Me And Yu : Maevino

Me And Yu : Maevino
Eps. 16 'Me2Yu' : Pelangi


__ADS_3

Setelah perkuliahan selesai. Hanna, Mia dan Zeki bergegas menuju suatu ruangan untuk menemui Arnold. Zeki membuka pintu ruangan tersebut ditahannya agar dua gadis dibelakangnya dapat masuk lebih dulu.


Arnold dia sudah ada di dalam sana. "Udah dapet izin?"


Hanna mengangguk tersenyum senang. "Bukan hanya itu kak tapi ... kita juga dapet dana dari kampus jadi kita nggak usah ngeluarin uang lagi."


Hanna, Mia dan Zeki begitu gembira.


Dan Arnold tersenyum. "Syukur kalau gitu. Yaudah sekarang kita bawa peralatan ini. Gue udah pisahin."


"Oke, Bang." Zeki membantu Arnold membawa peralatan. "Sound recorder cuman segini?"


"Yang lain pada rusak," balas Arnold. "Itu slider nya ..." Menyuruh Zeki.


"Surat-suratnya nggak lupa dibawa, kan?" tanya Hanna kepada Mia.


"Ada kok gue bawa," jawab Mia.


Hanna kemudian berbicara. "Kak, dananya belum cair paling besok."


Lalu Arnold menoleh untuk menyimak.


"Sekarang kita mau kerjain apa dulu?" tanya Zeki.


"Kita ke panti dulu kan, Kak?" tanya Hanna.


Arnold mengangguk. "Kita ke sana dulu buat ketemu anak-anaknya."


"Oke deh. Jadi alat-alat ini nggak usah dibawa dulu dong?" tanya Zeki.


"Bawa, kita pindahin ke ruang BEM. Kalau nggak nanti ada yang pake," ujar Arnold. "Kamera lo dibawa?"


"Siap siap, bawa-bawa."


Bergegas memindahkan peralatan-peralatan yang kami bawa ini ke ruang BEM. Karena Arnold adalah Ketua BEM jadi dapat leluasa untuk memakainya, hanya menyimpan barang saja. Dan Zeki pun salah satu anggotanya.


Kami harus keluar dari gedung ini dan berjalan menuju gedung kecil yang tak terlalu jauh.


Tangan Arnold penuh dengan peralatan maupun tas laptopnya. Apalagi dia membawa gimbal yang lumayan cukup berat.


Seperti kesulitan Hanna pun mencoba untuk membantunya. "Ini biar Hanna yang bawa." Meraih tas laptop Arnold.


Arnold menatapnya sebentar dan membiarkan dia membawanya. Kami pun melanjutkan kembali langkah kami.


Ruangan BEM terbuka. Kami segera memasukinya saja. Seseorang mengamati kami yang kami tidak menyadarinya.


Arnold membalik. "Ternyata ada lo, pantes ke buka."


Mendengar Arnold berbicara bukan kepada kami. Kami pun segera melihatnya.


Seseorang itu tersenyum. "Hallo ..."


"Hallo, Kak." Kami membalasnya dengan ramah juga.


"Kalian ngerjain proyek?" tanyanya.


Kami pun mengangguk.


"Gue titip itu dulu di sini," kata Arnold.

__ADS_1


"Mending pindahin ke sana biar nggak dimainin sama anak-anak nanti ..."


"Oh oke deh." Arnold dan Zeki memindahkan kembali alat-alat tadi.


Dan di sini Hanna, Mia dan seorang senior perempuan kami yang bernama Rhea.


"Kalian ngerjain proyek tugas? Tapi kenapa ada Arnold?"


"Iyah kak tapi bukan tugas .."


"Lomba?"


"Iyah lomba." Hanna tersenyum.


"Apa ... apa kompetesi tahunan itu?"


"Iyah kak, kakak ikut juga?" tanya Hanna.


Senior itu mengangguk pelan sedikit kikuk.


Arnold dan Zeki pun telah kembali.


"Cabut sekarang?" sahut Zeki.


"Ayo. Kak Rhea kita pergi dulu ya ... makasih," tutur Hanna.


"Iyah.." jawab Rhea dengan senyuman.


Mia, Hanna dan Zeki berjalan bergegas pergi. Saat Arnold hendak berjalan juga, tangannya ditahan oleh Rhea.


