Me And Yu : Maevino

Me And Yu : Maevino
Eps. 74 'Me2Yu' Ending


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu setelah kejadian di Prancis. Hanna dan Fauzan saat itu tidak banyak bicara, karena Hanna harus kembali ke Indonesia. Sedangkan Fauzan masih tinggal di Paris. Tapi dia bilang dia akan segera kembali ke Indonesia. Dan Hanna menunggunya dengan setia.


Hari ini Hanna sedang disibukkan dengan promosi filmnya. Dia sedang berada di tengah-tengah melakukan konferensi filmnya. Beberapa jam sudah berlalu dengan berbagai pertanyaan-pertanyaan. Konferensi telah selesai.


"Hanna," panggil Arnold.


"Kenapa pak?"


"Ada yang nunggu kamu di sana."


"Siapa?"


"Kamu bisa liat sendiri."


Hanna terheran dia segera pergi untuk mengeceknya. Seorang pria, dia membalikkan badannya.


"Fauzan?"


Wajahnya Hanna begitu gembira setelah melihat kedatangan Fauzan. Hanna tidak menyangkanya.


"Kenapa nggak kasih tahu kalau kamu udah di Indonesia?"


"Mau buat surprise," jawabnya.


Hanna senang mendengarnya.


"Wah bu Hanna ini pacar bu Hanna?"


"Paca bu Hanna ganteng banget...."


Rekan-rekannya mencoba menggoda sutradara muda ini. Yang digoda hanya tersenyum.


"Bu Hanna kenalin dong sama kita-kita."


Hanna melirik pada Fauzan. Fauzan mendapat sinyal tersebut, segera dia menyapa rekan kerjanya Hanna. Mereka saling berjabat tangan dan memperkenalkan diri. "Fauzan."


"Pacar bu Hanna artis yah?"


Karena Fauzan memakai style yang tidak biasa.


"Dia model," jawab Hanna.


"Pantesan.... bu Hanna beruntung banget. Saya kira bu Hanna bakalan sama pak Arnold heheh."


Hanna tersenyum kikuk sambil melirik pada Fauzan.


"Hei... kalian ini." Suara itu membuat semua orang menoleh ke arahnya. "Kenapa malah ngerumpi? Ngeganggu orang yang lagi pacaran."


"Hehehe pak kan ada yang bening harus disapa dulu."


Arnold menggeleng terhadap rekan-rekan kerjanya ini. "Jangan ganggu mereka kasian baru ketemu."


"Haha siap pak. Bu Hanna kita permisi dulu yah."


Hanna mengangguk senyum.


"Hanna jangan lama-lama, kita harus kumpul dulu dengan yang lain," kata Arnold.


"Baik pak."


"Ah Fauzan. Jangan lupa besok dateng, lo udah dapet undangan kan?"


Fauzan menganguk senyum. Arnold senyum kemudian pergi.


Fauzan kembali pada Hanna. "Kamu belum selesai?"


"Iyah. Kumpul sebentar kok, ada sedikit yang harus dibahas."


"Yaudah aku tunggu kamu di luar."


Hanna tersenyum angguk.


Tidak cukup lama untuk menunggunya. Hanna telah kembali dengan membawa tasnya. Dia berjalan menuju Fauzan dengan perasaan bahagia. Fauzan segera membukakan pintu mobil untuknya.


"Sekarang kita mau kemana?"


"Aku pengen ke butik bunda ngambil baju."


"Ke Bogor?"


Hanna tertawa kecil. "Nggak, di sini kok. Bunda buka cabang lagi disini."


"Ah gitu. Oke."


Fauzan mengendarai mobilnya. Hanna masih tidak percaya akhirnya dia dengannya bisa bersama, untuk menerima masa lalu mereka.


"Kamu udah nggak takut lagi naik mobil?" tanya Hanna.


"Iyah. Tapi sedikit sih kadang takut," kekehnya.


Hanna tertawa kembali. "Kamu tahu. Aku sedikit nggak rela kamu pergi ke Prancis waktu itu."


"Kamu tahu aku pergi Prancis? Bukannya Arnold yang ngasih tahu?"


