
Rumah Sakit, Indonesia
Laki-laki yang cukup umur dengan jas dokter putih menerima panggilan dibelakangnya, dia merasa gelisah. Memutuskan dari peluang kecil tidak berhasil tetapi itu bisa menjadi keajaiban.
📞 "Sayang, itu sangat beresiko..."
"Tapi, Dady. Dady nggak kasian sama Fauzan? Fauzan itu masih punya harapan buat hidup!" Sesak yang terdengar di balik telepon itu. "Dady pikirin gimana rasanya kehilangan anak, mereka udah usahain sampai sejauh ini buat nyembuhin anaknya. Hiks.. Dady tega ngilangin harapan hidup Fauzan? Bukan hanya Fauzan, Dad. Tapi semuanya. Harapan hidup mereka... Hikss..."
Dia mengehela nafas tidak berdaya. Dia pun merasa sedih dalam hal ini. Namun apa lagi jika pasien Fauzan diputuskan untuk pulang, besar kemungkinan dalam perjalanan dia tidak akan selamat karena kondisinya. Pasien sangat menderita seumur hidup dan mati. Tidak ada kemajuan dalam perawatan ini.
Apa mereka akan siap jika kehilangan dalam situasi seperti itu? Daripada kehilangan saat mesin alat bantu pernapasannya dimatikan?
Karena jika dia mengizinkan pasien tersebut dipindahkan dia menjadi tanggung jawabnya.
"Dady... cuman dady yang bisa nolongin Fauzan... Hiks.. Hiks.. bantu Fauzi, bantu keluarga mereka..."
Dengan berat hati. "Baiklah. Dady akan bantu Fauzan."
"Dady serius?"
"Iyah. Dady akan coba. Tapi keputusan ada di tangan mereka. Dady tidak bisa memaksanya."
"....."
Panggilan telah berakhir dengan putrinya. Dia menghela nafas lagi mencoba menenangkan dirinya. Dia melihat kembali ke ponselnya dan menghubungi nomor seseorang.
"Hello Doctor Reza, I need to talk to you about a patient named Fauzan..."
__ADS_1
...***...
Jerman
Ketiga anak itu berkumpul dalam suasana tegang dan gelisah. Apakah bujukan putrinya ini berhasil?
Katlyn menyeka air matanya setelah dia selesai menghubungi ayahnya untuk membujuknya. Dia bernafas lega, terduduk lemah. "Ayah ku akan bantu."
Tyo dan Aji pun bernafas lega mendengarnya. Detak jantungnya seperti sedang bermain rollercoaster sedari tadi.
"Alhamdulillah," ucap Aji.
"Walaupun ayah aku bakalan bantuin, tapi keputusan di tangan mereka. Apapun yang mereka putuskan, semuanya berisiko buat keselamatan Fauzan."
"Tapi dengan adanya ayah lo. Mereka bisa memikirkannya lagi, untuk tidak mematikan mesinnya," papar Tyo.
Aji, Tyo, dan Katlyn pun kembali untuk menyusuli Hanna yang sudah berada bersama Afra. Karena sebelumnya Aji meminta Hanna menyusuli Afra untuk membujuknya agar tidak marah lagi padanya.
......................
Hanna tengah duduk di sofa. Dia sudah berada di dalam kamar Afra. Afra terdiam begitu juga dengan Hanna. Mereka sama-sama terdiam memikirkan sesuatu.
Kayaknya mereka nyembunyiin sesuatu dari gue. Tapi apa.... Batin Hanna.
Gue nggak salah denger, kan? Tyo nyebut nama Fauzan. Kenapa sama Fauzan? Apa ada masalah? Sesuatu terjadi di antara mereka? Atau... sama Fauzan? Batin Afra lalu melihat ke arah Hanna. Apa Hanna tahu soal itu?
"Han..." panggil Afra.
__ADS_1
Hanna tersadar. "Hum? Yah, Fra?"
"Yang lain pergi kemana? Apa ada masalah?"
"Bilangnya sih mereka ada masalah di kampus," jawab Hanna.
"Masalah di kampus?" bisik Afra pelan.
Gue nggak salah denger. Ini pasti tentang Fauzan. Batin Afra.
Ding Dong
Bunyi bel berbunyi. Afra bangkit untuk membukakan pintu. Klek. Pintu terbuka menampakkan Aji bersama Tyo dan teman perempuan mereka yang belum diketahui oleh Afra siapa namanya. Aji tersenyum nampak bodoh dimata Afra. Afra masih kesal dengan sikapnya dia.
"Masuk..."
Aji menelaah semua sudut kamar ini. Melihat teman laki-laki Afra, Aji masih merasa kesal. Pasalnya selama ini Afra tinggal di kamar ini bersama teman laki-lakinya itu. Tapi ia urungkan untuk tidak mengamuk. Karena kejadian sebelumnya apa yang dia lakukan sudah membuat Afra marah padanya.
"Sorry, gue udah salah paham," ucap Aji pada Gilang.
Gilang tersenyum paksa dan hanya mengangguk.
"Sorry, Fra..." lanjutnya kepada Afra. Afra hanya diam tidak membalas. Rasanya menyesal sekali, dia ingin membahas berdua saja. Tapi keaadan seperti ini, semua tengah berkumpul. Dia tidak bisa berkata-kata.
Mungkin kesempatan itu akan tiba.
...🦄🥀...
__ADS_1