
Netherlands
Aji tidak bisa menahan tawanya lagi. Ia mengeluarkan handphone untuk merekam kegilaan mahasiswi Indonesia perantauan tersebut.
"Yaaaa Mas Aji! Jangan direkam?!"
"Hahaha."
Yollanda menghampiri Aji untuk menghentikannya. Aji terus menghindar agar handphonenya itu tidak diambil oleh Yollanda.
"AJI!!!" MAS GANTENG DARI TANAH JAWA! IH!!"
"Weiii kayaknya asik india-indiaan ya?" Suara tiba-tiba menghentikan keributan Aji dan Yollanda.
Sosok Tyo yang sudah berada di dekat kami tengah bermain sesuatu dengan handphonenya. Ya, dia merekamnya.
"Lanjutkan lanjutkan... Gue abadikan moments kalian berdua, guys."
"Ngadi-ngadi ni anak," kata Aji memberi telunjuk.
Segera Aji mendekati Tyo dan terjadilah peperangan dua sejoli Anak Dahlan.
Nampak seseorang yang ditunggu-tunggu oleh Tyo sudah terlihat.
"Fauz-i-Fauzan," teriak Tyo. Dia hampir keceplosan.
"Ji sorry nih gue cabut dulu. Eh Mbak Yolla gue cabut dulu ya. Noh gue kasih kesempatan buat berdua-duaan sama Mas Aji lo ini. Bye."
"Eh Bulyo, lo mau pergi ke mana?" tanya Aji.
Namun Tyo hanya melambaikan tangannya saja mengarah menemui Fauzi.
"Sejak kapan dia main sama Si Fauzan? Ck."
"Hei baby why?"
Plak. Pukulan mendarat di dahi Yollanda.
"Aww!" Yollanda melotot pada Aji.
"Baby baby jijik gue. Bye."
Aji pergi.
"Mas Aji tungguin aku..." Yollanda menyusulinya.
......................
"Kita jadi nemuin ibunya Hanna?" tanya Tyo.
Fauzi mengangguk.
"Lo yakin nggak bakalan di usir lagi?"
"Nggak tahu juga. Yah yang penting kita terus coba."
Tak lama Katlyn tiba. "Ayok."
"Gue bawa mobil. Kita naik mobil aja," ujar Tyo.
"Kali ini kamu berguna juga," sindir Katlyn.
"Hei beautiful girl... Gue ini orang yang berguna kapanpun dan di mana pun."
"Yeah yeah yeah good."
__ADS_1
"Lebih baik kita pergi sekarang," sahut Fauzi.
"Okay."
...****************...
Indonesia. Jam 18.00 WIB.
...Allaahu Akbar, Allaahu Akbar....
...Asyhadu allaa illaaha illallaah....
Suara adzan magrib terdengar.
Arnold dan Hanna masih dalam perjalanan.
"Hanna." Suara Arnold sedikit mengeras.
"Iyah kak?"
"Kita sholat dulu ya."
"Iyah kak boleh."
Mereka berhenti di sebuah mesjid.
Segera mereka mengambil wudhu dan menunaikan sholat magrib berjamaah.
Manusia hidup beribadah kepada Tuhan. Ialah mereka yang selalu berpegang teguh kepada-Nya. Mereka telah selesai beribadah magrib. Satu persatu telah meninggalkan mesjid.
Hanna pun selesai berdoa, ia melepaskan mukenanya. Menatap pada celah ke depan sosok Arnold masih berada di sana duduk untuk berdoa. Hanna pun beranjak pergi lebih dulu keluar.
Arnold yang khusyuk berdoa meminta pertolongan kepada Allah.
Rabbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzabannar.
"Aamiin."
Arnold segera pergi.
Nampak Hanna sudah siap di luar sana. Dia tengah memainkan ponsel.
"Kak Arnold," panggil Hanna. Arnold hanya menatapnya sembari mengikat sepatunya. "Mm Hanna mau ke tempat lain dulu kak. Kak Arnold duluan aja, makasih udah mau anterin Hanna pulang."
"Mau ke mana dulu?"
"Ngambil barang yang ketinggalan di temen."
"Yaudah gue anter."
"Tapi, Kak."
"Naik."
"Nggak mau!" Arnold sedikit terkejut karena Hanna sedikit berteriak. "Eh maaf kak. Nggak sengaja. Hehe." Hanna malah terkekeh. "Hanna berangkat sendiri aja."
"Udah malem. Di sini rawan."
"Serius kak?" kejut Hanna tiba-tiba.
Arnold mengangguk.
"Yaudah deh kak, anterin Hanna ya."
Arnold tersenyum. Ia hanya mengelabuinya saja. Mereka berdua melanjutkan perjalanannya kembali.
__ADS_1
...****************...
Di sebuah cafe tempat bekerjanya Afra. Dia tengah membuat minuman untuk pelanggan yang datang.
Pelanggan setia, pelanggan yang tidak pernah bayar, pelanggan yang sering membuntutinya, pelanggan yang tidak pernah lelah untuk mendekatinya. Tapi dia juga orang yang telah membantu Afra untuk bekerja di sini.
Afra meletakkan minuman itu di meja. Tak! Terdengar suaranya.
Hendak pergi.
"Fra, temenin gue."
"Gue masih harus kerja, Lang."
"Gue pesen dua minuman. Satu lagi lo yang harus minum."
"Tapi--"
"Wait .."
Gilang sedang melihat ke arah jam dinding berada.
"1, 2, 3, 4.... 5! Yah! Jam kerja lo udah selesai."
Afra hanya bisa tersenyum. Tingkah lakunya ada-ada saja. Padahal jika di kampus sikapnya ini seperti badboy.
Afra pun duduk.
"Gue minum ya. Makasih."
"Sama-sama." Gilang begitu senang.
"Setelah ini kita ke kampus bareng."
Afra pun mengangguk. "Gue nunggu temen gue dulu."
"Siapa?"
"Hanna."
"Ohhh." Gilang hanya ber'oh. Lalu teringat sesuatu. "Eh gue baru inget. Temen gue ada yang nanyain temen lo itu."
"Hanna?"
"Iyah. Minta nomer HP-nya."
"Bilangin ke temen lo. Minta aja sendiri."
Gilang malah tertawa. "Oke deh gue sampein pesen lo itu."
Afra pun masih menyesap minuman segar manis ini.
"Ouww sepertinya ada orang yang kehausan banget."
"Banget," jawab Afra.
Tring! Trining! Suara bring bel.
Afra menoleh begitu juga dengan Gilang.
"Han..."
...🐻🌹🐨...
...Bersambung...
__ADS_1