Me And Yu : Maevino

Me And Yu : Maevino
Eps. 73 'Me2Yu' Takdir Mereka


__ADS_3

Fauzan duduk di kursi yang nyaman ditemani minuman menyegarkan. Dia kemudian memeriksa ponselnya, melihat kembali obrolan Hanna yang dibalas Katlyn.


Dia terkekeh dengan obrolan dipesan itu.


"Hanna. Aku seneng bisa liat kamu lagi setelah sekian lamanya, apalagi aku liat kamu disini. Negara yang pengen kita kunjungin sama-sama, ketemu Victor Hugo, ngeliat menara Eiffel."


"Kenapa? Kenapa? Apa karena romantis?"


"Bukan."


"Terus?"


"Mau ketemu Victor Hugo."


"Victor Hugo? Kalau gitu, kita bisa liat menara Eiffel sama-sama."


"Heem."


"Bener yah berarti kamu harus janji sama aku. Promise?"


"Promise."


Dia tersenyum setelah mengingat kenangan itu.


"Maaf. Aku nggak bisa nepatin janji."


...****************...


Sisa 3 jam waktu pemberangkatan untuk mereka berangkat ke bandara.


Hanna kembali kesal dengan Arnold dan sebaliknya Arnold merasa kesal dengan Hanna. Kencan mereka kemarin berjalan lancar, tetapi ketika Arnold tidak sengaja melihat pesan yang didapat pacarnya, dia membukanya. Obralan yang begitu menyenangkan padahal Hanna tidak mengenalnya sama sekali. Tapi, Arnold tahu, siapa dibalik pesan itu.


"Ini apa?" Suara yang begitu dingin dari Arnold sambil memperlihatkan pesan yang didapat Hanna.


"Oh itu ada orang yang ngirim pesan sama aku, tapi ditanya siapa malah nggak jawab," balasnya dengan tenang. "Oo.. dia udah bales? Siapa katanya?" Hanna melihat pesan terakhirnya yang sudah dibalas oleh orang yang tidak kenal itu.


Arnold memberikan ponsel tersebut.


...Unread message...


| Hidup adalah bunga yang cinta adalah madu


10.59


| Seperti aku dan kamu


10.59


| Aku tidak bisa hidup tanpa cinta dari kamu


11.00


...Read...


Hanna diam tidak bisa berkutik. Balasan yang tidak terduga.


"Arnold, aku nggak tahu dia bakalan bales kayak gitu. Aku juga nggak tahu siapa dia, makanya aku tanyain."


"Kamu nggak cinta sama aku, Han."


"Kak dengerin penjelasan Hanna dulu." Hanna gelisah. "Itu cuman chat doang. Hanna juga nggak tahu siapa dia."


"UDAH HAN!" cecarnya membuat Hanna tersentak. "Nggak ada yang harus kamu jelasin lagi! Kamu emang nggak cinta sama aku Hanna... Kamu nggak usah berusaha buat... buat jatuh cinta sama aku. Aku tahu di hati kamu masih ada Fauzan!"


Fauzan. Hanna mulai ikut geram, padahal masalah ini tidak ada kaitannya.


"Kak! Kenapa kak Arnold bawa-bawa Fauzan? Udah lama aku lupain dia. Dia nggak ada hubungannya sama masalah kita ini! Cuman gara-gara pesan dari orang yang nggak Hanna kenal, kak Arnold udah kayak ginih!"


"Iyah kamu yang nggak kenal. Tapi aku kenal siapa dia!"


"Emang siapa?" tampiknya.


Arnold diam.


"Siapa, Kak?" ulangnya lagi.


Arnold masih diam tidak menjawab.


"Oke kalau kak Arnold nggak mau jawab. Aku mau pulang ke hotel."


"Han..."


"Hanna..."


"Aaargkh...!"


