Me And Yu : Maevino

Me And Yu : Maevino
Eps. 40 'Me2Yu' : Degup


__ADS_3

Afra dan Gilang bersama-sama menikmati suasana Jerman sebelum kembali ke tanah air, hanya tersisa dua hari. Berkeliling dengan suasana senang, berfoto, dan merekam untuk menjadi sebuah kenangannya disini.


Tanpa berhenti untuk tidak tersenyum karena ini benar-benar hari yang paling indah, menyenangkan. Afra yang selalu cuek dan jarang tersenyum kali ini dia tidak. Dia banyak tersenyum akhir-akhir ini. Apalagi sekarang. Mereka berdua saling mengobrol dan bercanda satu sama lain.


Di tempat kami menyeberang, ada sepeda motor yang melaju cepat, yang tidak disadari oleh Gilang. Afra pun menarik mundur cukup keras hingga membentur tembok, membuat Gilang kaget. Terkejut karena hampir saja dia tertabrak atau kaget karena Afra begitu dekat dengan badannya. Gilang menahan nafasnya menatap pada Afra.



Afra melepaskannya. "Hampir aja lo dibawa ke rumah sakit.... Bukannya liburan, seneng-seneng malah lo kesakitan," tegur Afra menyindirnya. Gilang masih diam berkedip-kedip. "Lo nggak papa, kan?"


"Yah..." Terdengar hembusan nafasnya. "Makasih, Fra."


Afra mengangguk dan menyebrangi jalan.


Untung aja.... Batin Gilang bernafas lega. Lalu ia melihat pedagang yang berjualan.


"Fra...."


"Hem?" Afra menoleh pada Gilang yang ada di samping kanannya sedikit jauh.


"Ada jajanan.... Ayok beli."


Afra pun melihat ke arah yang ditunjuk oleh Gilang. Tapi, Afra masih diam dan ragu. "Uangnya emang ada?"


"Ada, ini." Uang yang diberikan dari kampus yang telah dipisahkan untuk mereka beli kebutuhan makan.


Afra pun mendekat ke arah Gilang berada sambil menggaruk sisi kepalanya. "Mmm kita kan tadi udah pake uang itu. Emang nggak papa dipake lagi?"


"Nggak papa, Fra. Ini, emang uang buat beli makan kita. Masih banyak. Kata Pak Imron juga, kita harus habisin uang ini. Sayang kalau nggak habis, uang ini nggak bisa dibawa balik nanti bisa kena denda."

__ADS_1


Afra pun menjadi girang. "Yaudah ayok."


"Ayok...."


...***...


"Han gimana? Udah dijawab belum?"


"Belum, Ji. Kenapa nggak dibales ya dari kemarin....." Hanna pun kebingungan dengan sikap Afra yang tidak membalas pesan dan menjawab panggilan darinya maupun Aji.


Tyo dan Katlyn pun datang setelah menuju ke gedung Deutsches Architekturmuseum (DAM) untuk menanyakan kegiatan Afra itu disini.


"Gimana Yo?" tanya Hanna.


"Di sana sepi, kegiatannya dah selesai dari kemarin," jawab Tyo.


"Terus ini gimana dong sama gue belum ketemu Afra," rengek Aji.


"Yaudah pasrah aja, tinggal susul ke Indonesia. Emang lo mau menetap di sini? Kuliah juga dah beres," sindir Hanna.


Aji malah semakin merengek mendekat Hanna dan mengganggunya. "Yaaa Aji!! Ih!"


"Guys kita belum selesai..." papar Katlyn. Membuat Aji dan Hanna yang tengah ribut itu terhenti. "Kita dapat informasi tempat tinggal peserta kegiatan itu."


"Kalau gitu tunggu apa lagi ayok!" ucap Aji dengan semangat kembali untuk pergi duluan meninggalkan mereka dan yang lainnya pergi ke arah yang berbeda dengan Aji. Aji pun menyadari segera berlari menyusuli mereka yang berjalan ke arah sebaliknya.


"Tungguin.... Hei!"


...***...

__ADS_1


Indonesia


Bu Diana sudah menemukan kontrakan rumah. Fauzi pun menemaninya disini, membantu membereskan barang-barang milik ibu Diana, dibantu juga oleh Bi Asih.


Dert Dert Dert


Di tengah Fauzi membantu ibu Diana, ponselnya berdering. Fauzi pun pergi ke tempat lain dan menjawab panggilan itu, dari ayahnya.


"Hallo--"


"Fauzi....."


Suara sang ayah yang begitu serak membuat Fauzi merasa gugup dan bertanya-tanya. "A-ayah... Di sana baik-baik aja, kan? Fauzan..."


"Fauzan..."


"Kenapa sama Fauzan, ayah?!" teriak Fauzi dengan degup jantungnya memompa kencang diselimuti oleh kecemasan.


Ibu Diana dan Bi Asih tersentak dengan teriakan Fauzi yang terdengar keras membuat mereka khawatir dengannya.


.


.


.


🦄🥀


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2