Hanna menggeleng. "Aku juga nemuin kamu di bandara waktu kamu mau pergi."


Fauzan belum mengetahuinya, ia pun mengingat perasaan aneh itu. "Jadi, kamu yang meluk?"


Hanna tersenyum angguk.

__ADS_1


"Pantesan aku ngerasa itu pelukan kamu."


"Emang beda pelukannya sama yang lain?" tanya Hanna. Fauzan mengangguk sambil melirik padanya. "Bedanya apa?" tanyanya lagi.


"Emmm... bedanya... pelukan kamu hangat."


"Apa lagi?"


"Um nyaman, tenang."


"Terus?"


"Bisa buat aku deg deg deg gan."


"Terus terus?"


Hanna sangat senang mendengar bahwa pelukannya berarti untuk Fauzan.


"Terus aku pengen cium kamu."


Tiba-tiba membuat Hanna tersentak, dia memutar matanya karena syok, menutupi mulutnya dengan kedua tangannya. "Disini ada orang mesum."


Fauzan tertawa dapat menjahilinya. "Hahahaha... kenapa kaget gitu?"


"Masak aku nggak kaget, kamu bilang kayak gitu," sahutnya.


"Bukannya kita pernah yah?" goda Fauzan.


Hanna kembali tersentak. Fauzan mengingatkannya kembali, di saat kami masih duduk di bangku SMA.


"Aku masih kesel sama kamu soal itu."


"Kenapa? Bukannya kamu yang duluan cium hidung aku," tangkasnya.


"Dengerin yah. Yang pertama itu nggak sengaja, itu juga kan gara-gara kamu makanya bibir aku nggak sengaja kena hidung kamu. Terus yang kedua...." Hanna memikirkannya terlebih dahulu sebelum diucapkan.


"Yang kedua kenapa?" goda Fauzan lagi.


"Itu gara-gara kamu juga," cicitnya sembari malu lantaran itu bukan dicium di hidung lagi. Tapi. Fauzan tertawa ringan. "Nyium tapi nggak bertanggung jawab."


"Sekarang kan kita udah pacaran. Aku juga mau ngelamar kamu secepatnya."


Yang tadinya cemberut berubah menjadi senyuman manis yang malu-malu.


...****************...


Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Upacara yang begitu sakral yaitu pengikatan janji pernikahan. Mereka yang sudah saling percaya dan saling cinta menjadi satu di antara kunci yang akan menyatukan pasangan selamanya.


Mempelai pria mengenakan jas tutup berwarna putih mengenakan peci berwarna putih, duduk dengan wajah gugup menghadap penghulu karena akan segera melakukan proses akad nikah dan berlangsungnya ijab kabul. Sang pengantin perempuan terpisah, menunggu di ruangan khusus saat berlangsungnya ijab kabul.


"Aku nikahkan engkau, dan aku kawinkan engkau dengan pinanganmu puteriku Gina Karisa binti Muhammad Ginanjar dengan mahar seperangkat alat sholat dibayar tunai!"


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Gina Karisa binti Muhammad Ginanjar dengan maskawinnya yang tersebut, tunai."


"Sah...."


"Alhamdulillah ......."


Ijab kabul dan pembacaan doa telah selesai. Semua orang yang ada disini begitu bahagia melihat sahabat mereka telah resmi sebagai sepasang suami istri.


Sang pengantin perempuan kemudian ia keluar dari tirai dan menemui sang pengantin pria setelah sah menjadi istri. Gina terlihat cantik tersenyum bahagia karena laki-laki yang didepannya ini telah resmi menjadi suaminya, Nasrul Rajawijaya. Mereka saling memasangkan cincin satu sama lain, diciumnya kening istrinya oleh Nasrul.


"Rul," panggil pria berdarah Eropa. Semua orang menoleh ke arahnya. "Now it's no longer Pajak Jadian but now Pajak Nikah. Okay?"


Semua orang tertawa dengan candaannya, suasana menjadi berubah menjadi lebih santai, dan mereka bersenang-senang.


"Udah ini giliran lo kan?" canda Nasrul padanya.


