Me And Yu : Maevino

Me And Yu : Maevino
Eps. 62 'Me2Yu' : Mengiklaskan adalah Jawabannya


__ADS_3

Berlanjut ....


Saat ini Fauzi sedang memasak di dapur karena Bi Asih tidak ada, Fauzi menyiapkan makan malamnya sendiri berencana memasak nasi goreng. Dia dengan lihainya memotong sayuran hijau. Tak tak tak .... Tapi. "Ssshh.." Dia tidak sengaja melukai jarinya dengan pisau tersebut.


Dia berhenti dengan cemas untuk melihat darah yang keluar dari jarinya. Berjalan, pucat sekali untuk membersihkan lukanya. Detak jantungnya tidak stabil, dia berusaha mengatasi fobianya. Namun alih-alih fobia itu membuatnya mengingat peristiwa mengerikan di masa lalu, ia mengingat kecelakaan yang menimpa semua orang, dan saudara kembarnya. Terus membersihkan luka itu dengan air yang akhirnya darah itu berhenti keluar. Fauzi lemas, dia mengatur nafasnya. "Hah.. kenapa fobia gue belum ilang juga."


Pada saat-saat seperti itu dia tidak nafsu makan, dia pergi untuk mengambil jaket dan memakai topi yang ada, pergi keluar untuk menenangkan diri. Berjalan melewati kompleks taman, lalu menyapa penjual nasi goreng, Fauzi hanya sekedar berjalan-jalan di sekitar perumahan.


Fauzan.. gue harus ngelakuin apa lagi buat lo bangun dari koma? Gue... gue nggak tahu lagi. Dan Hanna,, gue merasa bersalah sama kalian berdua. Gue manfaatin keadaan kalian. Maafin gue.


Perasaan menyesal karena telah mengecewakan saudara kembarnya dan juga Hanna. Dia tidak menyadari bahwa dia sebenarnya telah membantu mereka berdua. Mengorbankan hidupnya, impian dan juga cintanya.


Saat langkah kaki terhenti melihat rumahnya Hanna. "Dia udah tidur belum ya?" Tapi segera orang yang dia ingat terlihat keluar dari rumahnya. Fauzi tersenyum. Dia mengikutinya dari belakang memberikan jarak di antara mereka. Terus tersenyum meski memandanginya dari belakang.


Malam yang sepi hatiku gelisah saat bunga tidur menghantui. Tuhan tahu bagaimana menghibur malam ini. Dengan bintang-bintang. Bersama dengan bulan. Denganmu. Hatiku sudah tenang kembali.


Bukankah ini peranku? Aku hanya bisa melihatnya, melindunginya, mencintainya. Tapi tidak untuk memiliki.


Fauzi terus mengikutinya yang terus berjalan seolah tidak tahu tujuan. Sudah berjalan cukup jauh dari perumahan.


"Dia mau pergi kemana?"


Tetapi pada akhirnya gadis itu berhenti dan dia juga berhenti, memeriksa, menunggu apa yang akan dia lakukan. Hanna hanya berdiri diam tapi tak lama kemudian dia menjadi sedikit aneh. Dia tampak bingung, cemas dan panik. Fauzi tidak bergerak sama sekali, dia masih memperhatikannya dengan cemas.


"Kak Annisa!!!" Serak, tangisan yang terdengar. "Nggak! Enggak! A-ah..!!"


Hanna berteriak kesakitan sambil memegangi kepalanya. Menyebut nama Kak Annisa? Membuat Fauzi semakin mencemaskannya. Apa ingatannya sudah pulih? Fauzi segera berlari menghampiri untuk memastikannya.


"Hanna!"


Fauzi begitu panik hingga ia meletakkan tangannya di bahu Hanna. Mereka saling bertatapan tetapi keduanya mengundang kepanikan satu sama lain.


"Kamu...." Fauzi menjadi terheran dengan tatapan yang diberikan oleh Hanna.


Ingatan muncul kembali pada Hanna beberapa tahun yang lalu. Jaket biru langit, topi itu... Di saat dia terpuruk kehilangan kakaknya pada malam yang deras karena hujan. Seorang pemuda datang memberinya payung. Dan itu. "Jadi, orang itu kamu. Fauzan."


Fauzi semakin bingung dibuatnya.


Apa itu yang kamu maksud dengan pertemuan awal kita?


Hanna tersenyum menatap sendu. Lalu senyuman itu menurun melihat dia, dia bukan dia.


Rintik hujan dengan tibanya membasahi bumi. Lagi. Dan lagi. Pada Hanna.


"Hanna ini hujan, ayok." Fauzi mengajaknya untuk berteduh. Tapi di saat ia melihat sekelilingnya.

__ADS_1


Jalan ini...


Fauzi dilanda kepanikan setelah menyadari bahwa dia berada di jalan tempat yang membuat masa lalu menjadi menyakitkan, takut, dan penyesalan.


"Aku mau tanya sesuatu sama kamu."


Fauzi tersadar.


Perasaan gugup dan panik.


Hujan membasahi keduanya. Rintik-rintik itu menjadi pertanda waktu pada mereka.


"Apa aku boleh membenci hujan?"


