
Netherlands
Fauzi sudah bersiap dan pergi untuk mencari kembali kediaman Bu Diana, ibu kandung Hanna. Tidak sendirian dirinya seperti biasa bersama Katlyn. Terus melangkah di atasnya jalan setiap langkahnya dirinya berharap bahwa alamat pemberian dari pria saat di clubbing tersebut benar dan Bu Diana masih berada di rumah tersebut. Tempat yang kami tuju tidak banyak rumah-rumah yang berdekatan. Mungkin ini seperti pedesaan Belanda.
Akhirnya kami pun menemukan sebuah rumah kecil. Kami segera mendekati. Kami lihat rumah ini terlihat tidak ada orang tapi kami segera bersikap optimis bahwa ada seseorang di dalamnya.
"Excuse me ..." Ketuk kami pada pintu beberapa kali. "Excuse me ..." Masih belum ada yang menjawab. "Excuse me??? Ada orang di dalam?"
"Zi, kayanya nggak ada orang deh," ujar Katlyn.
Fauzi terus mengetuk kembali. "Permisi.... bu Diana....?"
"Udah Zi, di dalam emang nggak ada orang," lirih Katlyn.
"Sorry, who are you looking for? (Maaf, siapa yang kamu cari?)"
Fauzi dan Katlyn langsung memalingkan pada suara tersebut. Mereka saling menatap berharap. Dan. Perempuan tersebut hanya berdiam dan terheran. Terlintas senyuman dari Fauzi dan Katlyn merasa lega bahwa perempuan itu adalah orang yang selama ini dicarinya. Kami berhasil. Kami sudah berada di dalam rumah. Bu Diana tiba dengan menjamu kami seperti di Indonesia.
"Maaf ibu cuman punya ini, seadanya."
"Tidak apa-apa, Bu."
Diana pun beranjak duduk. "Silahkan diminum." Fauzi pun mengangguk dan meminumnya begitu juga dengan Katlyn. "Kalian jauh-jauh kemari ada perlu apa? Ini sangat jauh dari kota."
Fauzi meletakkan cangkir kembali.
"Kalian mengenal ibu?"
Fauzi menarik nafas. "Begini bu. Sebenarnya saya datang kemari dengan tujuan ..."
...****************...
Indonesia
Hanna berdiri di depan rumah. Menunggu seseorang. Mobil milik Afra terlihat dan tiba disini.
Seseorang di samping Afra berteriak. "HANNAAAA ...."
Hanna tersenyum dapat mendengar kembali suara yang selalu membuat telinga dirinya kesakitan. Hanna memasuki mobil Afra dan mobil pun melaju.
"Hanna ..." Dia adalah Oni yang membalik arah pada kursi belakang. Hanna memeluknya. "Han apa kabar? Gue kangen loh baru ketemu lagi sama elo," terang Oni.
"Tapi gue nggak kangen sama lo," candanya.
"Ihss Hanna mah...." Oni cemberut.
"Hahaha iyah, deh. Gue juga kangen. Lo gimana?" tanya Hanna.
__ADS_1
"Gue hari ini baikkkkkkkk ... sekali dan seneng bisa kumpul lagi kayak ginih."
Hanna pun tersenyum lebar dan merasakan hal yang sama seperti Oni. Bahwa dirinya pun benar-benar senang. Bukan. Tapi bahagia.
"Kita jemput Gina atau ..?"
"Kita langsung ke tempat kumpul, Gina bakalan langsung kesana juga," jawab Afra.
Hanna kemudian ber'oh.
...🚗 🚗 🚗...
Setibanya. Kami pun keluar dari mobil dengan bersamaan keluarnya Gina dari sebuah mobil.
"Gina?"
"Kalian?"
Gina dan Hanna langsung berpelukan melepaskan kerinduan diikuti oleh Oni walaupun sebenarnya Oni setiap hari selalu bertemu dengan Gina di kampus maupun di luar kampus. Sedangkan Afra dia hanya diam melihat mereka dan ikut tersenyum senang. Namun Gina tidak sendiri bahwa seseorang yang keluar dari mobil bersama Gina adalah orang yang kami kenali juga. Salah satu dari sahabat kami.
"Hallo Hanna, Oni ... Fra ..." sapanya.
"Lo disini juga?" tanya Oni terkejut dan kemudian menatap Gina.
"Liburan juga?" tanya Hanna basa-basi.
"Yoy kebetulan hari Senin nya libur jadi lebih baik pulang," ujar Nasrul.
Tanpa sengaja Oni terpental hampir terjatuh. Padahal Nasrul hanya menyenggolnya pelan mungkin karena tubuh Oni terlalu mungil dan Nasrul adalah laki-laki.
"Eh eh sorry, On."
Gina, Hanna dan Afra malah tertawa melihat hal tersebut. "HAHAHAHAHA."
"Baru ketemu udah ngajak ribut." Oni mengerutkan keningnya menatap Nasrul.
"Y-ah sorry nggak sengaja. Lo nya juga sih yang duluan," kilah Nasrul.
"Udah udah, kapan masuknya ini?"
Oni masih menatap tajam Nasrul dan kemudian langsung menarik Hanna untuk masuk ke dalam.
...****************...
