Me And Yu : Maevino

Me And Yu : Maevino
Eps. 61 'Me2Yu' : Puing-puing


__ADS_3

Hujan telah reda. Akhirnya karena rumah Gina tidak jauh dari tempat tadi, dia mengajak Arnold ke rumahnya untuk sekedar beristirahat disana sembari memperbaiki motornya yang tidak mau menyala.


"Ayok kak masuk," ajak Gina.


Gina dan Arnold masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian seorang wanita tua terlihat dengan bantuan tongkat. Gina segera memberi salam padanya. "Assalamu'alaikum, Nek."


"Waalaikumssalam," balasnya. "Siapa, neng?"


Arnold langsung menyapa, mencium punggung tangan yang Gina panggil neneknya.


"Nek, ini kak Arnold, kakak tingkat nya Hanna di kampus. Tadi nggak sengaja ketemu di jalan, kak Arnold baru sampai dari Jakarta, terus motornya mogok. Jadi, Gina ajak dulu kesini," jelas Gina. "Nggak papa, kan?"


"Nggak papa," jawab neneknya yang lemah lembut terdengar sundanya. "Bawain minum." Gina angguk. "Kamu ganti dulu bajunya, basah ini," kata nenek.


Gina berseri. "Oke, Nek."


"Kamu juga ganti," lanjutnya kepada Arnold. Arnold menganguk senyum. "Ada baju gantinya? Kalau nggak ada pake yang kakek dulu."


"Nggak usah nek nggak usah repot-repot. Saya bawa baju ganti, ada di tas."


Nenek itu tersenyum. "Kalau gitu, kalian ganti baju dulu."


"Ayok, Kak."


...****************...


Hanna dan Fauzi berjalan pulang setelah hujan reda. Bergandengan tangan kembali ke rumah Hanna. Berhenti di depan gerbang, saling memandang satu sama lain. "Sana masuk. Hangatin badan kamu." Fauzi sambil mengusap-usap Hanna. "Kasian pacar aku kebasahan ginih."


Hanna senyum. "Iyah, kamu juga."

__ADS_1


Fauzi menganguk pelan. Gandengan tangan itu terlepas. Perlahan Hanna melangkah kakinya masuk ke dalam sambil melirik-lirik untuk melihat Fauzi di belakangnya. Fauzi pun sebaliknya, dia perlahan pergi sambil melambaikan tangannya, tersenyum. Hanna membalasnya.


Pintu rumah terbuka, Hanna langsung bertemu dengan ibu dan kakak tirinya. "Udah pulang."


"Iyah, Mah."


"Eh kamu kehujanan?" paniknya.


"Sedikit kok, Mah."


Ibunya khawatir. "Kamu langsung mandi pake air hangat, nanti mamah bawain teh hangat ke kamar kamu."


Hanna tersentuh. "Makasih mamah."


Meski Hanna bingung dengan ingatan yang dimilikinya. Seolah-olah ingatan itu berputar keluar dari tempatnya, dia hanya ingat kejadian indah. Masalahnya adalah dia benar-benar tidak mengerti. Kakak Bella, dia ingat siapa Kak Bella. Tapi dia tidak ingat bagaimana dia bisa mengenalinya, bertemu dan berhenti pada saat itu tidak tahu seperti apa sekuelnya. Dan seterusnya untuk orang yang dia kenal.


"Kak,, kak Annisa sebenarnya kemana? Kenapa kakak nggak bisa dihubungi? Mamah juga nggak mau ngasih tahu." Hanna sedih. "Sebenarnya apa yang Hanna lupain? Kak... Hanna kangen. Hiks..."


...****************...


Fauzi yang sedang berbaring di kasur menatap langit-langit ruangan. Beberapa hari dengan orang yang dicintainya membuatnya bahagia tetapi kebahagiaan itu tidak sempurna karena cintanya bukan untuknya. Menjadi kekasih bayangan untuk menggantikan peran saudara kembarnya.


...****************...


Titik cahaya membawanya ke suatu tempat. Seolah-olah dia baru saja terbangun dari kematian, membawanya ke surga.


Tempat ini indah, bukankah disebut surga? Tapi keindahan itu membuatku merasa kesepian. Sendirian.


Dia sudah lama terjebak di tempat ini. Selalu duduk di bawah pohon dikelilingi oleh bunga-bunga cantik, dan mengingat sesuatu sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


...****************...


Langit tiada mungkin tidak berganti. Malam yang sunyi selalu menghadirkan dia dalam kepalanya. Namun kehadirannya kali ini, seakan membuat hatinya semakin ragu. Apa dia benar-benar orang yang ia kenal selama ini? Terus mengatakan bahwa dia benar, tetapi perasaan selalu menolaknya. Sebaliknya, itu jatuh pada saudaranya yang memiliki wajah serupa. Sikap yang sama persis, cara dia berbicara, tingkah laku, dan leluconnya juga sama. Dan seolah-olah dia sedang mempermainkan orang lain.


Malam kali ini, malam yang tidak terjaga. Malam yang membunuh jiwanya dengan banyak pertanyaan.


"Mah? Kak Bella?"


Dia mencarinya, pikirnya mereka sudah tidur. Hanna keluar mencari angin, sekedar jalan-jalan untuk menenangkan pikirannya.


Berjalan tanpa arah, tanpa memikirkan ke mana harus pergi. Ia tersenyum saat terlintas di benaknya keanehan pemuda yang kini telah menjadi pasangannya itu. Hal aneh yang selalu dia lakukan, sapu tangan saat hujan, lalu permen, ingat dihukum bersama, membolos, dan ... duduk di studio untuk menyiarkan kehidupan di radio. Namun yang membuatnya tersenyum adalah ketika ia selalu menahan tawanya dan tidak ingin tersenyum, ekspresi yang ia berikan mampu membuat Hanna ingin tertawa. Itu lucu.


Saat harapan itu telah tercapai dalam genggamannya. Mengapa dia bertingkah berbeda? Kalimat yang dia berikan untuk menjawab pertanyaan bukanlah yang diinginkan Hanna. Selalu berbeda dengan jawaban yang pernah dia jawab sebelumnya.


Lamunannya membawanya ke suatu tempat. Tersadar, dia menjadi kebingungan. "Ini dimana?" Melihat sekeliling, jalanan tidak ramai tapi juga tidak terlalu sepi. Jalan untuk persimpangan, melihat ke kanan, ke kiri dan tempat dimana dia berdiri sekarang. Sebuah gambar tiba-tiba muncul di ingatannya. Hanna merasakan sakit di kepalanya, reruntuhan ingatan yang hilang dengan cepat berkumpul di kepalanya.


"A-ah-aw...." Tangannya terus memegangi kepala yang kesakitan dengan tatapan bingung dan panik. Jalan ini membuatnya mengingat apa yang telah terjadi padanya. "Kak Annisa!!!" Serak, tangisan yang terdengar. "Nggak! Enggak! A-ah..!!" Kenangan yang hilang muncul bertabrakan satu sama lain dan menumpuk membuat hatinya merasakan sesak di dadanya.


Deg!


"Hanna!"


Tangan itu ada di bahu Hanna, seseorang memanggilnya dengan panik. Hanna menoleh ke belakang untuk melihatnya, kepanikan yang dirasakan tiba-tiba terdiam dengan nafas yang tidak teratur. Tampak begitu serius dan fokus, dengan jaket hitam yang tidak familiar, juga memakai topi.


"Kamu...."


...🦄🥀...


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2