"Kenapa?" Rhea menatap Arnold dengan sendu.


Rhea masih berdiam diri ditempat menatap kepergiannya.


...****************...


Hanna dan Mia pergi bersama Zeki dengan mobilnya. Sedangkan Arnold, ia membawa kendaraan sepeda motornya sendiri.


Sesampainya kami di Rumah Panti 'Pelangi'.


Anak-anak panti yang berada di luar melihat kedatangan kami. Tentunya mereka berlarian ke arah Arnold. Mereka menyapanya dengan baik.


Kami terheran, mungkinkah mereka sudah kenal dengan Arnold sebelumnya.


"Berhitung ..." kata Arnold tersenyum kepada anak-anak tersebut.


"Beruang." Anak laki-laki berumur 8 tahun yang yang memiliki tubuh besar dan lucu.


"Ukulele." Laki-laki yang berumur 9 tahun itu dengan memegang alat musik ukulele kecil.


"Kelinci." Gadis kecil manis umur 5 tahun dengan rambut yang dikuncir dua.


"Tampan ...."


"HUUUUUUUUUU ...." Sorak dari mereka pada anak laki-laki berumur 7 tahun karena menyebutnya tampan.


Dan Arnold hanya tersenyum. "Kemana Batu sama Air?"


"Di dalem kak mereka lagi bantuin bunda bikin kue," ucap Si Ukulele.

__ADS_1


"Kenapa kalian nggak bantuin bunda juga?"


"Umm ..." Mereka berdiam memalingkan pandangannya.


Lalu suara dari gadis manis ini berbicara. "Kata bunda, kita disuruh bantuin makannya aja."


Arnold tertawa kecil karenanya, ia menggendong gadis kecil manis itu. "Mmm ..." Arnold kegemasan karenanya. "Adik siapa ini? Mm?"


"Adik Kak Arnold!" teriaknya.


"Hahaha ..." Tawa Arnold.


Hanna menghampirinya diikuti oleh Mia dan Zeki. Arnold menyadarinya dan menyuruh anak-anak untuk salam pada mereka.


"Anak-anak ada siapa ...??" seru di dalam rumah. Suara tersebut semakin dekat.


"Arnold?"


"Kak Arnold? Kak Arnold ....." Dua anak kecil berlari ke arah Arnold dan memeluknya.


Arnold mengelus rambut dua anak kecil tersebut yang merupakan Batu dan Air. Mereka adik kakak kembar laki-laki dan perempuan berumur 10 tahun.


"Air tolong bawain bingkisan itu ..." pinta Arnold.


Arnold menurunkan gadis manis yang digendongnya itu. Dan mendekati sosok wanita paruh baya tersebut yang dipanggil bunda, ia memeluknya dan menyium punggung tangan bunda panti.


Arnold pun menoleh ke belakang mengisyaratkan pada Hanna, Mia dan Zeki untuk ke sana.


Mereka bertiga salam pada bunda panti. Dan memperkenalkan diri mereka kepadanya.


"Ayo masuk, masuk ..." katanya.


Kami dipersilahkan duduk.


"Olive tolong bawain minum buat kakak-kakak ini," titah bunda panti.


"Baik, Bunda."


"Bunda nah ini temen-temen yang waktu itu Arnold ceritain. Kami mau minta izin ngajak anak-anak dalam pembuatan film." Arnold bersuara mewakili yang lainnya.


"Iyah bu, kita ke sini mau minta izin ngajak anak-anak buat ikut meranin di film pendek yang kami buat. Jika ibu tidak keberatan ..." tutur Hanna


"Boleh kok ibu izinin. Yang penting nggak ada yang aneh-aneh kan?" canda Malini.


Kami pun tertawa kecil. "Nggak ada kok bu." Hanna berseri.


Gadis Olive yang disuruh bunda panti tiba dengan membawa baki minum. Arnold bergegas untuk membantunya.


Suara dibalik pintu terdengar. "Kakak-kakak mau ngajak kita main film?" tanyanya anak laki-laki yang menyebutnya tampan itu ternyata menguping pembicaraan kami di dalam.


"Iyah .." terang Hanna tersenyum.


"Woahhh kita bakal jadi artis ..." Suara gembira anak-anak tersebut.


Dan kami tertawa melihat anak-anak kegirangan seperti itu.


...🐻🌹🐨...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2