Netherlands
Fauzi dan Katlyn sudah tidak berada di kediaman rumah Bu Diana.
__ADS_1
Fauzi menceritakan semuanya apa yang sebenarnya. Walaupun tidak ada kaitan sangat besar dengan masalah ini bersama keluarga Hanna. Tapi Fauzi terutama Fauzan ingin mengembalikan kebahagiaan Hanna. Bu Diana menangis setelah mendengar semua cerita. Mengetahui kebenaran maupun keadaan Hanna saat itu. Menderita karena penyakit delirium akibat selalu didesak oleh kami sebagai orangtua. Merasa tertekan. Tidak mengenal siapapun saat itu karena dirinya amnesia sesaat. Hidup sendirian di masa Hanna masih harus ada sosok orangtua di sampingnya. Selalu dipersalahkan tentang semua yang terjadi. Juga terhadap meninggalnya Annisa, anak pertama dan kakak kandung dari Hanna.
Bu Diana sangat menyesal, bersalah dan merasa bahwa dirinya adalah sosok ibu yang gagal terhadap anaknya.
"Bu, Hanna selama ini berjuang sendirian menghadapi semuanya. Hanna juga menjadi sosok yang kuat dan tegar," tutur Fauzi.
Isakan tangis Bu Diana masih terdengar sampai dirinya tersedu-sedu.
"Ibu seharusnya bangga punya anak seperti Hanna."
Katlyn mencoba menenangkan Bu Diana. Katlyn ikut merasakan kesedihan yang timpa oleh Hanna dengan keluarnya. Juga tali merah yang terhubung dengan Fauzan dan Fauzi dengan kehidupan Hanna.
Bahwa itu sudah menjadi takdir oleh Yang Maha Kuasa. Fauzan dan Fauzi menjadi perantara untuk menghubungkan kembali Hanna dengan orangtuanya. Walaupun pertemuan yang terjadi hal yang buruk dan menyakitkan antara Fauzan dan Hanna karena sebuah kecelakaan yang mengenaskan.
Bu Diana terus memandang foto Hanna yang sekarang sudah beranjak dewasa dari handphone milik Fauzi.
"Bu, maaf sebelumnya kalau saya sedikit lancang terhadap soal ini. Apa sebaiknya ibu pulang ke Indonesia bertemu dengan keluarga ibu disana," saran Fauzi. "Daripada Bu Diana disini kekurangan dan dikejar-kejar korban penipuan oleh suami ibu. Dan ... membuat ibu harus bersembunyi dan berpindah-pindah tempat tinggal."
Bu Diana mengembalikan ponsel milik Fauzi. "Sepertinya kamu tahu banyak tentang kehidupan saya sekarang." Bu Diana beranjak berdiri. Sepertinya Bu Diana tersinggung dengan perkataan Fauzi tadi. "Sebaiknya kalian pulang," pinta Bu Diana dengan nada dingin.
Fauzi pun segera berdiri. "Tapi bu..."
"Pulang ....!! Saya tahu tujuan kalian kesini berbuat baik untuk Hanna dan juga saya. Kalian tahu?! Saya berusaha mati-matian untuk hidup disini dikejar-kejar oleh mereka seperti buronan! Tanpa suami saya yang tidak bertanggung jawab itu ..."
Isakan tangis Bu Diana kembali terdengar.
"Walaupun saya pulang ke Indonesia saya akan terus bertemu dengan orang-orang yang telah tertipu oleh suami saya. Dan saya sendiri tertipu olehnya! Istrinya sendiri!"
Bu Diana mendorong-dorong kami, mengusir kami dari rumahnya. "Sana! Kalian pulang dan tidak usah kembali lagi dan menemui saya!"
"Bu ...."
Fauzi dan Katlyn sudah berada di depan pintu keluar.
"Saya harap kalian berhenti mencari informasi tentang saya dan suami saya. Karena itu akan mengundang orang-orang untuk mencari keberadaan saya disini dan mereka akan meminta mengembalikan uangnya."
"... Itu bukan salah saya?! Saya tidak mau! Dan saya pun tidak memiliki uangnya! Kalian berhentilah mencari saya."
Bu Diana menutup pintu dengan cukup keras.
Katlyn memegang pundak Fauzi agar tetap tenang dan bersabar. Bu Diana mungkin terkejut dengan semua yang Fauzi ceritakan membuat Bu Diana merasa terancam.
"Nggak salah bu Diana kayak gini. Ini tiba-tiba. Sulit buat diterima. Kita pulang aja dulu, Zi. Biarin Bu Diana nenangin dirinya."
"Tapi Katlyn..."
"Udah, Zi. Kita udah tahu dimana rumah bu Diana dan kita bisa kesini lagi kapanpun," imbuh Katlyn. "Ayok kita pulang..." Katlyn menarik tangan Fauzi.
__ADS_1
Mereka sudah kembali ke kota tempat tinggal mereka. Fauzi terlihat murung setelah selesai percakapan bersama dengan Bu Diana. Katlyn tidak bisa apa-apa hanya bisa menghiburnya dan kemudian menyemangati kembali Fauzi untuk tidak pantang menyerah dalam mewujudkan impian dari kembarannya yang tengah kritis di rumah sakit.
...🦄🥀...