
Berlanjut ...
.
.
.
Hari sebentar lagi menjelang malam.
Sebuah motor cross terparkir di pinggir jalan. Jalanan trotoar ini penuhi oleh berbagai kuliner Negara tercinta kita, Indonesia. Tepatnya senior koala itu malah membawaku ke tempat kuliner ini.
"Kak! Katanya kita mau ke panti?" heran ku.
Senior itu malah tersenyum. "Kita makan dulu. "Emang lo nggak laper?"
"Emm."
Laper sih. Batinku dalam hati.
"Laper, kan? Hayoo ..." godanya.
"Nggak tuh."
Bohong.
Senior yang ku juluki Koala itu tersenyum yang membuatku melihatnya kalah telak.
"Muka lo nggak bisa dipercaya, ayok."
"Eh?"
Aku melihat ke bawah pada tanganku yang digenggamnya. Dia meraih tanganku tiba-tiba membuatku terkejut.
Dia tersenyum kembali dan mengajakku pergi ke kerumunan orang-orang yang berkuliner juga.
Aku bertanya-tanya pada sosok senior ini. Tidak ada angin tidak ada geledek yang menyambarnya. Hari ini dia berbeda. Pertama, dia mengajakku untuk pergi ke panti bersama. Dan aku pun anehnya menerima ajakan itu. Lalu, malah berakhir di tempat dengan berbagai pedagang jalanan yang memberikan berbagai macam pilihan jajanan Indonesia. Dan satu hal, dia banyak tersenyum. Itu membuatku merinding di sekujur tubuhku.
"Lo mau makan apa?" tanyanya.
Dia masih menggenggam tanganku dan melepaskan setelah ia baru menyadarinya. "Sorry."
Aku hanya mengangguk senyum kecil.
"Mau makan apa?" tanyanya lagi.
"Terse--" Baru saja aku mau menjawab ia malah memotong.
"Jangan bilang terserah."
"Hish." Aku mendengus.
"Jangan buat lo menyerahkan keputusan pada orang lain. Lo bakalan nyesel jika keputusan di tangan orang lain tidak sesuai dengan yang lo harapkan."
Secara tiba-tiba dia membuatku terkejut dengan perkataannya itu.
"Gue tahu hal itu. Gue pernah ngerasain," jawabku sedikit kesal.
Perkataan itu membuatku terbawa perasaan. Mengingatkan pada masa lalu yang sensitif. Meski sekarang sudah memaafkan mereka. Tapi, untuk mengingat itu masih sering merasakan sesak di dada. Hancur.
Aku beranjak pergi tampa mempedulikan raut wajah senior itu setelah mendengar balasanku. Sambil berjalan aku mengatakan, "Gue mau siomay." Tampa memalingkan ke belakang.
"Apa gue salah ngomong?" gumamnya.
Arnold dia kebingungan dengan perubahan sikap juniornya itu. Ketika juniornya sudah memakai 'gue' dan 'lo' untuk menyebut dirinya. Arnold menyadari dia sedang marah padanya.
Kami berakhir dengan makan siomay ditemani dengan minuman es teh. Setelah sikapnya yang berubah sampai saat ini dia hanya diam tanpa bersuara. Arnold benar-benar kebingungan untuk memulai obrolan. Dan ...
"Ohokk ohkk .."
Hanna kaget. Seniornya tersedak begitu dia mengambil minuman seniornya sambil menepuk bahunya untuk menetralkannya.
"Kak Arnold udah nggak papa?"
Arnold menoleh padanya sambil mengangguk. Kayaknya udah nggak marah.
Mendengar dia memanggil 'Kak Arnold'.
"Makanya kalau makan hati-hati," lirihnya.
"Iyah. Gue nggak hati-hati karena nggak ada lampu APILL," ucap Arnold datar.
Hanna terdiam melongo mencerna ucapannya itu. "Ish garing." Dia menyadari bahwa seniornya sedang memberikan lelucon.
Arnold tersenyum.
Dugh!
"Ahhh!" teriak Hanna reflek.
Arnold terkejut.
Arnold sedikit emosi menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang menyenggol tubuhnya dari belakang membuat tanganya sendiri menumpahkan air minumnya ke tangan Hanna.
"Maaf gue nggak sengaja." Orang itu perempuan.
__ADS_1
Dan Arnold tidak jadi untuk memarahinya. "Hem."
"Han maaf," katanya kembali beralih pada Hanna.
"Nggak papa. Udah kering, kok. Tapi yaa masih lengket." Diakhiri dengan senyuman bahwa memang benar-benar tidak apa-apa ia hanya terkejut saja tadi.
Hanna masih mengelap-ngelap tangannya dengan tisu.
"Ini. Pake ini." Arnold memberikan sesuatu pada Hanna.
Hanna masih diam.
"Bersih, kok. Baru dicuci."
Dengan ragu tangan Hanna mengambil sapu tangan milik seniornya. "Makasih."
Arnold mengangguk. "Yaudah kita langsung ke panti. Nanti keburu magrib sampai sana."
Hanna mengangguk iyah dengan perasaan dan pikiran yang sudah dipenuhi oleh seseorang yang telah lama menghilang tanpa kabar.
Sapu tangan sama ...
"Ini." Arnold kembali bersuara memberikan sesuatu seperti.
Permen. Lanjutnya batinya berbicara.
Lengkap sudah sapu tangan dan permen. Dua objek yang mengartikan pada sosok yang berinisial F.
"Makasih."
"Iyah," jawabnya.
Kami pun berjalan menuju parkiran. Berjalan terus berjalan lurus memijak tanah ini begitu pun dengan pikiran yang terus berjalan namun ke belakang.