Hanna pergi mengabaikan Arnold yang memanggilnya. Arnold tidak mengejar, dan saat itu Hanna meminta tolong pada Zeki untuk menjempu karena Hanna sendiri tidak tahu jalannya.


"Kenapa kak Arnold malah ngungkit masa lalu."


Hanna duduk di sebuah taman dekat hotel ditemani oleh sahabatnya, Zeki.


"Padahal aku berusaha buat lupain... Zeki... Kenapa kak Arnold jadi berubah kayak gitu setelah jadian."


Zeki mengangkat bahunya tidak tahu. Hanna cemberut.


"Han pinjem HP lo dong."


Hanna memberikannya sambil bertanya, "Buat apa?"


"Penasaran sama chatan lo sama orang asing itu heheh."


Hanna tidak mempedulikan. Zeki membaca pesan dari awal sampai akhir, dia malah tertawa.


"Kenapa ketawa? Emang ada yang lucu?"


"Lucu lucu lucu..." kekehnya. "Tapi norak juga."


Hanna mendengus jengkel.


"Serius deh, gue jadi penasaran sama orang ini. Menurut lo siapa yah?" tanya Zeki.

__ADS_1


"Mana ku tahu, nanya ke gue. Tanya tuh kak Arnold katanya dia tahu," kelitnya masih kesal.


"Deuh... kalian ini, baru juga jadian udah ngambek-ngambekan," sindir Zeki. "Berapa hari sih? Baru dua hari kan?"


"Hem."


"Tapi Han, sorry yah."


Hanna menoleh, suaranya berubah. "Kenapa lo minta maaf?"


"Gara-gara ucapan gue waktu itu, lo jadi kepikiran soal kasih kesempatan buat bang Arnold," sesalnya.


"Bukan salah lo, ini salah gue," balas Hanna tersenyum sesal


"Gue mau minta lo jujur sama diri lo, Han. Lo masih terjebak sama perasaan lo di masa lalu kan?" tanyanya. Hanna terdiam menatapnya. "Sebelum hubungan lo makin jauh dan makin runyam, lebih baik lo akhiri sekarang juga."


Kata-kata yang sama dari Gina untuknya. Akhiri sekarang juga, daripada menyesal, sama-sama tersakiti.


...****************...


Fauzan meraih mantelnya segera ia kenakan.


"Fauzan? Kamu mau kemana?"


"Jardin du Luxembourg," jawabnya sambil ngambil kunci mobilnya di atas meja.


"Ada yang ganggu pikiran kamu?"


Jardin du Luxembourg adalah tempat yang Fauzan sukai di Paris. Terkadang dia selalu menenangkan dirinya disana sendirian.


Fauzan hanya tersenyum. "Gue pergi dulu."


...****************...


Semua orang bersama-sama keluar dari hotel, bus sudah menunggu di depan. Mereka akan menuju bandara untuk kembali ke Indonesia.


Hanna melirik keberadaan Arnold yang tengah mengurusi semua orang. Hanna cemberut, Arnold sama sekali tidak menemuinya lagi setelah kejadian itu. Saat hendak masuk ke dalam bus, tangan Arnold menghalanginya.


"Pak! Awas saya mau masuk."


Arnold bukannya menjawab, malah menyuruh supir bus berangkat. Hanna membulatkan mata tertegun.


"Eh..? Kenapa berangkat? Hei! Saya belum keangkut! Berhenti! Stop!" Hanna berusaha memberitahu orang-orang yang sudah berada di bus. Tapi mereka semua malah menontoninya.


"Pak...!" cecarnya menatap Arnold begitu tajam, melihat kembali ke depan bus itu yang semakin jauh. "Kenapa bapak nyuruh bus itu berangkat? Kita gimana? Nanti kita bisa ketinggalan pesawat!"


Arnold bersikap tenang. Sedangkan Hana sebaliknya. "Hanna."


"Apa?" ketusnya.


"Kita harus selesain disini juga."


"Kita bisa beresin masalah kita nanti, kamu mau ketinggalan pesawat?"


