Mana si Hanna? Katanya nunggu disini?" tanya Zeki yang baru saja tiba bersama dengan Mia.
Mereka berdua terlihat kelelahan datang dengan berlari. Mia memukul Zeki. "Gara-gara mobil tua lo sih .. mogok. Jadinya kita ditinggalin, kan. Malah capek lagi harus dorong-dorong mobil tetep nggak nyala... lari-lari kesini," gerutunya.
"Tua-tua gitu juga masih berguna mobil gue tuh.." lirih Zeki.
"Berguna dari mananya? Jelas-jelas itu mobil suka mogok bikin orang kesusahan, tau ah .. pusing," seru Mia beranjak pergi dari sini.
"Eh lo mau kemana?" teriak Zeki.
"Gue mau cari minum. Haus."
...****************...
Netherlands
Di suatu tempat tinggal Fauzi berada. Dia masih saja tertidur di tempat tidurnya. Karena hari ini adalah hari libur. Suara ketukan pintu kamar ini terdengar. Fauzi sama sekali tidak merespon. Membuat dibalik pintu tersebut langsung memasuki kamar ini. Seseorang itu mendekati Fauzi. Mendekati pada telinganya. Dan.
"BANGUN..... BANGUN!......"
Fauzi sangat terkejut dan langsung terbangun. Mendapati seseorang yaitu kerabatnya sendiri. Katlyn.
"Sakit tahu," lirih Fauzi memegang telinganya.
"Biar langsung bangun," kekeh Katlyn.
Katlyn duduk tepi tempat tidur dan mengeluarkan sebuah kotak makan. "Mau?"
Fauzi masih merasa kesal. Ia masih terdiam. Katlyn pun mengarahkan makanan itu pada mulut Fauzi. Fauzi masih menutup mulutnya itu. Memandang Katlyn kesal. Tak lama ia pun tidak bisa menolak makanan tersebut.
"Enak?"
Fauzi mengangguk. "Masakan kamu, selalu enak." Berbicara sembari mengunyah makanan.
"Nggak biasanya kamu masih tidur jam segini. Kenapa? Kamu nggak enak badan?" tanya Katlyn.
Fauzi mengangguk. "Agak lemes."
Katlyn pun memegang jidat Fauzi untuk mengecek suhu tubuhnya. "Anget. Udah minum obat?"
Fauzi menggelengkan kepalanya. "Setok obatnya habis."
"Yaudah aku beliin obat. Sekarang kita nggak jadi pergi aja yah."
"Tapi--"
"Udah .. kamu juga harus jaga kesehatan. Kita bisa pergi lain waktu cari bu Diana."
Katlyn memberikan kotak makanan tersebut. Dan beranjak berdiri.
"Habisin. Makan sendiri," katKatlyn karena sedari tadi Fauzi disuapi. "Aku beli obat dulu."
...****************...
Indonesia
Motor milik Arnold telah berhenti dan terparkir. Hanna memberikan helm pada Arnold. Mereka berdua pun beranjak dari sini. Berjalan menuju tempat pendaftaran berlangsung.
"Lo bisa dapet info ini dari siapa?" tanya Arnold.
"Dapet dari kakak ipar. Kakak ipar Hanna dapet dari temennya."
__ADS_1
"Ohh, sebenarnya informasi lomba itu tertutup."
"Oh serius, Kak?"
Arnold angguk. "Di kampus juga yang tahu dikitan, sembunyi-sembunyi."
Hanna ber'oh, dan ternyata anak-anak kampung benar-benar bersaing sampai segitunya.
Mereka masih mencari-cari tempat pendaftaran.
"Dimana ya?"
Kami pun bertanya pada seseorang yang melintasi kami. "Permisi, Pak. Kalau tempat pendaftaran lomba di sebelah mana ya?" tanya Arnold.
"Oh, jalan aja lurus lagi, nanti bakalan kelihatan."
Arnold pun tersenyum. "Makasih, Pak."
Kami pun kembali melanjutkan. Sesampainya. Kami pun langsung mendaftarkan diri di tempat ini. Kami tengah berbicang-bincang tentang persyaratan yang belum kami pahami dalam perlombaan. Tidak cukup lama kami sudah selesai. Dan pergi kembali keparkiran.
Disela-sela perjalanan. Suara dering telepon berbunyi.
Mereka berhenti sejenak. Hanna mengangkat telepon tersebut.
...---Mia Called---...
"Hallo Mia? Lo dimana?"
"Han. Gue minta maaf nih gue nggak ikut lo kesana. Gegara nih anak nih Si Zeki .. mobilnya mogok lagi."
"Iyah nggak papa, Mi. Ini juga baru aja selesai daftarin," seru Hanna.
"Hem... oke deh. Sorry yah."
"Iyah Mi nggak papa, gue tutup ya gue mau cabut lagi."
"Iyah Han, oke dadah .."
Telepon berkahir.
Hanna dan Arnold melanjutkan kembali langkahnya.
"Kenapa sama mereka?" tanya Arnold.
"Mobil Zeki mogok," jawab Hanna.
Arnold hanya ber'oh. Tak cukup lama karena parkiran sudah terlihat ada di depan mata kami.
"Hem kak Arnold pulang duluan aja," kata Hanna tiba-tiba.
Arnold terheran-heran. "Kenapa? Nggak bareng gue?"
"Hanna mau pergi ke toko buku dulu."
"Yaudah naik, gue anterin aja," tutur Arnold.
Hanna masih berpikir sejenak. Arnold memberikan helm pada Hanna. "Naik aja, gue lagi senggang kok."
Dan akhirnya Hanna pun menerima ajakan tumpangan dari Arnold.
...🐨🌹🐻...
__ADS_1
...Bersambung ......