Me And Yu : Maevino

Me And Yu : Maevino
Eps. 45 'Me2Yu' : Kembalinya Ketakutan


__ADS_3

Di rumah sakit Jakarta. Pemuda itu langsung berlari masuk setelah memarkir motornya. Air mata yang tidak bisa dia tahan, ada rasa sakit yang dia rasakan seperti dia. Berbagai rasa sakit di antara si kembar itu membuat mereka saling menderita.


Tidak memperhatikan orang-orang disekitarnya yang memperhatikannya, terus berlari dengan nafas tidak teratur mencari ruang ICU. Sosok orang tua yang dia kenali sedang duduk di sana termenung, dia berjalan ke arah mereka dengan air mata yang masih menetes perlahan.


"Nak..." katanya setelah melihat putra sulung tercinta telah datang.


Dia belum mendekati orang tuanya tetapi dia berjalan lebih dekat ke jendela besar yang menunjukkan saudara kembarnya di sana dengan beberapa dokter yang merawatnya di dalam. Sudah lama tidak menemuinya, sangat menyakitkan melihatnya begitu takut untuk kehilangan. Tapi itu keajaiban bahwa dia masih bertahan selama itu.


"Dia sudah melewati masa kritisnya," kata lelaki tua itu sambil meletakkan tangannya di bahu putranya.


Anak laki-laki, saudara kembar pasien, terbaring di sana. Fauzi memeluk ayahnya untuk menerima kekuatan. Hanya dalam beberapa detik dia juga memandang perempuan tua yang dirindukannya, sangat lelah, kerutannya bertambah, mata yang membengkak karena terus menerus menangis, sudah berjuang untuk anaknya. Fauzi menghampirinya sambil memanggil 'Mamah' tanpa bersuara, ia langsung memeluknya.


......................


Hanna, dia dibawa ke rumah sakit dan sampai sekarang dia belum sadar. Diana, ibu kandungnya, menemani putrinya, memegang erat tangannya dan menciumnya. Rasa bersalah dan penyesalan atas sikapnya terhadap anak kandungnya sendiri di masa lalu tidak mudah dimaafkan.


Tangan putrinya, yang dipegang beberapa saat, bergerak sedikit. Diana segera menyadari bahwa dia melihat putrinya bangun. Tidak hanya mereka berdua, semua orang berada di ruang VIP ini menunggu Hanna bangun.


"Sayang..." Suara sendu wanita tua yang begitu khawatir kepada anaknya.


Hanna terbangun masih memulihkan penglihatan dan kondisinya, ia masih merasa pusing.


"Han, udah ngerasa baikkan?" tanya Aji.


Hanna tampaknya telah sadar dan memiliki banyak orang di sekitarnya yang menatapnya dengan cemas. "Aku ada dimana?" Dia bertanya tapi tampak linglung.


"Lo ada di rumah sakit, lo tadi pingsan," terang Aji.

__ADS_1


"Pingsan?" Tatapan Hanna mengingatkan semua orang saat ia mengalami gejala penyakitnya itu. Kesadaran terhadap lingkungannya, atau bisa lebih dari itu dari kondisi Hanna sekarang. "Kamu siapa?" Melihat ke arah Aji membuat yang lainnya begitu terkejut dengan pertanyaan itu. "Kalian semua siapa?"


Ibu Diana dan Bunda Naila terkejut karena tidak percaya dengan kondisi Hanna. Ibu Diana tidak bisa menahan air matanya, isak tangis pun terdengar oleh semua orang.


"Ini gue Aji. Lo nggak inget gue?"


Hanna masih terdiam memikirkannya.


"Aji, Han. Gue Aji. Temen kecil lo, saudara lo," kilahnya.


"Ahhh...." Hanna tersenyum sepertinya dia sudah mengingatnya. "Kamu Aji. Batu Akik, kan?"


Aji berseri begitu senang mengangguk-angguk. "Iyah itu, itu gue. Batu Akik."


Hanna berseri-seri tapi kondisinya menunjukkan kebingungan darinya. Semua orang mengira Hanna dalam keadaan semula, gangguan mental dan fisik kembali.


Melihat kondisi putrinya yang seperti ini, Ibu Diana sangat tersiksa hingga tidak tahan lagi. Penyesalan semakin dalam untuknya. Karenanya, putrinya kembali dalam kondisi ini.


Mendengar isakan tangis, Hanna melihatnya. "Mamah?" Ibu Dian mendengar putrinya memanggilnya. Dia menyeka air matanya dan mendekati putrinya sambil tersenyum. "Mamah kemana aja? Hanna kangen sama mamah." Hanna memeluknya dengan sangat bahagia seolah-olah sesuatu yang buruk terjadi di antara mereka, dia tidak mengingatnya.


Aji, dia juga tidak bisa melihat kondisi Hanna seperti itu. Tidak tahan melihatnya, dia meninggalkan kamar rawat ini. Menahan air mata, menyandarkan kepalanya ke dinding juga merasa bersalah.


Sebuah tangan menepuk pundaknya, Bang Fatur berusaha menenangkannya. "Hanna akan baik-baik aja. Ayok."


Mereka masuk kembali dengan dokter yang akan memeriksa kondisi Hanna. Hanna benar-benar berbeda. Dia tersenyum seolah tidak mempunyai beban sama sekali, melupakan semua yang membuatnya sakit. Apakah itu patut disyukuri oleh kami?


"Coba, Hanna. Kamu ingat kenapa kamu bisa pingsan?" tanya dokter itu.

__ADS_1


Hanna menggeleng cepat.


"Kalau orang-orang yang ada disini. Kamu ingat?"


"Itu Aji, papah sama bunda." Hanna melihat satu per satu dan memanggil mereka. "Terus ini mamah, ayah, Kak Bella, Kak Fatur sama...." Dia terdiam sejenak untuk mengingat salah satunya. Wanita tua yang merupakan ibu tirinya, berdiri di samping ayahnya. "Saya nggak kenal tante itu. Mah..."


"Iyah sayang?"


"Kak Annisa dimana?"


Deg!


Cobaan apalagi untuk mereka yang melibatkan kondisi Hanna, sangat menyakitkan untuk melihatnya.


Ibu Diana mencoba bersikap tenang untuk tidak menimbulkan kekhawatiran padanya. "Sayang, kakak kamu udah nggak ada. Dia udah tenang disana."


"Nggak. Mamah bohong, kan?" Hanna menyeringai untuk tidak mempercayainya. Ibu Diana berdiam, tidak ingin membuatnya semakin gelisah. Namun nampaknya Hanna mengalami perubahan sikap mendadak. Kegelisahan dan ketakutan yang dirasakannya. "Mamah jawab! Kak Annisa belum meninggal! Mamah bohong. Ayah? Ayah, kak Annisa ada, kan?" Hanna tersentak lagi, seperti sudah mengingatnya. "Aahhww."


"--Hanna? Dokter, putri saya...."


"Pergi! Mamah jahat! Pergi... Hikss... Ayah juga!" teriaknya dengan isakan tangis. "Ahww."


"Han...!"


"Saaakit." Memegangi kepalanya itu.


Kondisi lingkungan, dan apa yang dialaminya yang begitu menyakitkan sehingga ia belum bisa menerimanya menyebabkan kondisi gangguan mental yang disebabkan perubahan yang cepat dalam fungsi otak yang terjadi bersamaan dengan penyakit mental atau fisik. Apa yang ditakuti semua orang terjadi lagi pada Hanna.

__ADS_1


...🦄🥀...


__ADS_2