"Gue maunya sih gitu, tapi nggak tahu nih..." Melirik ke arah wanita di sampingnya.


"Apa?" Katlyn berpura-pura tidak tahu.


"Gue rasa, pasangan yang dipertemukan lagi ini, giliran mereka," sambung Gina melihat ke arah Hanna dan Fauzan berada.


Hanna dan Fauzan hanya saling tersenyum senang. Mungkin itu akan menjadi doa bagi mereka.


Setiap rangkaian acara telah selesai, memasuki acara resepsi, pengantin tengah menyambut para tamu undangan. Dan teman-teman kedua mempelai berkumpul sambil mengobrol dengan riang.


Sebagian remaja mengira pernikahan seperti memasuki restoran di mana orang-orang hanya menemukan yang enak-enak saja, tapi berlaku juga untuk mereka mantan sekumpulan remaja SMA Bakti Nusa.


"Akhirnya couple Fauzan dan Hanna yang gue tunggu-tunggu udah official juga," ucap Oni senang sambil menggodanya. "Kapan kalian nyusul gue sama Gina nih?"


Hanna dan Fauzan saling melirik senyum.


"Doain aja," balas Hanna tersenyum.


"Eh tapi jangan jauh-jauh yah, nikahnya jangan di Prancis. Gue nggak ada ongkos," kekeh Oni.


Sebuah lengan besar merangkul Oni membuatnya terkejut. "Oy Ollaf, biarin mereka mau nikahnya dimana, yang penting nih mereka bisa bahagia sampai ke jenjang itu."


Oni menyeringai mendengar kalimatnya yang begitu dewasa. "Wah lo tumbuh menjadi pria yang dewasa yah."


"Oh jelas." Bangganya Tyo.


Dan tiba lah pria dari belakang mereka menyingkirkan tangan bule itu dari istrinya.


"Istri gue nih, jangan dirangkul-rangkul sembarangan," cibirnya menatap Tyo tidak suka.


Tyo berseri sambil meledeki. "Sorry sorry. Lo nggak usah takut, gue nggak akan rebut Istri lo ini, gue nggak mau jadi plakor. No..."

__ADS_1


Mereka semua tertawa riang.


"Onion... aku nggak mau liat kamu deket-deket sama dia yah," pintanya kepada Oni. Yap.


Kalian masih ingat dengan pria di taman fantasi? Oni bertemu dengan mantan SMA nya di sebuah komedi putar, namanya Ahmad. Dan ternyata Oni kembali dengan mantannya itu dan kini sudah menikah selama 2 tahun. Husein? Oni dengan dia sudah pernah berpacaran tapi putus.


Tyo mencibir suaminya teman seperjuangannya ini. Pak! "Aaah!" Sebuah pukulan ringan mendarat. "Kat, why? Kenapa mukul aku?"


"Nggak boleh gituh," tegurnya sambil menggandeng anak kecil perempuan berumur 12 bulan kurang ini.


"Iyah," kekeh Tyo lalu melihat ke arah anak kecil itu. "Hallo mini Ollaf."


"Anak mamih digandeng sama siapa itu?" tanya Oni pada anaknya. Oni dan Katlyn saling melihat satu lain sebentar.


Tentu saja Oni baru saja bertemu dengan kawan seperjuangannya, Tyo, karena saat pernikahannya ia berhalangan datang. Sekarang dia membawa gadisnya, Katlyn. Oni ikut senang.


"Gue pengen gendong boleh On?" tanya Hanna.


"Boleh lah masak nggak boleh," kekehnya.


Hanna pun menggendong anak dari sahabatnya ini. Lucu sekali.


"Tuh Han udah cocok lo gendong anak, Zan buruan nikahin dia," lontar Tyo.


Lelucon dan obrolan seperti ini, mereka berkumpul seperti reuni. Di sini juga, bukan hanya mereka, tetapi teman-teman Bakti Nusa ada di sini dan guru-guru kami juga ada di sini, terutama Pak Raja, ayah dari pengantin pria. Guru killer kami yang selalu menghukum.


