
Tempat dimana setiap orang berduka dengan air mata. Tidak ada yang bisa lepas dari kematian, tidak ada yang bisa sembunyi dari kematian. Kerusakan yang begitu dalam untuknya, kemarahan dan kesedihan untuknya yang ditinggalkan. Kehilangan Si Kembar bagaikan matahari tenggelam. Teman, sahabat, dan keluarganya telah mendoakannya. Menaburkan kembang untuknya, mencium batu nisan agar bisa mengiklaskan kepergian anak pertamanya, masih tetap setia air mata membasahi pipinya. Satu persatu telah meninggalkan tempat duka ini, begitu berat untuk merelakan.
Tinggallah disini, orang-orang yang paling kehilangan.
Dia duduk di kursi roda, dengan air mata yang tidak bisa berhenti. Sangat sakit setelah kehilangan seseorang yang sangat mencintainya, dia hanya mencintainya tetapi tidak diizinkan bersamanya untuk waktu yang lama. Penyesalan? Tentu saja ia rasakan. Beribu-ribu kata terima kasih untuknya. Yang telah mencintai setulus hati. Sampai maut memisahkan.
Terima kasih sudah datang padaku, dan membahagiakan ku. Ketulusan cinta mu akan selalu ku rindukan.
Bahkan kehidupan bahagia kita tidak lepas dari kesedihan. Aku kehilanganmu, dan aku terlambat untuk mengatakannya, aku mencintaimu, Fauzi.
Orang tua yang telah berjuang, bersabar dan tegar menghadapi ujian yang menimpa keluarganya. Selepasnya, dia menerima panggilan, mendapatkan kabar yang membuatnya menemukan secerah harapan dari balik dukanya.
"Mah..." Dia memegangi pundak sang istri.
Harapan.
Keajaiban.
Bernafas kembali.
...****************...
Ruangan yang dipenuhi dengan kesedihan akhirnya menghilang setelah lamanya tertidur selama beberapa tahun, dan sekarang ia terbangun dengan keajaiban yang tidak terduga. Tuhan memberikan ujian berupa kegagalan dan kehilangan pada kita untuk mengajarkan hikmah didalamnya. Dan inilah hikmah di balik kehilangan itu.
Kami kehilangan dia sekaligus kami merasakan kembali kehadirannya kerena dia.
"Fauzan..."
Kali ini air mata yang keluar bukanlah karena sedih melainkan air mata kebahagiaan.
Aku sangat merindukanmu, dan semakin rindu karena ini akan menjadi hari terakhir aku melihatmu.
...🥀...
Hari-hari telah berlalu bagi mereka.
Fauzan telah kembali dengan senyum terukir. Walaupun sudah terbangun dari koma, pemulihan cedera kepala berat akan memakan waktu yang lama, fungsi otak pun tidak dapat kembali seperti semula. Oleh karena itu setelah Fauzan sadar, ia perlu menjalani rehabilitasi untuk menstimulasi fungsi otak dan mengembalikan fungsi tubuhnya kembali.
Dia duduk termenung melihat ke arah luar jendela. Rasa sakit yang ia rasakan kembali tumbuh di benaknya. Dia sedikit tidak percaya, bahwa dirinya dalam keadaan koma selama tiga setengah tahun ini. Namun, yang lebih mengejutkan untuk dirinya, begitu sakit menerima bahwa saudara kembarnya telah meninggal, tidak lama dari keadaan dirinya yang siuman.
Sesak. Perih di dada, sulit untuk bernafas.
"Apa yang udah gue lewatin??" Berusaha untuk menahan isakan tangis, namun gagal.
Tangis itu kembali pecah setelah ia baru saja kembali dari pemakaman saudara kembarnya.
Gadis itu mengusap punggung Fauzan, agar tegar menerima semuan yang terjadi padanya. Juga untuk dirinya, Katlyn berusaha mengiklaskan kepergian Fauzi. Dia sudah menjadi saksi dari perjuangan seorang Fauzi untuk masa lalu saudara kembarnya. Berharap dia bisa tenang di atas sana setelah ia berhasil menuntaskan rencana Fauzan untuk mengembalikan kebahagiaan Hanna.
"Ini salah gue...! Salah gue!" Dia memukul, menyakiti dirinya sendiri.
"Fauzan..."
__ADS_1
Katlyn berusaha agar Fauzan tidak melukai dirinya sendiri. Ayahnya pun mendekat untuk menenangkan putranya itu, ibunya menahan tangis di sana memeluknya putri kecilnya.
Saat tirai jendela ditarik oleh Fauzan karena mengamuk. Sinar matahari dari luar menyilaukan penglihatan Fauzan, merasakan sesuatu yang aneh dari mata kanannya, penglihatannya kabur, dan menjadi gelap.
"Aaahk! Hah..! Ayah... ayah mata Uza ayah!"
Semau menjadi panik.
"Mata kanan Uza nggak bisa liat!"
Katlyn segera memanggil ayahnya yang merupakan dokter di sini, yang telah merawat Fauzan.
Saat ini, Fauzan sedang diperiksa oleh dokter, dr. Ben memanggil dokter lain spesialis mata untuk memeriksa mata kanannya Fauzan yang semakin parah. Sebelum Fauzan mengalami kecelakaan yang mengakibatkan dia koma, Fauzan memang sudah memiliki riwayat, kondisi fisik yang diharuskan dia melakukan terapi saraf. Awalnya, pengelihatan hanya kabur, namun semakin hari mata memerah, dan terasa sakit.
"Bagaimana dok?"
"Pasien mengalami kondisi buta parsial, di mana... penglihatan sepenuhnya menghilang di satu mata, yaitu mata kanannya."
Tertegunnya semua orang bahwa ujian ini belum berakhir.
