
...Terimakasih atas dukungannya. Jangan lupa like komen masukkan dalam daftar list baca kalian. Berkenan berikan vote ......
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hanna bersama teman-temannya baru saja meninggal kafe. Mereka disini sudah cukup lama untuk mengobrol dan mungkin mengganggu pengunjung lain.
"Gin, kamu pulang sama aku aja yah. Aku mau ketemu nenek sama kakek kamu dulu."
Gina mengangguk.
"Cieee yang mau ketemu sama calon nenek dan kakek ipar," kekeh Oni.
Oni mulai kembali berulah sedikit pun dirinya tidak bisa berhenti berdiam tanpa berbicara.
"Sirik aja," timpal Nasrul yang kemudian membuka pintu mobil untuk Gina.
Oni memberikan ekspresi yang tidak menyenangkan. "Ciee soswet niee. Kayak yang udah pacaran aja."
"Emang udah," terang Nasrul.
"Apa?!" Semua orang terkejut.
Gina telah memasuki mobil dan tersenyum. Nasrul pun menutupi pintu mobil tersebut.
"Kita duluan yah kalian hati-hati di jalan," lanjut Nasrul.
"Tunggu dulu! Lo tadi bilang apa? Kalian beneran udah jadian?" tanya Oni masih tak percaya.
"Gin ...?"
Nasrul melangkah menuju arah pintu mobilnya yang lain. "Kalau nggak percaya yaudah."
Oni mendekati Gina berada dan mengetuk kaca mobil tersebut. "Gin, Gin ...!"
Gina membukanya. "Apa?"
"Lo seriusan udah pacaran?" tanya Oni.
Disusul oleh Hanna. "Iyah Gin, lo udah jadian? Kapan? Kenapa nggak cerita dari tadi?"
Gina tersenyum. "Hehe iyah. Kita udah pacaran, baru. Sebelum berangkat kesini ketemu kalian."
Hanna, Oni dan Afra masih tak percaya namun ikut senang jika mereka akhirnya sudah berpacaran.
"Udah yah nanti ngobrol laginya ..." ujar Nasrul menyalakan mesin mobil.
"Nanti gue ceritain," kata Gina.
"Itu harus dong!! Lo harus cerita, gue tunggu hari ini," tegas Oni.
Gina tertawa kecil. "Gue cabut dulu, kalian hati-hati di jalan."
"Han .."
"Yah Gin?"
"Gue seneng lihat lo lagi," ungkap Gina.
Hanna tersenyum. Namun dirinya tahu apa yang dimaksud oleh Gina. "Gue juga."
Mobil Nasrul pun melaju. "Dadah ..."
Dilanjut oleh Hanna, Oni dan Afra pun memasuki mobil dan bergegas pergi.
...****************...
Belanda. Di depan tempat tinggal Fauzi.
Fauzi masih bersama Katlyn. Mereka baru saja kembali ke kota. Namun mereka berdua masih terdiam berdiri di bangunan tempat tinggal Fauzi berada. Katlyn sangat mengkhawatirkan Fauzi. Selama disini Fauzi berusaha sangat keras untuk mencapai tujuan dari kembarannya itu begitu dengan sekolahnya disini.
"Fauzi ..."
Katlyn membalikkan tubuh Fauzi kemudian memeluknya.
"Kat?"
"Aku khawatir sama kamu, Fauzi. Selama ini kamu selalu mikirin orang lain daripada diri kamu sendiri."
Fauzi membalas pelukan sangat erat. Dirinya merasa beruntung ada sosok Katlyn disampingnya.
"Aku tahu ini berat. Tapi, kamu juga harus tahu, kamu berhak jalani kehidupan. Bukan sebagai Fauzan tapi sebagai Fauzi. Diri kamu sendiri."
Seseorang disana ternyata melihat Fauzi tengah berpelukan bersama perempuan yang ia ketahui. Walaupun tidak mengenalinya. Tetapi yang membuatnya terkejut karena obrolan mereka.
"What the **** is this?!"
Mendengar suara itu Katlyn maupun Fauzi segera melepaskan pelukan dan menoleh pada orang tersebut.
__ADS_1
Mereka berdua saling tatap dan tergegau melihat bahwa Tyo berada disini.
"Gue nggak salah denger, kan? Lo tadi bilang Fauzi ke dia? Zan sebenarnya lo siapa? Fauzan atau Fauzi?"
