
Wageningen University, Belanda
Aji keluar dari gedung kampusnya, mengobrol riang melalui telepon.
"Yah bunda. Yah ..."
"..."
"Aji tunggu."
"..."
"Iyah bunda."
Aji mengangguk sambil tersenyum. Percakapan selesai. Bahwa orang tuanya akan segera menyusulnya ke sini, begitu pula Hanna, seorang teman dan saudara perempuan. Secara tidak sengaja, tatapannya tercengang. Bagaimana temannya Tyo bisa semakin dekat dengan Fauzi setiap hari. Yang ia ketahui adalah Fauzan dan teman perempuan yang selalu bersamanya itu, Katlyn.
Tyo pun mendapati Aji. "Aji ..." teriaknya.
Dia mendemonstrasikan agar Aji datang ke sini. Namun, Aji ragu-ragu namun nyatanya ia melangkah maju untuk menemui mereka.
Hanya sekilas Aji menatap Fauzi itu dengan dingin. "Ada apa?" tanyanya kepada Tyo.
"Yaaa ikut gabung, nongkrong kayak dulu," cakap Tyo santai.
Aju masih diam kemudian tatapannya berakhir pada Fauzi selanjutnya pada sosok perempuan yang ada di samping Fauzi itu. Katlyn. Aji jadi mengingat ucapan terakhir yang dikatakan oleh Katlyn padanya ketika mereka bertemu tak sengaja.
Apa gue dengerin penjelasannya dulu yah kayak yang dikasih tahu cewek itu. Kenapa dia bilang gue bakalan nyesel? Batin Aji berbicara.
"Oyy Aji."
"Hah?" Aji terbangun dari lamunan pikirannya. "Gue cabut dulu."
"Mau ke mana?"
"Ada urusan, gue sibuk."
"Sibuk apaan? Kuliah juga udah kelar, soso'an sibuk," kekeh Tyo.
Dan Fauzi Katlyn hanya diam tak mampu bicara.
"Bokap sama nyokap gue mau ke sini, gue harus nyiapin sesuatu," balasnya malas.
"Sama Hanna juga?" tanya Tyo polos bersemangat penuh arti.
"Hem." Aji hanya berdehem. "Duluan."
Aji pun pergi.
Tyo tersenyum pada Fauzi. Setidaknya dia memberikan informasi tentang Hanna.
__ADS_1
"Hanna, Zi. Hanna. Lo mau nemuin dia kalau udah di sini?" tanya Tyo.
"Mm nggak." Tyo menaruh pertanyaan dalam ekspresinya itu. "Lebih baik gue nggak ketemu dia."
"Lo harus ketemu Hanna, lo harus lurusin masalah ini," saran Tyo.
"Gua pastiin gue bakalan lurusin masalah ini. Tapi untuk ketemu, gue rasa gue nggak berhak." Fauzi menatap hampa. "Yang lebih berhak untuk ketemu Hanna itu Fauzan."
Katyln dan Tya saling menoleh.
"Lo suka yah sama Hanna?" tanya Tyo menebak.
Fauzi tersenyum tipis tidak menjawab pertanyaan itu. Ia mengambil tas dan menggendongnya. "Ayok. Bentar lagi ujian mulai."
Dia pergi lebih dulu. Lalu disusul oleh Katlyn dan terakhir Tyo.
...****************...
Indonesia
Kampus.
Pintu kelas baru saja terbuka lebar-lebar. Semua mahasiswa keluar dari sana begitu ramai, gembira dan bahagia. Mereka baru saja menyelesaikan Ujian Akhir Semester. Dan hari ini telah usai.
"Akhirnya..." Mia dan Zeki bernafas lega.
"Ayo. Kita harus cek filmnya," ajak Hanna segera.
Mia dan Zeki mengangguk semangat.
Mereka bertiga nampak antusias untuk melihat hasil film pendek yang mereka buat untuk diajukan dalam perlombaan. Dan Arnold telah menyelesaikan sebagai editor di sini.
......................
"Arnold, kamu masih nggak mau jelasin?" Sedikit geram pada sosok pria cuek di depannya ini. Meski begitu, dia masih mencintainya.
"Nggak ada yang harus dijelasin, Re." Arnold nampak tenang.
"Tapi kenapa kamu mau gabung sama tim adik tingkat itu? Menolak ikut gabung sama tim ku?" Rhea bersih keras ingin mendapatkan jawaban dari pertanyaan itu.