"Fauzan ada disini," ungkap Arnold.


Hanna diam sejenak matanya yang menyipit itu kembali normal. "Aku tahu."


Hanna tertegun. "Jadi, gara-gara ini kamu bersikap aneh."


"Aku mau tanya satu hal sama kamu sebelum kita pulang," ucapnya. Hanna dibuatnya bingung. "Apa kamu masih cinta sama Fauzan?"


"Kak aku kan udah bilang itu--"


"Jawab Han, sebelum semuanya terlambat. Aku mau ngelepasin kamu."


"Kak..." Hanna meraih tangannya.


"Hanna. Aku sadar, hubungan kita ini hanya satu pihak. Aku rela kalau kamu mau pergi ke dia karena dari awal aku emang nggak ada di hati kamu. Aku nggak akan kasih kesempatan ini lagi, kamu masih cinta sama Fauzan?"


Hanna tersenyum namun begitu sendu, ia mengangguk. Arnold tersenyum.


"Ayok, kita temuin dia."


"Tapi kemana?"


Arnold baru sadar dia juga tidak tahu harus kemana. "Ah nomor itu."


Hanna segera mengambil ponselnya. "Kak Arnold yakin nomor ini nomor Fauzan?"


"Aku yakin. Coba hubungi."


Hanna angguk segera melakukannya. "Nggak diangkat, kak."


"Coba lagi."


"Masih, kak."


"Kalau kamu jadi dia, kamu mau pergi kemana?"


Hanna diam memikirkannya.


Aku jadi dia....


"Kenapa? Kenapa? Apa karena romantis?"


"Bukan."


"Terus?"


"Mau ketemu Victor Hugo."


Kenangan itu kembali muncul.


"Victor Hugo, Kak."


"Victor Hugo? Siapa?"


"Penulis asal Perancis."


"Terus hubungannya apa?"

__ADS_1


Hanna diam sulit untuk mengatakannya. Namun ia langsung menyalakan kembali ponselnya dan mencari sesuatu di internet.


"Kak kita kesini."


Hanna menunjukkan sebuah tempat yang bernama Maison de Victor Hugo.


"Yaudah kita langsung ke sana."


"Tunggu, kak."


"Apa lagi?"


"Kita kesana naek apa?"


Arnold tersenyum, lalu mengambil sesuatu di dalam sakunya. Kunci mobil. Meski Hanna kebingungan darimana Arnold bisa memiliki mobil, tapi ia urungkan untuk bertanya. Terpenting sekarang dia harus menemukan Fauzan.


...****************...


Duduk di kursi yang telah disediakan sambil membaca buku, disuguhi pemandangan yang indah dan suasana damai. Di sini dia selalu menemukan kenyamanan.


Dulu, dia sama sekali tidak suka buku. Tapi sekarang dia malah menikmatinya karena dia tidak tahu harus berbuat apa lagi di sini selain berfoto. Ia juga tidak menyangka akan mengambil profesi sebagai model, karena itu saran dari ibu angkatnya, Paris.


Membaca buku berjudul Les Misérables sebuah novel sejarah Perancis yang dikarang oleh Victor Hugo. Pengalaman dan perjuangan mantan narapidana Jean Valjean yang dihukum 19 tahun di atas kapal kerja paksa hanya karena mencuri sebongkah roti. Dengan kisah cinta yang sedikit namun berarti, dihadapi dengan dengan dua pilihan yang sama-sama menyakitkan.


Disini lah tempat kedua tokoh utama novel Les Misérables bertemu pertama kalinya.


Yang Fauzan duduki ini.


...****************...


Dihadapkan pada dua pilihan, apakah ia harus berbuat jujur mengatakan ketakutan dan kekhawatirannya dan menghalang-halangi cinta Hanna kepada Fauzan, ia akan menyakiti hati Hanna yang sudah dianggap sebagai adiknya sendiri, apapun ia akan lakukan demi kebahagiannya. Atau berbuat baik dengan membiarkan Hanna dan Fauzan saling mencintai, cepat atau lambat ia akan kehilangan Hanna, satu-satunya perempuan dalam hidupnya yang ia cintai dan sayangi.


