Me And Yu : Maevino

Me And Yu : Maevino
Eps. 15 'Me2Yu' Kampus


__ADS_3

Netherlands


Di kediaman apartemen Tyo berada, ia tengah berbaring dengan memposisikan kedua tangan di bawah kepalanya, pandanganya menatap langit-langit kamar memikirkan hal yang dikatakan Fauzi tadi. Sebuah kebenaran.


Saat Fauzi mengungkapkan kebenarannya itu. Tyo benar-benar merasa menyesal tidak menyadarinya dari awal. Apalagi jika teman-temannya tahu hal ini. Lebih tepatnya, Aji dan Hanna. Bagaimana reaksi mereka? Mereka juga pasti akan menyesali.


"Tolong Yo rahasiain dulu dari semuanya."


"Tapi Zi, kalau lo terus-terusan nutupin ini, bakalan nambah rumit! Kesalahan pahaman lo sama Aji itu!"


"... Lo ada niat baik ke sini, buat nyatuin keluarga Hanna. Niat lo sama Fauzan... Aji bakalan ngerti, nggak akan ada kesalahan pahaman lagi di antara kalian. Gue nggak bisa nyembunyiin ini, gue harus kasih tahu yang lainnya."


"Hey! Kamu itu harus ngertiin posisi Fauzi..!" hembus Katlyn.


"Justru sekarang gue ngertiin dia." Tyo menunjuk pada Fauzi. "Gue mau ngelurusin masalah ini, bertahun-tahun... gue, gue juga salah. Gue tutup mata sama kalian." Merujuk pada Fauzan dan Fauzi.


Katlyn tak mampu berbicara lagi karena Tyo terdengar emosional.


"Yo gue tahu, gue paham maksud lo. Sekarang ini biar mereka tunggu sampe waktunya tepat. Gue.. gue mau nyelesain tujuan gue dulu. Di sini. Apa yang diharapkan sama saudara kembar gue. Lo paham, kan?"


Tyo tidak bisa memaksakannya lagi, dia hanya bisa mengangguk pelan mengiyakan. "Kalau gitu, biar gue bantu apa yang menjadi harapan Fauzan di sini."


Fauzi mengangguk senang.


Tyo mengacak-acak rambutnya tidak bisa berpikir mengharuskan ia menyembunyikan rahasia dari teman-temannya soal ini. "Zan, gue harap lo cepet bangun dari koma."


...****************...


Indonesia


Cerahnya pagi ini Hanna dan Afra sudah kembali. Afra sudah mengantarnya kembali ke rumah sampai selamat. Hanna ternyata sudah siap dengan pakaian rapih untuk berangkat ke kampus. Berjalan sembari memeluk sebuah buku.


"Ibu... Hanna mau berangkat."


"Baru sampai udah mau berangkat lagih," ujarnya.


"Iyah bu, ada jadwal ngampus." Hanna pun sembari meraih tangannya untuk salam. "Assalamu'alaikum."


"Waalaikumussalam."


Hanna pun berjalan berhenti sejenak untuk menyapa keponakannya. "Dede gemes.. Ate Hanna pergi dulu ya." Memainkan tangan si kecil. "Dadah..."


"Dadah...." Suara bibi berpura-pura menjadi suara si kecil, ponakan.


Hanna berangkat ke kampus, ia menunggu sampai di mana jemputan sudah tiba. Ya, jemputan dengan angkutan umum.


Beberapa menit kemudian....


Hanna turun dari angkutan umum dan membayar ongkos. Ia sudah sampai di kampus, berjalan masuk memasuki kelas.


"Naaa Naaa.." Suara seseorang sembari melambaikan tangannya memberitahukan posisinya.


Hanna segera menghampiri dia, Mia. Sampainya Hanna pun duduk di samping Mia yang masih kosong.

__ADS_1


"Gue kira lo bakalan absen."


"Nggak dong," kata Hanna berseri. "Mana Zeki? Belum dateng?"


"Ciee yang nyariin gue." Suara tiba-tiba saja terdengar dari orang yang ditanyakan barusan.


Mia menyeringai mendengar hal itu. Saat menoleh ke sisi Hanna lalu ia turun ke arah meja melihat sebuah buku. "Eh lo udah dapet aja bukunya, beli di mana?"


"Lo udah ngerjain Han?" tanya Zeki.


"Gue nggak beli, dipinjemin. Ngerjain juga baru sedikit," jawab Hanna.


"Ohhh...."


"Minjem sama siapa? Di perpus kan nggak ada," ujar Mia.


"Sama Kak Arnold."


"Haaaaaaaah?" Nada suara yang panjang dari Mia dan Zeki setelah mendengar hal barusan.


"Kenapa bisa?" tanya Mia masih ragu untuk itu. Lantaran jika bertentangan dengan senior Arnold, Hanna selalu tidak mau. Dan sekarang? Dia meminjam bukunya.


"Yaa bisalah," singkat Hanna.


"Permusuhan kebencian perang Junior-Sunior pertama udah damai nih?" lirih Zeki.


