
Sepeda motor Metic Vespa melaju di Kota Hujan ini. Tentu saja hari ini tidak hujan, tapi cukup menyejukkan. Mereka berjalan dengan perasaan bahagia satu sama lain. Dikelilingi oleh pepohonan dan kebun teh yang sejuk. Mereka telah sampai di depan Rumah Hanna. Tapi, sepertinya mobil orang tuanya belum juga datang.
"Mobil orang tua kamu kayaknya kejebak macet," kata Fauzi. Fauzi meletakkan helmnya.
"Iyah, mobilnya belum ada," sahut Hanna sambil membuka helm. "Yaudah kita masuk dulu."
Fauzi angguk.
Sudah lama sekali sejak memasuki rumah ini lagi. Kembali ke sekolah menengah, rumah ini selalu digunakan sebagai markas kami untuk bermain dengan yang lainnya. Rasanya aneh. Berpura-pura tidak terjadi apa-apa di depan Hanna.
"Assalamu'alaikum..." Tidak ada jawaban. Hanna mencoba untuk membuka pintu rumah. "Nggak di kunci."
"Berarti udah ada orang, siapa?"
"Mungkin bi Onah. Bi Onah kan yang jagain rumah ini selagi aku di Jakarta," jelas Hanna. Fauzi pun ber'oh.
Hanna dan Fauzi melangkah kakinya ke dalam rumah. "Aku ambilin minum dulu."
"Aku bantuin," sahut Fauzi. Hanna tersenyum.
Kami berada di dapur menyiapkan air minum. Perjalanan yang cukup panjang untuk sampai ke sini. Saat kami sedang minum, terlihat Bi Onah keluar dari pintu rumah.
"Eh Non Hanna udah sampe..." Raut wajah bibi itu tampak senang melihat majikannya kembali dibalut kekhawatiran. Hanna dan Fauzi bersalaman. "Bibi seneng, liat Non Hanna udah sehat lagi."
Hanna berseri. "Iyah, Bi."
"Eh.. geningan sama si kasep." Bi Onah memandang Fauzi sudah mengenalnya. Bi Onah ikut-ikutan berpura-pura menganggapnya sebagai Fauzi sebagai Fauzan. Karena semuanya sudah direncanakan oleh Aji.
Fauzi tertawa, malu disebut tampan "Ahahah bibi mah suka gitu." Tapi seketika Fauzi bergaya keren. "Tapi, emang ganteng banget kan?"
"Aaha si aden, mah." Bi Onah tertawa sambil memukuli Fauzi dengan lembut. Memang Fauzi dan Bi Onah selalu bercanda dari dulu.
__ADS_1
Hanna tertawa juga tapi rasanya aneh melihatnya. Hanna teringat Fauzi. Karena Fauzan yang dia kenal tidak akan berperilaku seperti ini. Lelucon itu pasti berbeda.
"Bibi mau masak dulu, siapin makan malam buat nanti."
"Iyah, Bi. Kalau gitu Hanna ke kamar dulu ya."
"Nanti bibi bawain cemilan ke atas."
"Makasih bibi," balasnya. "Ayok, aku mau liatin sesuatu."
Sambil berjalan menuju ruangan, naiki tangga satu per satu. Dan dia sampai di pintu yang menunjukkan kamarnya, karena itu dibubuhi tulisan Hanna's Room.
Baru kali ini Fauzi melihat kamarnya Hanna.
Hanna pergi ke meja belajar ada laci kecil, dia membukanya, mengambil sesuatu di dalamnya.
"Kamu mau ngasih liat apa?"
"Gelang?" Bingung Fauzi. Hanna menganguk-angguk. "Gelang siapa?"
"Gelang dari kamu, Uzan."
"Ah iyah..." Fauzi berusaha untuk meyakinkannya kembali. "Haha kamu masih nyimpen?"
Hanna menjadi heran terhadapnya. "Iyah."
Fauzi tersenyum. "Sini, biar aku pakein." Fauzi mengambilnya dan memasangkannya pada pergelangan tangan Hanna. "Cantik. Kayak kamu." Fauzi mencubit pipi Hanna gemas.
Begitu Hanna merasa dibuat aneh lagi, oleh kata-kata yang diucapkannya. "Sakit, Uzan."
"Hahaa iyah iyah. Kamunya gemesin," kekeh Fauzi. Hanna dengan cemburut mengatupkan bibirnya. "Sini sayang..." Fauzi menarik Hanna dalam dekapannya.
__ADS_1
Hanna mematung. Tidak bisa bergerak. Tidak bisa bernafas. Tapi, anehnya jantungnya biasa-biasa saja dipeluk oleh kekasihnya. Tak lama, Fauzi melepaskannya.
Hanna masih terdiam menatapnya.
"Ada apa?"
"Hah? Eng.. gak, kok," kilah Hanna. "Kamu masih nyimpen buku dongeng dari aku?"
"Buku dongeng?" Fauzi mencoba mengingat sesuatu untuk Fauzan. Buku dongeng, buku dongeng .... Fauzi bangun mengingatnya, dia pernah melihatnya. Saudara kembarnya itu sering membacanya tiap malam. Karena buku untuk anak-anak tentang Barbie, Fauzi belum sempat membacanya.
"Maasih, kok. Ada di rumah."
"Beneran?"
"Masak bohong. Aku sering bacanya, diulang-ulang tiap malem."
Hanna tersenyum. "Berarti kamu udah tahu isi ceritanya, dong. Nah kalau gitu sekarang kamu ceritain sama aku."
"Hah?"Jantung Fauzi berdegup kencang karena gugup. "Ah cerita ya?"
Hanna angguk. "Iyah ceritain."
Fauzi masih terdiam, gugup sekali. Dia tidak pernah membacanya. Dia bahkan tidak tahu judulnya.
"Cemilannya udah dateng..."
"Makasih, Bi."
Suara bi Onah menyelamatkan keresahan Fauzi disini. "Han, aku ke toilet dulu." Hanna mengangguk mengiyakan. Hanna menatap dengan heran saat dia meninggalkan ruangan.
...🦄🥀...
__ADS_1