Dan itulah dua pilihan yang dipilih Arnold untuk kisah cinta Fauzan dan Hanna. Dia akan merelakannya.


Hanna dan Arnold telah tiba di Maison de Victor Hugo, yang merupakan rumah tempat Victor Hugo tinggal selama 16 tahun dan sekarang telah menjadi museum tersendiri.


Arnold masih bingung apa mungkin Fauzan berada di museum ini, tapi kemungkinan besar Fauzan tidak akan ada. Perancis cukup luas.


"Ketemu?"


"Nggak, kak. Kita harus kemana lagi?"


"Aku juga nggak tahu. Coba kamu hubungi lagi."


Kembali untuk menghubungi nomor Fauzan yang mereka kira. Namun masih tetap saja tidak ada jawaban darinya.


"Nggak diangkat, kak."


"Coba kamu pikirin lagi tempat yang kemungkinan Fauzan bakalan disana."


"Aku... nggak tahu..."


Hanna tampaknya murung. Arnold mencoba membangkitkan semangatnya. "Kita cari lagi."


Entah akan mencari kemana, mereka juga tidak tahu. Mereka akan mencari ke setiap sudut Perancis sampai menemukannya.


...****************...


Di depannya ada anak-anak kecil yang bermain dan berlari. Fauzan tersenyum hanya karena itu, dia segera meletakkan buku yang ia baca lalu mencoba memotret anak-anak kecil itu dengan kameranya.


Lucu.


Akhirnya dia berjalan-jalan sebentar di sekitaran sini.


...****************...


Mobil terparkir.


"Kita cari dulu disekitaran sini."


Hanna mengangguk.


Mereka memasuki sebuah taman yang Luxembourg yang luas.


Meskipun dulu sangat menyakitkan bagi kami, tapi sekarang aku tidak ingin melepaskanmu lagi. Masa lalu mungkin menjadi kenangan yang menyakitkan bagi kita tapi sekarang aku ingin membangun kebahagiaan denganmu untuk menggantikan masa lalu itu.


Kamu adalah kebahagiaan ku yang terakhir yang belum aku gapai.


"Han," panggil Arnold. Hanna segera menoleh mengikuti arah yang ditunjuk olehnya.


Fauzan.


Kami menemukannya.


Tidak terduga.


Arnold menyuruh Hanna untuk menghampirinya.


Dengan degup jantung begitu gugupnya Hanna untuk melangkah menemui dia. Seolah dia kembali menghampiri masa lalu. Melupakan tentu itu sangat sulit, karena menerima adalah jawabannya. Sakit yang ia rasa dengan menerima kebahagiaan akan kembali.


Dia berbalik dengan lensa kamera yang mengarah padanya. Fauzan tertegun mendapatkan sosok Hanna di depan matanya.


"Hanna? Kamu kenapa bisa ada disini?"


"Fauzan... kamu udah bisa liat?"


Arnold tidak memberitahukannya.


Fauzan mengangguk sebagai balasan lalu tersenyum tipis. Hanna menunduk lega, air matanya keluar. Dia begitu bahagia mendekat kabar itu.


"Hei, kenapa nangis?"


"Aku selalu merasa bersalah sama kamu, sama Fauzi. Kamu yang nggak bisa liat lagi. Tapi sekarang... aku tenang, kamu udah bisa liat," ungkapnya.


Fauzan menarik tubuh Hanna dalam dekapannya.


"Maaf sudah membuat kamu menderita."


......................


Dan di sana Arnold tersenyum melihat mereka bisa bersama lagi. Setelahnya dia meninggalkan tempat ini.

__ADS_1


...🥀...


__ADS_2