Me And Yu : Maevino

Me And Yu : Maevino
Eps. 17 'Me2Yu' Diantarkan


__ADS_3

Hanna, Mia dan Zeki asik bermain bersama anak-anak di halaman Panti Asuhan Pelangi. Zeki juga asik memotret mengabadikan setiap momen itu dengan kamera miliknya. Arnold yang sedari hanya berdiri diam bersama ibu panti memperhatikan ke arah kami berada. Sesekali mereka bercakap lalu terdiam lagi.


"Bunda..."


"Iyah?"


"Apa bunda perlu sesuatu? Keperluan untuk panti? Nanti biar Arnold yang--"


"Bunda nggak perlu apa-apa. Semua udah tercukupi buat anak-anak. Kamu yang rajin kuliah aja yah, fokus sama kuliah."


Arnold tersenyum angguk.


"Gimana soal adik kamu, Nak?"


Arnold terdiam setelah ibu panti menanyakan hal itu. Ia hanya bisa menggeleng pelan dengan perasaan sendu. Ibu panti membelai rambut Arnold mentransfer energi agar tetap semangat, bersabar.


"Insyaallah suatu saat nanti adik kamu ketemu."


Arnold mengangguk senyum.


...****************...


Netherlands


Ruang dosen, Aji dan Yollanda berada. Mereka sedang mengumpulkan bab akhir dari skripsi kami untuk diperiksanya oleh Mr. Hans, selaku dosen pembimbing.


"Good work. Your thesis can be received."


"Thank you very much! Mr. Hans." Aji begitu senang matanya terangkat ke atas karena senyuman yang ia lakukan begitu lebar.


Yollanda pun yang ada di sebelahnya ikut senang. "Selamat."


Aji mengangguk senyum.


"Yollanda?"


"Yes, Sir?"


Dosen Mr. Hans terlihat serius membuat jantung Yollanda tidak keruan. Ia begitu gelisah.


"There is only one mistake and you have to repeat it again, Yollanda."


(Hanya ada satu kesalahan dan kamu harus mengulanginya lagi)


"What?!" Yollanda tidak bisa menahan emosinya. "Where?"


Segera Yollanda mengambil skripsi nya itu untuk melihat kesalahan apa yang ia perbuat.


"Oh My God!!" Yollanda begitu kesal rasanya ingin mengumpat saat ini. Tapi tidak di depan dosennya. Ia menunduk ke samping mengumpat dengan suara sekecil-kecilnya. "Shit!"


Aji menahan tawa. Melihat kesalahan yang Yollanda perbuatan. Hanya kesalahan kecil membuat ia harus mengulangi bab itu.


Dosen Mr. Hans itu begitu perfeksionis. Beliau sangat perhatian, sangat detail untuk mencari kesalah pada skripsi kami.

__ADS_1


Satu kata saja yang ditulis salah. Beliau dapat menemukannya. Seperti halnya pada Yollanda tadi.


Kami sudah keluar dari ruangan dosen.


"Damn it! Why do I have to make a typo?! Only one letter?! Ahh shit!"


Setibanya di luar kampus. Yollanda mengumpat sesuka hati begitu kesal rasanya. Hanya satu kata salah mengharuskan ia memperbaikinya kembali untuk mengeprintnya.


"As if I have a lot of money for that! Ahhhh ...!!"


Terlihat frustasi dari seorang Yollanda itu.


Aji tidak bisa menahan tawanya lagi. Ia mengeluarkan handphone untuk merekam kegilaan mahasiswi Indonesia perantauan tersebut.


"Yaaaa Mas Aji! Jangan direkam?!"


"Hahaha."


Yollanda menghampiri Aji untuk menghentikannya. Aji terus menghindar agar handphonenya itu tidak diambil oleh Yollanda.


"AJI!!!" MAS GANTENG DARI TANAH JAWA! IH!!"


"Weiii kayaknya asik india-indiaan ya..." Suara tiba-tiba menghentikan keributan Aji dan Yollanda.


Sosok Tyo yang sudah berada di dekat kami tengah bermain sesuatu dengan handphonenya. Ya, dia merekamnya.


"Lanjutkan lanjutkan... Gue abadikan moments kalian berdua, guys."


"Ngadi-ngadi ni anak," kata Aji memberi telunjuk.


...****************...


Indonesia


"Bunda kami pamit pulang dulu."


"Iyah terima kasih yah sudah mampir kemari ngajak main anak-anak."


"Sama-sama, Bu."


"Kakak-kakak nanti ke sini lagi, kan?" tanya Beruang.


"Iyah nanti kita ke sini lagi. Main sama kalian," terang Mia.


"Kak Hanna juga ke sini lagi kan? Main sama Rara."


Hanna berjongkok untuk menyesuaikan tingginya dengan gadis kecil manis tersebut. "Iyah Kak Hanna nanti ke sini lagi. Main sama kamu, main sama semuanya."


"Yeeeey." Rara memeluk Hanna.


"Han.."


Hanna menoleh pada suara Zeki itu. "Sorry nih yah. Gue nggak bisa anterin lo pulang. Gue ada urusan mendadak nih, arah rumah lo sama tempat yang gue tuju beda."

__ADS_1


".... Tapi kalau sama ni anak satu arah, nih." Tertuju pada Mia.


"Nggak papa. Gue bisa pake angkot." Hanna beranjak berdiri.


"Sama Kak Arnold aja," usul Mia tiba-tiba.


"Hah?" Hanna bengong. Menatap Arnold juga begitu pun sebaliknya.


"Iyah Nak Hanna, biar Arnold yang anterin pulang. Bentar lagi gelap, sendirian nggak boleh. Bahaya," ujar Ibu Panti.


Hanna masih terdiam.


"Yaudah, Bu. Kita pamit pulang." Zeki lebih dulu berpamitan. Diikuti oleh Mia.


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumussalam."


Anak-anak panti berdadah.


"Han, duluan."


Hanna mengangguk.


"Yaudah bunda, Arnold sama Hanna pamit pulang juga."


Arnold berpamitan bersalaman dan juga kepada anak-anak panti.


"Kalian jangan berantem-berantem ya. Baik-baik."


"Iyah Kak Arnold," jawab mereka serentak.


"Hanna pamit pulang, Bu. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumussalam."


"Dadahhhhh Kak Hanna."


"Dadahh...." Hanna beranjak pergi.


"Bentar Han." Arnold berucap, "Bunda, punya helm di dalem?"


"Iyah ada."


"Arnold pinjem dulu ya, Bun."


"Iyah. Hati-hati."


Arnold segera mengambil helm yang ada di panti asuhan ini. Setelah sudah menemukannya. Ia kembali keluar dan bergegas pergi bersama Hanna.


"Ayok."


...🐻🌹🐨...

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2