Fauzi bingung. Apa yang dimaksud Hanna dengan bertanya seperti itu? Sesuatu yang tidak dia mengerti. Tapi Fauzi tentu akan menjawabnya. Menjawab sesuai yang ada dipikirannya.


"Bukankah semua orang memiliki ketakutannya masing-masing?" tanyanya Fauzi menatap lekat. "Pasti itu membuat mereka membencinya. Hujan? Kamu berhak membenci apa yang kamu takuti. Tapi tidak untuk selamanya, karena itu akan membuat mu terus dititik jurang mu." Seolah mengatakan hal itu pada dirinya sendiri. Yang telah dia alami, ketakutannya pada darah.


Jalan ini. Begitu naas. Bagi ketiga remaja. Fauzan, Fauzi, dan Hanna.


Namun setelah Fauzi menyelesaikan kata-katanya, Hanna berjalan mundur dan berjalan perlahan sambil menggelengkan kepalanya. Berkali-kali jawaban itu berbeda dengan Fauzan yang dulu.


Bukan.


Aku adalah hujan, kalau tidak suka silahkan berteduh.


Bolehkah aku berharap kamu tidak membenci hujan untuk malam ini? Aku ingin menjadi hujan yang selalu kau rindukan dan menjadi payung untukmu berteduh. Seperti pertemuan awal kita.


Dia bukan Fauzan.


"Han..."


Heran dan cemas.


"Bukan." Hanna terus mengulanginya dengan ekspresi tidak percaya. Air mata mengalir kembali di pipinya meskipun air hujan menutupinya. "Kamu bukan Fauzan."


Deg! Degupnya semakin gugup dan gelisah.


Fauzi membulatkan matanya. "Hanna... Aku..." Berjalan perlahan untuk mendekat Hanna yang terus berjalan mundur membuatnya panik karena mereka telah berada di tengah-tengah jalan.


Sebuah mobil melintas menyembunyikan klakson begitu keras dan panjang. Tinnnnnn!


"Hanna!"


Mobil itu melewatinya. Hanna tidak peduli. Dirinya seakan lupa untuk bernafas. Ingatannya telah kembali. "Kamu bukan Fauzan!" tuduh Hanna. "Kenapa kamu bohongin aku Fauzi?! Hikss...."

__ADS_1


"Han aku bisa jelasin," sesalnya. "Aku ngelakuin ini buat kebaikan kamu."


Hanna terus menggelengkan kepalanya, kekecewaan kembali datang pada dirinya. Setiap saat. Setiap kenangan. "Kamu jahat Fauzi!"


"Maafin aku, Hanna. Aaaku aku nggak bermaksud bohongin kamu selama ini. Tapi aku tulus sama kamu Hanna. Aku sayang sama kamu sejak SMA."


Hanna sedikit terkejut.


"Han. Aku nggak mau ngeliat kamu sakit lagi karena sesuatu yang telah terjadi, seperti Fauzan." Fauzi tidak bisa menahan air matanya. Dia takut. Takut untuk kehilangannya lagi. "Aku minta maaf atas semuanya. Hanna,, aku minta maaf."


Waktu hampir habis untuk membuat malam begitu sepi dan menyiksa bagi dua orang di akhir keremajaan. Kesedihan, kekecewaan dan penyesalan telah memenuhi hati mereka.


"Kenapa kamu yang minta maaf?" hembusnya. "Harusnya dia! Dia yang seharusnya datang padaku dan meminta maaf." Hanna terisak-isak. "Bukannya kamu!" Sakit. Kecewa pada Fauzan.


"Karena itu aku minta maaf."


Suara Fauzi menurun tidak ada emosi.


"Fauzan nggak bisa datang," ungkapnya. "Sekedar menemui mu ataupun berbicara dengan mu."


"Apa maksud kamu?" ulangnya.


"Fauzan ada di rumah sakit."


Hanna tertegun. "Ke--kenapa? Kenapa bisa?"


"Saat kamu tahu semuanya di malam prom night itu, Fauzan kecelakaan," keluhnya. "Dia koma selama ini."


Hanna tersenyum tidak percaya. "Hah.. nggak. Nggak mungkin!"


"Han, itu kenyataannya. Kamu harus terima."


Apa yang dipikirkannya dia merasa bersalah. Jika itu terjadi. "Nggak Fauzi. Kamu bohong. Kamu nggak usah bohong lagi."


Hanna berbalik dengan gusar untuk menghindari kenyataan. Fauzi terus mengejar, berhenti dan menyadari semua yang telah terjadi selama ini. Hanna harus menerimanya. Dengan ikhlas. Agar kebahagiaan akan datang kembali. Padanya.


"Lepas!!" raungnya. "Lepasin Fauzi!"


"Han. Kamu nggak boleh lari lagi. Kamu harus terima." Fauzi menahannya untuk pergi.


"Aku nggak mau!" sesalnya. Berusaha melepaskan tapi tenaganya tidak sekuat dia. "Aku nggak mau. Hiks.... Fauzan..."


Di saat-saat sedih itu meredam emosinya. Fauzi mendekapnya. Pada pelukannya.


...🦄🥀☔...

__ADS_1


... "Geram pada malam tak hilangkan kelam, murka pada siang tak sirnakan bayang."...


...- Achmad Mustafa Bisri -...


__ADS_2