Kenapa bisa persis gitu?
Hanna melirik pada Arnold.
Astaga Hanna! Kaola itu bukan dia. Ini cuman kebetulan aja. Yah kebutulan. Bukan dia.
Hanna terus-menerus bergelut dengan pikirannya.
"Han ..."
"Hanna?"
Hanna masih terus berjalan.
"Hanna?"
"Yah?" Hanna terperanjat kebingungan.
"Di belakang."
Segera Hanna membalik badannya dengan tatapan bodoh sekali. Ia terus berjalan dengan pikiran dipenuhi oleh sosok itu. Ia kembali menemui seniornya.
"Dipanggil-panggil nggak nyaut. Kenapa?" tanya Arnold sambil memberikan helm.
"Hem? Nggak, kok," jawabnya menyakinkan.
Dan Arnold pun tidak menggubrisnya.
"Ohiyah, Han?"
"Iyah kenapa?"
"Gue mau tanya sesuatu."
"Apa?" Hanna ikut penasaran.
"Lo ..." Sedikit ragu untuk menanyakan. "Apa ... lo benci gue karena kejadian ospek?"
Hanna terdiam.
"Kalau lo benci karena kejadian itu. Gue minta maaf. Gue terlalu berlebihan sama lo waktu itu. Tanpa sadar gue nggak ngerasa,,, yah gue mikir gue nggak ngebully lo tapi gue kayak main hal biasa."
Dia sadar juga?
Suara Arnold dipenuhi oleh penyesalan. Nampaknya.
"Main hal biasa kata Kak Arnold?" Sedikit meninggikan suara.
Arnold terkejut. "Iyah sorry deh. Gue bener-bener minta maaf. Gue baru sadar sekarang kalau yang gue lakuin itu salah. Gue cuman pengen main dan kenal aja sama lo."
"Hah?" Hanna terkejut dengan ucapan itu.
Arnold mengehela nafas. "Lo kayak adik gue."
"Adik?"
Arnold mengangguk.
Sepi.
Arnold pun bergerak. "Kita pergi sekarang." Dia menaiki motor dan memasang helmnya.
__ADS_1
Tapi sekarang beda. Batin Arnold.
Hanna segera menaiki motor dengan keadaan diam.
Dan pembicaraan pun tidak berlanjut.
...****************...
Tubuh mungil dan lincah dengan pakaian sederhana. Memakai sweater dan celana pendek. Ia berdiri di sebuah rak-rak snack. Matanya fokus mencari cheese snack ring kesukaannya.
Dan.
"Dapet!"
"Nemu juga!"
"Eh?"
Snack ring keju itu didapati oleh tangan orang yang berbeda.
"Dokter Tamvan?" kejutnya dari sosok si mungil lincah tersebut.
"Dokter Tamvan?" gumam si orang ini menatapnya.
Segera ia menggeleng cepat untuk menyadarkan otak kecilnya itu. "H-hai." Dia menyapa dengan senyuman manis dan gugup.
Dia hanya malambai tangan ke kanan ke kiri. "Ketemu di sini," katanya. "Ah ini ..."
"Nggak-nggak. Kamu aja yang ambil." Sosok mungil itu adalah Olla alias Oni.
"Buat kamu aja."
Oni masih diam tak percaya bahwa dirinya bertemu dengan dokter tampan temannya Gina. Dia adalah Husein.
"Tapi ..."
"Ambil yah."
Oh My God. Teriak Oni di dalam hati.
Suara calon dokter hewan itu begitu lembut dan halus.
Oni tidak bisa melawan dan akhirnya mendapatkan kemenangan mendapatkan cheese snack ring yang hanya tinggal satu lagi di mini market yang kami injak.
Setelah itu kami juga membayar di kasir untuk belanjaan kami kemudian pergi bersama dari sini.
"Biar aku bawain." Pria tampan, baik hati di alam semesta plus dia adalah calon dokter hewan.
Dia mengambil tas belanjaan Oni.
"Eh .. nggak usah."
"Nggak papa." Dia tersenyum.
Senyuman menusuk hatiku. Batin Oni.
Mungkin jika tahu di atas kepalanya sudah dipenuhi oleh bunga-bunga berterbangan.
"Kamu ... lagi ngapain di daerah sini?" tanya Oni memberanikan diri.
"Oh dari rumah temen. Rumahnya nggak jauh dari sini," jawabnya.
Oni hanya mengangguk-angguk senyum.
Tak lama.
"Beli tepung banyak gini. Mau buat apa?" tanya Husein.
"Um? ini titipan belanjaan mamah. Mamah suka buat kue."
"Kue? Buka toko?"
"Nggak sih. Yaah, jualan di rumah nerima pesanan.
"Ohhh ..." Dia menganguk-angguk.
Oni berhenti diikuti oleh Husein.
"Rumahku ke sana. Makasih udah bawain belanjanya heheh."
"Nggak papa, udah aku anterin sampai rumah. Ini juga udah malem."
Oni terdiam membeku hatinya ingin meloncat-loncat kegirangan.
"... Nggak baik anak kecil jalan sendirian di malam hari nggak ditemenin orang dewasa."
Husein melanjutkan ucapannya itu membuat hati Oni ingin meloncat-loncat dan beralih pada jantungnya yang ingin meledak.
Padahal ucapan Husein itu meledeknya. Menyebut Oni sebagai anak kecil. Tapi ia malah suka.
Husein tersenyum. "Ayok." Dia kembali berjalan.
Oni menarik nafas dalam-dalam berusaha menutupi kegugupannya. Lalu ia menyusuli langkah kaki Husein dengan gembira.
...🐻🌹🐨...
__ADS_1