
Hari-hari terus berubah. Hanna tidak sendirian di rumah ini, ada ibunya yang menemaninya sedangkan ayahnya yang dikenal bekerja di luar kota, sehingga tidak bisa berlama-lama di rumah. Setiap hari Fauzi selalu menemani Hanna mengajaknya keluar hanya untuk jalan-jalan, mencari angin atau sesuatu yang selalu dilakukan oleh pasangan. Namun, mereka kerap menghabiskan waktu di rumah agar Hanna bisa lebih dekat dengan ibu kandungnya, Diana. Bella juga bermalam untuk menemani adik tirinya, membawa anaknya ke sini. Sekarang mereka bermain dengan anak Kak Bella.
"Hanna, Fauzan, kakak titip si adek ya...," panggil Bella sembari sibuk dengan tas yang dibawanya.
"Kak Bella mau pergi kemana?"
"Kakak mau belanja bahan dapur, sama susu si adek abis. Kakak pergi sama ibu juga," balas Bella kemudian bu Diana datang yang sudah siap.
"Oh yaudah."
"Kena kamu... Mau kabur kemana?? Hum?" Fauzi berhasil menangkap si kecil dan langsung digendongnya.
Suara itu membuat ketiga wanita disini menoleh padanya. Fauzi asyik mengejarnya, si kecil tampaknya sudah kelelahan, akhirnya dia berhasil menangkapnya. Kak Bella dan Bu Diana tertawa tapi tidak bersuara saat melihatnya.
"Kakak sama ibu pergi dulu ya. Jagain ponakan kamu."
"Iyah, kak."
Mereka berjalan mendekat pada Fauzi yang tengah menggendong si kecil. "Mau keluar, kak? tante?"
"Iyah. Tolong jagain anak kakak dulu ya."
"Siap kak beres."
Bella tersenyum. "Sayang... mamah pergi dulu ya. Jangan rewel nanti kasian kakak Fauzan sama kakak Hanna kerepotan." Mengajak anaknya mengobrol meski si kecil belum bisa berbicara.
__ADS_1
Dan Fauzi berbicara seolah-olah si kecil yang menjawabnya. "Iyah mamah." Semua orang tersenyum.
"Han, kalau adek rewel, kasih susu. Susunya ada di atas meja dapur, sama kakak udah disiapin tinggal kasih aja."
"Iyah kak."
Bella dan bu Diana telah pergi dengan mobil mereka. Fauzi memainkan tangan si kecil yang ada digendongnya. "Dadah mamah hati-hati."
Sudah setengah jam Hanna dan Fauzi bermain dan merawat si kecil yang begitu aktif. Si kecil bisa merangkak kesana-kemari membuat mereka kewalahan. Tapi mereka menikmati momen itu. Namun tidak lama setelah itu si kecil tiba-tiba berhenti, duduk dan merengek. Keduanya dibuat panik. Fauzi langsung menggendongnya agar membuatnya tenang. Tapi tangisan itu tidak berhenti juga.
"Aaaaa...aaaa...."
"Hanna ini gimana?" Fauzi panik.
"Aku juga nggak tahu," panik Hanna.
"Ohiyah." Segera mereka pergi ke arah dapur, ada dot bayi yang sudah diisi dengan susu yang sudah disiapkan oleh kak Bella. Hanna memberikannya kepada si kecil. Tampaknya rengekan itu mulai mereda.
"Dedek nya haus ya..." ucap Hanna.
Mereka kembali ke ruang tamu sambil bergiliran menggendong si kecil. Dari Fauzi ke Hanna lalu kembali ke Fauzi. Hanna mulai bosan, dia mengambil novel untuk dibaca di sini. Hanna duduk di sofa sambil membaca. Hingga susunya habis, si kecil akhirnya bisa terlelap dalam pelukan Fauzi.
"Han si adek kayaknya udah tidur, deh."
Hanna mengalihkan perhatiannya pada Fauzi, lalu meletakkan bukunya tersebut. "Sini, biar sama aku aja." Hanna berusaha untuk tidak membangunkannya, membaringkan si kecil di bawah kasur kecil yang telah disiapkan. Hanna berhasil.
__ADS_1
Fauzi bernafas lega dia meregangkan tubuhnya. Sangat pegal mengurus bayi.
Hanna berseri. "Maaf ya ngerepotin kamu."
"Nggak papa." Fauzi tersenyum sambil duduk di sofa sambil mengambil buku yang telah dibaca Hanna sebelumnya. Tentang Hujan karya Tere Liye. "Kamu masih suka baca novel."
Hanna duduk di sampingnya, mengangguk. "Hu'um."
"Hujan?" tanyanya Fauzi menengok ke Hanna.
"Iyah." Hanna senyum. "Berusaha menghilangkan semua kenangan pahit dalam hidupnya. Ingin melupakan Hujan."
"Kamu?" Bingung Fauzi.
"Bukan. Ceritanya," terang Hanna.
Fauzi ber'oh. Dia mengira Hanna sedang membicarakan dirinya sendiri. Namun, menurut Fauzi, kalimat itu juga ada hubungannya dengan dirinya. Saat itu kami memberi tahu Hanna bahwa dia kehilangan sebagian dari ingatannya. Dan Hanna menyadari bahwa ingatannya terasa kosong, seperti teka-teki yang belum selesai. Puzzel yang kehilangan pelengkapnya untuk menjadi sempurna. Hanna berusah mengingatnya, sulit. Tapi, perasaan tidak bisa berbohong. Perasaan terdalam adalah merasakan sesuatu dari ingatan yang hilang.
"Ketika hujan dan awan saling melupakan. Akan berbeda dengan hati yang ditinggalkan," kata Hanna menatapnya. Mengingat salah satu kutipan favoritnya dalam novel karya Tere Liye.
Fauzi tersenyum dan melihat begitu dekat. "Jangan melupakannya."
"Jika itu menyakitimu?" Hanna menunggu.
"Iyah." Fauzi menarik Hanna dalam pelukannya.
__ADS_1
Karena kamu belum bisa menerima. Kebahagiaan mu akan terus tertunda.
...🦄🥀...