
Bandara Amsterdam Schiphol
"Ajinomotif ..." Suara teriakan yang dirindukan terdengar secara langsung di telinganya.
Gadis yang berteriak tanpa malu-malu itu berlari dan memeluknya.
"Oyy sesek nih. Gue nggak bisa nafas."
"Hahahah."
Gadis itu melepaskannya dan tertawa. Tawanya yang menjengkelkan itu terdengar kembali.
"Eh Tyo. Apa kabar?" Tampak berbeda dengan sosok lama. Terlihat dewasa dari penampilan tapi entah perilakunya sama seperti sebelumnya atau tidak.
"Sangat baik tentunya karena nggak ada lo," candanya.
Hanna memukul pelan teman bule SMA nya itu.
Tawa Hanna kembali terdengar namun semakin keras ketika melihat rambut Aji diwarnai dengan pirang. "Hahahaha akhirnya gue lihat rambut lo secara langsung."
"Lo baru aja dateng langsung nge-bully gue," gerutu Aji.
"Ahahaha kayak bohlam kan, Han?" Tyo ikut untuk membully.
Hanna mengangguk.
"Heh! Padahal lo yang nyuruh gue warnai rambut," cicit Aji pada Tyo.
"Kenapa diturutin?" timpal Tyo.
Laki-laki dan wanita yang semakin tua tengah berjalan perlahan ke arah kami dengan senyuman.
"Bunda, papah ..."
Pelukan yang dirindukan selama tiga tahun kurang ini dapat ia rasakan kembali dari kedua orangtuanya.
"Sini bunda biar Aji yang bawa." Dia meraih koper dari bundanya.
__ADS_1
"Yang Hanna nggak dibawain?" Hanna dengan suara imut karena ada mauanya.
"Bawa aja sendiri. Blwee ..." Aji menjulurkan lidahnya.
Dan Hanna hanya mendengus namun setelah itu kami semua tersenyum.
"Sini biar gue yang bawa." Sok gantle tiba.
Di sinilah orang-orang yang disayangi tiba juga di Negara Holland. Meraka telah tiba di Bandara Amsterdam Schiphol. Dan Aji menjemputnya langsung ditemani oleh Tyo. Namun sedari tadi Aji nampak berbeda. Sesuatu ada yang mengganggu pikirannya saat ini. Dia melirik sejenak ke arah Tyo.
Dua puluh menit sebelum pesawat yang dinaiki oleh Hanna dan kedua orangtuanya landing.
Aji dan Tyo sudah berada di bandara untuk menjemputnya lebih awal. Namun seketika suasana menjadi mencekam saat Aji melihat sosok orang yang dibencinya di hadapannya. Seolah-olah dia terjebak untuk bertemu dengannya.
"Lo kenapa di sini huh?!"
Orang itu menoleh pada Tyo.
Dan Aji menyadarinya dengan emosi. "Yo! Lo yang nyuruh dia ke sini?!"
"Tenang dulu, bro. Gue bisa jelasin," seru Tyo.
Yap.Itu adalah Fauzi tapi dia pikir dia adalah Fauzan. Orang yang sebenarnya dia benci.
"Gue nggak mau kalau Hanna liat muka lo. Lo paham, kan?!"
Sebegitu marahnya dan tidak mau mempertemukan Fauzan kepada Hanna. Teman lamanya ini benci terhadap kembarannya, Fauzan. Perasaan sesak dapat Fauzi rasakan meski kebencian itu bukan kepadanya.
Keributan ini membuat orang-orang di sekitar memperhatikan kami dan mengundang petugas keamanan ke mari.
"Sorry meneer, maak hier geen gedoe. U kunt uw problemen buiten oplossen. (Maaf tuan. Jangan membuat keributan di sini. Anda bisa menyelesaikannya di luar)"
"Sorry meneer. We lossen ons probleem buiten op. We bieden een keer onze excuses aan," jawab Tyo meminta maaf mewakili teman-temannya yang ribut.
Tyo, Aji dan Fauzi pun keluar untuk menyelesaikan masalah di dalam tadi. Katyln pun ada bersama kami di sini.
"Aji biarin Fauzi ngomong dulu--Ups!" kata Tyo terkejut dengan ucapannya sendiri.
Fauzi, Katlyn pun tersentak kaget.
__ADS_1
Itu terlihat dari Aji yang mengerutkan kening keheranan melihat kami. "Lo ngomong apa, Yo? Fauzi apa? Dia Fauzan!"
Tyo menoleh pada Fauzi. "Zi, sorry. Tapi, lebih baik lo jelasin sekarang siapa lo yang sebenarnya."
Katlyn pun mengangguk menyetujui.
"Sebenarnya ada apa? Apa yang gue nggak tahu yang kalian tahu! Dan lo Yo! Gue tahu lo nutupin sesuatu dari gue setelah lo selalu pergi sama dia dan dia!" Mantap kekesalan kepada Tyo, lalu kepada Fauzi.
Dan berakhir pada Katlyn. "Dan lo,, apa yang lo bicarin waktu itu sama gue. Gue sama sekali nggak paham."
Kembali lagi menatap Fauzi. "Fauzan. Gue masih marah dan benci sama lo karena lo penyebab dari penderitaan Hanna selama ini! Lo tahu, beberapa hari setelah kejadian di porm night itu. Hanna terus-terusan nangisin lo yang nggak guna. Dia kecewa karena lo nutupin itu semua darinya sampai dia ...." Seketika kata-katanya menggantung.
Tersentak kaget bahwa Fauzi melanjutkan kata-katanya. Aji menatap ke arahnya.
"Sampai dia menerima kenyataan bahwa sepenuhnya yang terjadi padanya adalah kehendak Tuhan."
Aji terdiam kaku.
"Begitu juga Fauzan. Dia harus menerima kehendak Tuhan bertahun-tahun terbaring koma antara hidup dan mati. Di saat semua orang membencinya, tidak mau mendengarkan kebenaran yang terjadi."
"Fauzi..." Katlyn lembut agar Fauzi lebih tenang. Fauzi terbawa emosional jika mengingat kembarannya.
Aji masih mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Fauzi. Mencerna semuanya sampai dia menyadari membuatnya membeku karena terkejut.
"Lo... bukan Fauzan?"
"Iyah. Gue Fauzi. Bukan Fauzan."
Pembicaraan belum berakhir karena pesawat yang diterbangi Hanna akan segera mendarat. Mereka juga memutuskan untuk melanjutkan percakapan nanti. Aji. Dia harus tahu segalanya. Perasaan bersalah perlahan tumbuh di benaknya.
.
.
.
🦄🥀
Bersambung ...
__ADS_1