Arnold diam.
"Ooohh .. Apa jangan-jangan karena ada junior yang pernah kamu usilin di ospek itu, kan? Boneka Si Pesuruh Tuan Arnold," lirih Rhea terdengar menjengkelkan.
"Denger." Arnold menjadi geram. "Hanna. Sama sekali nggak ada hubungannya soal ini. Gue masuk timnya karena mereka punya rancangan dan proposal yang mereka buat sesuai dengan apa yang akan gue kerjain di tugas akhir gue nanti. Jadi, lo nggak usah bawa-bawa Hanna. Apalah itu."
Rhea dibuatnya diam tak berkutip. Nampak takut bahwa mantan pacarnya ini pertama kalinya bersikap seperti ini.
"Ah satu hal yang gue lupain." Arnold berbalik badan. "Sikap lo yang ginih. Yang sering nyeret orang dalam permasalahan yang belum tentu jelas mereka salah. Karena itu gue mutusin lo."
__ADS_1
Arnold pun pergi setelah mengutarakan isi hati yang sejujurnya kepada mantan pacarnya itu, Rhea. Arnold memang tipikal orang yang pendiam dan dingin, cuek. Tapi, di saat Arnold benar-benar membuat orang masuk ke dalam kehidupannya, dia akan bersikap lembut. Namun, jika orang tersebut mengecewakannya. Arnold akan bersikap seperti awal. Dingin.
......................
Di sisi lain. Ternyata Hanna, Mia dan Zeki melihat keributan antara kedua senior mereka. Kak Arnold dan Kak Rhea. Meski melihatnya, ketiganya tidak tahu apa yang senior itu ributkan.
"Bukannya Kak Rhea itu pacarnya Kak Arnold, yah?" tanya Mia.
"Mantan," kata Zeki membenarkan.
"Iyah mantan pacar maksudnya. Kenapa mereka bisa putus yah?" tanyanya lagi.
Zeki menaikkan kedua bahunya tidak tahu. "Gue kira setelah putus mereka rukun-rukun aja keliatannya. Tapi ternyata ribut juga."
Hanna hanya diam tak menanggapi soal kedua seniornya. Meski tahu Kak Arnold dan Kak Rhea pernah berpacaran. Tak lama kemudian mereka kembali berjalan menuju ke suatu tempat menemui salah satu senior yang kami bicarakan. Yah, Arnold.
Arnold tengah duduk mengeluarkan laptop dalam tasnya dengan raut yang masih emosi. Ia pun masih membayangkan yang terjadi tadi.
"Akhh kekanak-kanakan," lirih Arnold sangat menyesal telah bertengkar tadi dengan Rhea, mantan pacarnya.
Lalu Arnold pun mengingat perkataan Rhea tadi tentang masa ospek.
Mulut Arnold menganga sedikit demi sedikit dengan mata membulat. "Ah apa karena kejadian ospek dia sering kesel sama gue?"
Arnold pun baru menyadari jawaban dari sikap Hanna terhadapnya. Terlihat dari pintu masuk, orang yang ditunggu-tunggu telah datang.
"Hallo, Bang."
Zeki bersalaman andal.
Arnold menutupi kekesalannya sekarang. "Gimana ujiannya?" tanya Arnold nampak tenang. Dia dapat menyembunyikan eskpresi emosinya karena tadi.
"Nggak usah ditanya, Bang. Namanya ulangan yah gitu sama aja," kekeh Zeki. "Susah gampang susah."
"Hahaha." Arnold tertawa kecil.
Bener-bener kayak Koala. Dalam hati Hanna yang ternyata memperhatikan seniornya. Dia nampak tertawa diam ketika Arnold tertawa tadi yang membuat matanya menjadi sipit, tidak terlihat.
"Kalau buat Kak Arnold mah, gampang-gampang ajah," sindir Mia.
Ya. Salah satunya adik tingkatnya Mia, karena selalu bertemu membuat nampak santai ketika bersama senior kejam Arnold ini, dulu. Arnold tersenyum kekeh. Kemudian ia melihat pada Hanna. Mereka berdua hanya menatap diam.
"Ah, filmnya udah selesai. Kita tonton bareng, kalau semisalkan menurut kalian ada yang kurang atau apa ... langsung kasih tahu gue. Biar langsung di-edit lagi."
"Oke oke, Bang."
...Play....
...🐻🌹🐨...
__ADS_1