Saat itu pun Fauzi tidak merasakan gelisah jika memang ini adalah akhir dari kepura-puraannya sebagai Fauzan adik kembaran, meskipun ini bukanlah rencananya melainkan merekalah yang menganggapnya Fauzan.
Fauzi dan Katlyn sudah berada di kamar tempat tinggal Fauzi. Ia juga mengajak Tyo masuk untuk memberikan penjelasan padanya.
"Langsung aja lo itu Fauzan atau Fauzi?"
"Kamu bisa nggak biasa aja ngomongnya? Nggak usah teriak-teriak segala," ketus Katlyn.
Tyo pun memutar bola matanya malas kepada cewek tersebut yang entah siapa namanya.
"Gue sebenarnya Fauzi, Yo."
"Are you pooping on me?" Tyo merasa dibodohi selama ini. "Darn you!"
"Gue nggak berniat bohong, tapi lo lo pada yang langsung mengasumsikan kalau gue itu Fauzan."
"Tapi lo bisa kan ngomong kalau lo bukan Fauzan?!" geramnya.
Fauzi kemudian membisu tak bisa menjawab.
Tyo berusaha menetralkan emosinya ini. "Oke." Menarik nafas dalam-dalam. "Gue tahu lo dateng ke sini jauh-jauh pasti ada sesuatu. Sebelumnya lo kan udah nerima beasiswa di Jakarta."
Fauzi pun mengangguk. "Lo bener, gue ke sini karena ada tujuan lain. Satu tahun yang lalu, seharusnya yang kuliah di sini itu.... Fauzan."
"Fauzan juga? God damn it," umpat Tyo sembari bergumam kesal.
"Kamu daritadi ngumpat mulu," timpal Katlyn kesal.
"Beautiful girl lo diem aja ya, ini urusan masa lalu gue dan sekarang sama Fauzi. Jadi, lo diem aja." Menyindir secara halus dengan eskpresi yang menyebalkan.
Kali ini Katlyn yang memutar bola mata malasnya.
Fauzan tidak mempedulikan perdebatan mereka. "Karena...." Fauzi menggantungkan perkataannya itu ada sakit yang ia rasakan. "Lo masih inget di acara prom night itu? Kekacauan itu buat kalian nyalahin Fauzan terhadap apa yang terjadi sama Hanna." Fauzi menarik nafas untuk menguatkan dirinya. "Setelah kejadian itu, malam itu Fauzan kecelakaan."
Deg! Deg! Jantung Tyo menompa sangat cepat karena terkejut apa yang telah ia dengar. "Ke-kecelakaan?"
"Ya dia kecelakaan dan sampai sekarang dia masih koma."
Tyo mengacak-acak rambutnya frustasi ia berjalan mundar-mandir ke kanan dan ke kiri. Ia tidak bisa berpikir apakah ini nyata.
"Lo, lo bilang Fauzan masih koma? Sampai sekarang?"
Fauzi hanya mengangguk sendu.
...****************...
Indonesia
Afra telah mengantar Oni sampai rumah sedangkan Hanna ikut bersama Afra pulang ke rumahnya untuk ikut menginap, walaupun di sini Hanna bisa saja menginap di rumah Bunda Aji ataupun rumahnya sendiri yang ada di sini. Tapi ia memilih untuk menginap di rumah Afra. Dan mereka berdua akan kembali ke Bekasi besok pagi.
Setibanya di rumah Afra.
"Assalamu'alaikum tante."
"Waalaikumussalam. Eh ada Nak Hanna. Sehat sayang?"
"Sehat, Tan. Tante apa kabar?"
"Alhamdulillah sehat."
"Teh Hanna," teriak Dea adik perempuan dari Afra yang berlari ke arahnya.
"Eh ade udah gede aja nih."
"Ihh Teh Hanna ngatain Dea gendut?" Dea terlihat cemberut.
"Huh? Ah enggak, enggak kok. Maksud Teh Hanna itu kamu udah nambah ber--tinggi," ujar Hanna melirik pada Afra berseri.
"Gendut ya gendut aja, nggak mau ngaku," sindir Afra yang kemudian berjalan ke dapur untuk minum.
"TEH AFRA MAH NYEBELIN!" Dea pun pergi kembali ke masuk kamarnya.
Dan Hanna, mamahnya Afra tertawa kecil melihat kelakuan Dea.
"Na ke kamar," sahut Afra sedikit keras.