"Dokter! Tapi saya bisa melihat lagi, kan, dok?!"
Fauzan tidak mau. Dia ketakutan.
"Kamu tenang dulu," ucapnya. "Kebutaannya hanya sementara, yang terpenting pasien mendapatkan pengobatan. Tapi, jika dibiarkan itu akan sulit."
...****************...
Di sisi lain Hanna telah menjalani perawatan selama ini, ia semakin membaik setelah kecelakaan yang menimpanya, akhirnya ia sudah bisa berjalan. Hari yang telah ditunggu untuknya, agar bisa menemuinya. Tapi tidak yakin untuk bisa bertemu dengannya.
"Iyah, Kak?" Dia berbalik dengan riang sekarang karena dia bisa berjalan lagi.
"Kamu beneran nggak mau nemuin Fauzan?"
Seketika suasana menjadi berubah.
"Iyah kak, cukup Fauzi aja, aku nggak mau kehilangan orang yang ku sayang lagi karena ku. Aku nggak mau dia menderita, Kak."
"Tapi Hanna... Ada sesuatu yang belum kamu ketahui," terang Bella membuat Hanna penasaran, ia menunggunya. "Waktu itu, Fauzan pernah datang ke sini nemuin ayah."
Hanna tertegun.
Seorang pemuda datang ingin menemui pemilik rumah ini. Namun, tidak diizinkannya oleh penjaga rumah tersebut. Tapi, tidak lama kemudian mobil mewah datang, jendela terbuka memperlihatkan seseorang di dalamnya.
"Pak, ada apa ini?"
"Maaf tuan. Pemuda ini bersih keras ingin bertemu dengan tuan."
Baru saja terpanggil kan, ia segera mendekati mobil tersebut. "Pak Wisnu.... Saya perlu bicara dengan bapak." Begitu gelisah dan menggebu-gebu, ia terus dihalangi oleh satpam di sini.
Perempuan muda di samping pria tua yang begitu berwibawa itu menengok untuk melihatnya. "Fauzan?" Merasa tidak asing.
__ADS_1
"Kak Bella? Kak, ini Fauzan kak! Fauzan perlu bicara, ini penting! Tentang Hanna!"
Seketika mereka terdiam setelah mendengar nama Hanna, semua menjadi gelisah dan gugup kecuali pria di dalam mobil itu.
Fauzan berdiri dengan gugup di hadapan keluarga Hanna sekarang.
"Apa yang ingin kamu bicarakan tentang putri saya?"
Fauzan menyeringai mendengar 'Putri saya'. "Om masih menganggap Hanna putri om?"
Wisnu tidak menyukai gelagat pemuda ini. "Bicara lah. Saya tidak punya banyak waktu hanya untuk mendengar omongan mu yang tidak jelas itu."
"Hanna tidak salah," ungkap Fauzan.
"Fauzan, apa maksud kamu?" Bella kebingungan.
"Kecelakaan itu, bukan salahnya. Itu salah saya." Semua orang tersentak setelah mendengar pengakuan dari Fauzan. "Truk itu menghindari mobil saya, tapi pada akhirnya truk itu malah menabrak mobil yang Hanna, dan Annisa naiki."
Tampak kemarahan dari Wisnu, berjalan dengan memburu emosi pada Fauzan. Bugh! Fauzan mendapat pukulan darinya.
"Jadi kamu penyebabnya?! Dasar! Kamu sudah menyebabkan putri saya mati!" geramnya.
Bella terkejut, terdiam membeku.
"Maaf om. Saya memang salah. Tapi, itu..." Fauzan tidak bisa meneruskannya. "--Aaah!" Fauzan mendapat pukulan lagi.
"Ayah..!!" Bella segera untuk menjauhkan ayahnya dari Fauzan. "Ini sudah terjadi ayah! Ayah tidak bisa mengembalikan Annisa. Ayah seharusnya sadar..." Wisnu tersentak karena ucapan Bella. "Ayah sudah salah selama ini, memperlakukan Hanna."
"Om....." Fauzan membungkuk, meraih tangan untuk meminta maaf sebesar-besarnya. "Ini benar-benar salah saya, bukan Hanna. Saya mohon om, om kembali lagi sama Hanna. Hanna membutuhkan keluarganya."
Wisnu menepisnya. Namun, rasa bersalah itu perlahan muncul dalam benaknya untuk putrinya. Ia berencana untuk melaporkan Fauzan ke kantor polisi, tapi tetap saja dia tidak akan bersalah. Karena, ini adalah kecelakaan.
"Dia ngasih tahu ayah kalau sebenarnya, semua yang terjadi sama kamu, kak Annisa, itu kesalahan dia. Dia berusaha menyadarkan ayah, kalau kamu bukan penyembabnya. Kamu nggak salah," ungkap Bella.
Air mata tidak akan berisitirahat lagi semakin ia merasa bersalah, membuat semua orang menderita karenanya. Dia semakin yakin untuk tidak bertemu dengannya lagi.
"Kak... Hiks..." Bella memeluk adiknya. "Kak aku harus gimana? Fauzan, Fauzi... hiks,, mereka berusaha memperbaiki semuanya, ngembaliin kebahagiaan Hanna."
Bella tidak mampu berkata, dia hanya terus memeluknya memberikan ketenangan.
...🥀...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Hallo! Maaf baru bisa update...
...Dua Minggu ini, Author baru saja selesai merevisi "Diary Of A School (D'OAS) Series 1 : Me and Yu"...
...Jadi Author harap... para reader bisa berkunjung lagi dan memeriksanya ^ ^...
...Karena di bab bab terakhir ini akan berkaitan dengan D'OAS Revisi terbaru....
__ADS_1
...Terima kasih yang sudah setia menunggu cerita ini. Sekali lagi mohon maaf...
...✨...