Me And Yu : Maevino

Me And Yu : Maevino
Eps. 57 'Me2Yu' : Kisah Arnold


__ADS_3

Kota Bandung adalah kota metropolitan terbesar di Provinsi Jawa Barat, sekaligus menjadi ibu kota provinsi tersebut. Romantisnya kota Bandung, dari zaman pendudukan Belanda sudah dikenal luas. Pamornya laksana gadis cantik yang dipingit. Bagi Arnold, bukan hanya masalah Bandung sebagai nama kota atau romantisnya disana, tapi sebagai filosofi hidupnya.


Arnold berasal dari Bandung. Dia memiliki orang tua dan juga seorang adik perempuan yang berselisih umur 6 tahun. Arnold yang sering menganggu dan menjahilinya seperti bermain-main karena itu pertemuan Arnold dengannya, membuatnya teringat pada adik perempuannya. Arnold telah memberi penjelasan pada Hanna bahwa dia menganggapnya seperti adik. Dulu.


Lahir, Siska sebagai adik perempuannya. Itu terjadi pada keluarga Arnold saat itu. Siska hilang saat masih bayi, dia diculik oleh pembantu di rumah kami. Itu membuat orang tuanya sedih juga Arnold. Kami telah berusaha mencari Siska selama bertahun-tahun. Akhirnya polisi berhasil menemukan pelaku penculikan. Tapi, seolah-olah dia benar-benar tidak bisa diajak bicara, dia menjadi gila. Membuat kami semakin marah padanya karena kehilangan putri dan adik perempuan bagi Arnold.


Pada usia 14 tahun, ibunya meninggal, disusul ayahnya karena sakit saat Arnold masuk SMA. Arnold sangat sedih, semua orang meninggalkannya. Dia mendapat secercah harapan pada saudara perempuannya yang hilang. Berharap adiknya masih hidup. Mencari informasi yang telah dikumpulkan oleh ayahnya saat itu, dan berakhir di Panti Asuhan Pelangi ini. Mungkin bisa jadi adiknya dibawa kemari dan diurus oleh panti asuhan.


Arnold bertemu dengan ibu panti, Malini. Secercah harapan terpenuhi saat Arnold menunjukkan foto Siska meski masih bayi. Foto tersebut memperlihatkan sang adik mengenakan kalung bertuliskan namanya, Siska. Dan ibu panti mengenalinya. Arnold bernafas lega setelah mendengarnya. Dia begitu bersemangat untuk bertemu dengan saudara perempuannya. Tapi, kenyataan pahit dilanda lagi oleh Arnold bahwa Siska sudah diadopsi oleh keluarga, seorang tentara.


Tak hanya itu, ia mengunjungi alamat keluarga yang mengadopsi adiknya. Tapi kalah cepat, keluarga itu sudah pindah. Tidak ada yang tahu kemana pindahnya. Setelah lulus SMA, Arnold tidak bisa lagi tinggal di rumah yang ditinggalkan orang tuanya karena harus menjualnya, ia pindah ke Jakarta dan tinggal bersama kakeknya di sana.


Bertahun-tahun mencari Siska, adiknya. Dan sudah lama sekali sejak Arnold muncul di kota Bandung ini. Sekarang dia kembali karena mendapat informasi tentang saudara perempuannya di sini. Arnold mengunjungi sebuah rumah.


"Punteun.. Permisi. Assalamu'alaikum."


Wanita tua keluar dari pintu rumah yang sudah terbuka. "Waalaikumssalam." Setelah saling melihat, Arnold senyum bersalaman dengannya. "Punteun, bade ka sahanya?"

__ADS_1


Mereka pun duduk di kursi yang ada di halaman rumah ini.


"Gini, Bu. Saya datang kemari ingin menemui bapak Suprianto, bapaknya ada?"


"Bapak Suprianto.. majikan saya?" tanyanya. Arnold tidak pasti, dengan itu. "Abdi teh henteu damel deui sareng Pak Suprianto saatos bapak... sareng kulawargana ngalih ti Bandung."


Sedikit tergores harapan Arnold. "Saya kesini cari adik saya yang diadopsi sama beliau, namanya Siska."


"Non Siska?" Ibu itu tercengang. "Jadi, Non Siska teh masih gaduh keluarga."


"Adik saya hilang sejak bayi, Bu."


Arnold meninggalkan rumah itu dengan sepeda motor Cross-nya. Mengendarai sepeda motor perlahan pikirannya memikirkan apa yang dikatakan ibu tadi. Motornya berhenti, Arnold membuka helmnya mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya.


Ternyata ada beberapa panggilan tak terjawab dari Zeki dan Mia. Arnold memutuskan untuk menghubunginya dulu. Takut terjadi sesuatu hal yang penting.


📞 "Eh bang..." Suara Zeki menggelegar di gendang telinganya Arnold.

__ADS_1


"Ada apa?"


"Ini bang. Kita tuh ngajak abang ke Bogor. Kita diajakin sama temen-temennya Hanna, sekalian liburan juga. Tapi, karena abang nggak bisa dihubungi, jadi kita berangkat duluan. Kita bentar lagi nyampe. Kalau mau, abang nyusul kesini."


"Gue masih di Bandung."


"Di Bandung? Ngapain bang?"


"Ada urusan," tawar Arnold.


"Yaa gini aja kalau mau ikut, nyusul aja bang. Temen-temen Hanna pada baik ngajakin kita."


Dibalik itu Arnold tersenyum tipis. "Yah nanti gue kabarin lagi."


"Oke bang."


Telepon berakhir, Arnold terdiam setelahnya. Dia memikirkan sesuatu.

__ADS_1


...🐨🥀...


__ADS_2