Acara ramah tamah, hiburan dan foto bersama tengah berlangsung sekarang. Di depan sana pengantin tengah berfoto bersama keluarga besar mereka. Dan di antara mereka senior Hanna yang kami kenal ada di sana.


"Gue seneng ternyata Gina masih punya keluarga kandungnya," ucap Oni menatap haru.


Mereka segera melihat ke arah yang dimaksud Oni. Arnold berada di keluarga kedua mempelai. Karena adik perempuan yang dia cari adalah Gina. Dan Arnold membiarkan namanya menjadi Gina, bukan lagi Saskia.


"Eh tunggu-tunggu, si Aji kemana?" tanya Tyo.


"Oh iyah bener kemana tuh anak," sambung Oni.


"Oh itu tuh..." tunjuk Hanna melihatnya, Aji berada di luar seperti menunggu seseorang.


"Ngapain dia?"


Tapi tidak lama setelah itu seorang gadis menghampirinya. Mereka saling tersenyum. Disusul oleh pria lain dibelakangnya. Bukan pacar, bukan teman, tapi status mereka terjebak dalam friendzone dan cinta segitiga.


"Gue kasian sama Afra," cakap Oni. "Kebingungan mau milih siapa hahaha."


Kedatangan cinta segitiga ini tiba. Aji, Afra dan Gilang.


"Afra...." Oni segera memeluk sahabat laknatnya. "Wih cantik rambutnya dah panjang."


Afra hanya tersenyum juga malu. Lalu melihat ke arah Fauzan dan Hanna yang menggendong anak kecil, ia tersenyum bahagia bisa melihat mereka. "Ini mini Ollaf lo?"


Oni mengangguk.


Afra begitu gemas pada anaknya sahabatnya ini. Lucunya.


"Kalian jangan ngintilin Afra terus, kasian," tegur Hanna kepada Aji dan Gilang.


"Tuh dengerin," sambung Afra.


Aji dan Gilang mengabaikan mereka menatapnya malas.


"Geng Me and Yu Bakti Nusa silahkan bisa menghampiri dan berfoto bersama pengantin."


Suara MC itu menyadarkan mereka.


"Ayok ayok foto...."


"Han, mini biar digendong sama ayahnya," kata Oni.


Hanna mengangguk memindahkan mini Ollaf kepada ayahnya, suami Oni.


Kami semua menghampiri kedua mempelai dengan gembira akhirnya kami berfoto bersama sebagai orang dewasa. Setelah lulus SMA dan hari ini.


"1.. 2... 3..."


...Ches!...


...****************...


Hanna menaruh sekuntum mawar putih dan membiarkannya mengalir di air Sungai Siene Prancis. Hanna dan Fauzan memandang bunga putih untuk mengingat Fauzi yang telah pergi menemui Sang Pencipta.


Fauzan memutar Hanna untuk saling berhadapan. Mereka saling menatap begitu lekat dengan senyum ringan.


"Fauzi pasti bahagia ngeliat kita sama-sama."


Hanna mengangguk. Dia membawa Hanna ke dalam pelukannya, sejenak. Mereka pun berjalan beriringan, Hanna meletakkan kepalanya pada pundak Fauzan, dengan pemandangan menara Eiffel yang bisa disaksikan di sini. Promise, janji itu sudah terpenuhi.


...TAMAT...


Saat takdir itu datang, tak ada yang bisa menolaknya. Meski, kamu sudah berhati-hati dalam bertindak dan melangkah. Takdir memang sudah digariskan, tetapi bukan berarti tidak bisa diubah. Jika menginginkan takdir yang baik, maka jalan satu-satunya adalah memohon kepada Sang Pencipta.


Untuk pertama kalinya, aku tak perlu mencoba untuk bahagia. Karena saat bersamamu, hal itu terjadi begitu saja.


Fauzan mencium puncuk kepalanya.


Terima kasih karena kamu, aku tahu arti dari menjalani hidup yang duka. Kebahagiaan ku telah menjadi sempurna, adanya kamu yang masih mencintai ku.


...Aku...


...Kamu...

__ADS_1


...Akhir dari sebuah perjalanan ini...


...🥀...


__ADS_2