"Perang Junior-Sunior..." gerutu Hanna. "Gue nggak tahu damai atau belumnya, yang pasti gue masih nggak suka."


Perkataan Mia berhenti setelah kedatangan dosen sudah tiba memasuki kelas. Mia pun tak jadi untuk melanjutkan ucapannya itu. Semua orang sudah duduk manis untuk memulai perkuliahan.


Sudah satu jam berlangsung dalam pembelajaran ini.


"Hanna Mafaza...?"


Dengan cepatnya Hanna segera menjawab. "Yah, Pak?"


"Bapak minta tolong , tolong kamu ambilin flashdisk di laci meja bapak."


"Oh baik, Pak." Hanna beranjak berdiri lalu ia segera ke ruangan dosen berada.


Hanna berjalan menyelusuri beberapa ruangan di sini untuk ke ruangan dosen.


Di sisi lain Arnold yang sedang menggantikan dosen di salah satu kelas juniornya, melihat Hanna yang tengah berjalan dengan pandangan terus ke dapan.


Tak lama dari itu, Hanna kembali terlihat. Segera Arnold bangkit dari duduknya. Ia pun membuka pintu. Terlihat Hanna terperanjat kejut karena Arnold yang tiba-tiba saja keluar dari ruangan.


"Kak Arnold...?" Mata Hanna pun melirik ke ruangan yang Arnold tadi. "Gantiin dosen?"


Arnold pun mengangguk. "Jadwal gue mulai padet lo bisa atur lagi buat ngerjain proyek."


"Yaudah mulai aja dari sekarang," ujarnya. "Kakak udah tahu kan tempatnya di mana."


Arnold pun mengiyakannya. Tak lama dari itu Arnold menoleh ke dalam ruangan. "Jangan curi-curi kesempatan... saya melihatnya." Arnold berbicara pada mahasiswa yang tengah mengisi kuis.

__ADS_1


"Ehemkkk... bapak sekarang udah punya pacar nih.." Di sela-sela tengah melakukan kuis, mereka malah menggoda seniornya itu sekaligus asisten dosen.


Jika sedang mengajar Arnold biasanya disebut bapak dan terkadang itu membuat Arnold merasa ketuaan.


"Weehhh ternyata Hanna...." sambungnya.


Hanna hanya diam tak mempedulikan ucapan mereka. Ternyata mereka adalah satu angkatan dengannya otomatis kami saling kenal.


"Kalian terus-terusan bicara saya majukan batas pengumpulannya." Mendengar hal itu mereka langsung terdiam namun masih terlihat terkekeh.


"Kalian selesainya jam berapa?"


"Sore," balas Hanna.


"Kalau udah selesai, kabari gue."


Hanna pun mengangguk. Hanna segera pergi begitu juga dengan Arnold kembali masuk ke dalam kelas.


Hanna telah sampai di kelasnya. Ia memberikan flashdisk pada dosen. Namun.


"Hanna, kamu bisa kerjakan itu." Dosen itu mengarah pada sebuah papan tulis.


Diikuti oleh Hanna mencerna terlebih dahulu untuk soal yang diberikan. Lalu ia segera menjawab tanpa kesulitan. "Suatu kegiatan komunikasi akan dapat berjalan dengan baik bila pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan komunikasi memiliki minat dan kepentingan yang sama. Persamaan itu dapat terjadi bila kedua belah pihak memiliki persamaan dalam hal frame of reference."


Semua tercengang mendengar jawaban yang sebenarnya dari tadi mahasiswa lain tak bisa menjawabnya karena faktor kelupaan. Dan sosok Hanna yang sebenarnya telah kembali.


"Jawaban kamu benar, terima kasih. Kamu boleh kembali duduk."


"Saya dapet hadiah nggak, Pak?" tanya Hanna santai kepada dosen tersebut, dosen itu juga yang merupakan wali kelasnya.


Dia tertawa kecil. "Saya kasih A+ buat kamu." Karena biasanya mahasiswa ingin mendapatkan nilai yang baik.


Semua orang bersorak sirik karena Hanna. "Huhuhuuuuuuu...."


"Saya nggak mau nilai, Pak," kekeh Hanna.


"Oyyy! Hanna shombong kali kau," canda dari teman-temannya.


Dan Hanna hanya terkekeh.


"Terus kamu mau hadiah apa?"


"Tolong tanda tangani surat izin saya untuk meminjam peralatan syuting kampus."


"Memang untuk apa?"


"Saya mengikuti lomba, Pak. Saya punya tim, anggotanya Mia, Zeki dan salah satu senior jurusan ini, Pak. Arnold Angkatan ****."


Karena perihal perlombaan, dosen itu tak bisa menolaknya juga karena itu akan menambah prestasi kampus ini jika memang mereka akan menang nantinya. "Baiklah nanti bapak tanda tangani, tapi setelah itu kalian harus menjaganya dengan baik jangan sampai rusak. Karena saya yang menjadi tanggung jawab kalian."


Hanna pun senang. "Baik pak terima kasih."


...🐻🌹🐨...

__ADS_1


__ADS_2