"Tante, aku ke kamar dulu."
"Mangga mangga."
Hanna pun pergi masuk ke kamar Afra.
"Teh, kalau laper langsung makan aja itu udah ada di meja," seru pada Afra.
"Iyah, Mah. Beres." Afra berseri lalu pergi ke kamarnya.
__ADS_1
Afra memberikan gelas berisi air sirup kepada Hanna sembari ia juga sedang meminum yang punya miliknya.
"Makasih."
Afra hanya mengakat alisnya saja karena tidak bisa berbicara, ia masih minum, menegukkan air sirup tersebut.
"Lo nggak ada kelas pagi kan?" tanya Afra.
"Paling jam 10," jawab Hanna.
"Oke masih bisa keburu."
"Ngeliat lo kok kayak jarang gituh kuliah pagi."
"Pagi enggak tapi ganti sama malem," terang Afra sedikit kesal.
Hanna tertawa kecil. "Hahaha." Lalu Hanna pun mengambil ponselnya untuk mengecek.
Ternyata ada pesan begitu banyak di grup tim perlombaannya. Hanna membaca pelan-pelan dari awal apa yang mereka bahas yang pasti untuk mempersiapkan lomba nanti.
"Lo bilang lo ikut lomba?" tanya Afra saat dikeheningan sesaat.
Hanna mengangguk iya melihat pada Afra lalu ia menyimpan ponselnya menyudahi membaca dan sudah membalas pesan tersebut. "Doain oke, biar bisa menang."
"Pasti." Afra tersenyum. "Gue masih nggak nyangka sih lo mau se-tim sama bang Arnold. Secara lo paling nggak suka kalau ngebahas dia apalagi ketemu."
"Terpaksa Fra, terpaksa," jawab Hanna dengan suara malas.
Afra tertawa-tawa kecil.
"Ohiyah, Aji kan bentar lagi lulus. Gue ada rencana dateng ke wisudaanya sama bunda, papahnya Aji. Dan pas gue tadi di rumahnya, mereka ngajak lo buat ikut."
Afra sedikit terkejut tanpa memperlihatkan ekspresi terkejutnya. "Uang dari mana Han? Sekarang juga gue harus kerja part time buat bantu-bantu keuangan keluarga gue."
"Mereka yang ngajak yang pasti uangnya dari mereka," kekeh Hanna bercanda tapi serius.
"Ih lo ini," gerutu Afra. "Oke ongkos clear. Tapi gue juga di sana harus megang uang, mana mungkin terus-terusan dibayarin. Emang gue apa?"
"Lo manusia, Fra," jawab Hanna.
"Manusia matre?" tanya canda Afra.
Hanna tertawa kecil. "Bukan matre."
"Terus?"
"Matrik. Terus aja ngitung-ngitung ngisi bangunan gambar," ledek Hanna pada pelajaran jurusan Afra meski begitu jurusan arsitektur masih ada pelajarannya.
Afra pun meraih bantal dan menempelkannya pada wajah Hanna.
"Hihhh." Segera Hanna menyingkirkan bantal tersebut.
Dering telepon berbunyi dari ponsel Hanna. "Oni sama Gina nih."
"Angkat," kata Afra.
Hanna pun mengangkat videocall dari mereka yang pastinya kami akan membahas Gina yang baru saja resmi berpacaran dengan Nasrul. Pasangan siswa-siswi teladan, pasangan Bapak Ketos dan Bu Ketu MPK di SMA Bakti Nusa yang saat itu akhirnya mereka bersama juga.
...🦄🥀🐻...
...Bersambung ......
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ILUSTRASI...
...Hanna ' Gadis Ceria yang Selalu Terjebak '...
...Fauzi ' Si Kembar Pemuda yang Paling Tulus Se-dunia '...
...Fauzan ' Si Kembar Rembulan Malam '...
...Aji ' Pemuda yang Selalu Terpengaruh dengan Omongan Orang Lain '...
...Afra ' Gadis Keren Pekerja Keras '...
...Katlyn ' Gadis Baik Hati dan Bijaksana '...
...Tyo ' Bule Kaya Raya dan Setia Kawan '...
...Yollanda ' Gadis Centil dari Jawa Eropa '...
...Gina ' Gadis Pintar dan Dewasa '...
...Oni ' Gadis Mungil yang Tersakiti '...
__ADS_1
...Nasrul ' Pemuda Laki-laki Sejati '...
...🌹...