
Hospital, Singapore
Di luar kamar rawat Fauzan, orang tuanya melihat ke balik jendela besar untuk melihat putranya yang masih terbaring dengan alat pernafasan. Dia masih bertahan karena alat itu dan apa yang harus mereka lakukan? Mematikan alat bantu pernapasan. Hal yang sama seperti membunuhnya? Tidak. Mereka tidak ingin melakukan itu pada putranya.
Seorang dokter berjalan ke arah mereka. Dokter itu mendatanginya.
"Excuse me..."
"Ah Do-dokter Reza... kami belum siap kehilangan putra kami. Tolong sedikit bersabar,, jangan menyerah pada putra kami. Jika Dokter seperti ini, kami ikut berputus asa,, kami tidak mau kehilangan Fauzan... Tolong selamatkan Fauzan..." Wanita paruh baya itu berbicara dengan terbata-bata, seluruh tubuhnya gemetar dan gelisah.
Suaminya mendekat untuk menenangkan istrinya itu. "Sayang..."
Dokter Reza terdiam melihat seorang ibu yang masih menaruh harapan besar pada anaknya yang entah bagaimana terbangun dari komanya.
"Mrs. Anita...." Wanita itu menatap sendu padanya. Dokter Reza tersenyum tipis. "I won't hand over."
Kerutan mata tampak terangkat, membawa harapan kembali. Dokter Reza itu melirik ke sampingnya melihat Fauzan di dalam sana. Dan berharap Tuhan selalu ada disisinya dalam kondisi apapun. Memberi kesempatan hidup padanya.
...***...
Jerman
Di lapangan yang luas dengan vegetasi kering memberikan pemandangan alam yang indah yang bisa mereka nikmati. Namun di sisi lain Aji, Tyo dan Katlyn berusaha menyembunyikan kekhawatiran pada Fauzan di depan Hanna dan juga Afra saat ini. Berharap apa yang terjadi nanti adalah sebuah kabar baik yang mereka terima.
Aji berjalan berdampingan dengan Hanna sembari bercanda berjalan lebih awal disusul Tyo, Katlyn, Afra dan Gilang di belakang sana.
"Lo nggak papa?"
__ADS_1
Suara itu membuat Aji menoleh ke belakang.
Melihat pemandangan yang membuatnya cemburu, berpegang tangan seperti itu. Dia langsung menghampiri mereka.
Aji meraih tangan Afra tiba-tiba membuatnya terheran. "Kita harus bicara." Tanpa seizin Afra, Aji langsung menariknya dari sana ke suatu tempat.
Tyo dan Hanna pun tidak ikut campur atas urusan Aji bersama Afra. Memberi waktu untuk mereka berdua, biar mereka bisa menyelesaikannya.
......................
"Aji...." protesnya.
Aji melepaskan cengkeramannya, menatap lekat pada Afra. "Lo...." Nafas Aji tidak bisa terkontrol. "Lo udah pacaran sama Gilang?" Berharap apa yang akan dikatakan oleh Afra itu adalah jawaban yang diinginkan Aji.
"Bohong!"
"Yaudah kalau nggak percaya..." imbuhnya lalu melangkahkan kakinya ke depan.
Aji pun mengikutinya. "Taa... tapi lo... sama dia,, deket banget. Lo juga berduaan terus, apalagi kalian sekamar," hembusnya tampak kesal.
Langkah kaki Afra terhenti, ia membalik badannya sehingga mereka sekarang saling berhadapan.
"Lo pasti udah nyaman kan sama dia? Gue liat dia perhatian sama lo, Fa. Dan,, dan gue juga denger kalau dia udah berkali-kali nembak lo. Gue tahu dia lebih ganteng...."
Seketika kalimat terakhir yang diucapkan Aji membuat Afra menahan senyumnya. Aji meraih tangannya dengan lebih lembut dan tulus.
__ADS_1
"Tapi dibanding dia, cinta gue lebih besar buat lo, Fa. Saat lo mutusin buat nggak nerima perasaan gue waktu itu, gue masih punya harapan kalau suatu saat nanti lo bakalan terima cinta gue. Tapi sekarang... gue jadi ragu."
"Kenapa lo ragu?"
"Ragu kalau apa yang gue harap selama ini. Lo emang nggak punya perasaan buat gue."
"Apa lo nggak mau berharap lagi?"
"Maksud lo?" Aji terheran-heran.
"Berharap apa yang lo harapkan," jawabnya. "Mungkin selama itu kita sama-sama diragukan dengan perasaan kita. Apa... di antara kita masih menyimpan perasaan satu sama lain..."
"Tunggu-tunggu... Jadi,, selama ini Fa lo punya perasaan juga sama gue?"
Afra tidak bisa lagi berbohong dengan hatinya. Dia mengangguk dan itu membuat hati Aji berdebar-debar dan bahagia. "Tapi sekarang gue nggak yakin."
"Fra...."
"Maaf, Ji. Gue nggak tahu... mungkin karena kita udah lama nggak ketemu, atau semua yang kita lalui udah berubah, berbeda saat kita masih SMA, Ji."
Kenapa jarak harus memisahkan membuat semuanya semakin ragu untuk sebuah perasaan terhadap masing-masing. Tapi kalau saja di antara mereka saling menunggu dan menaruh harapan lagi terhadap perasaan saling menyukai. Apa mereka bisa bersama di suatu hari.
"Afra..." panggil Aji dan Afra menatapnya. "Tadi lo bilang apa gue mau berharap lagi? Dan gue akan jawab kalau gue masih berharap sama lo. Gue akan nunggu lo lagi sampai lo yakin kalau gue masih cinta dan sayang sama lo, Afra Amna."
Apa rasa yang dia berikan benar-benar cinta yang sungguh-sungguh? Jika benar kenapa harus menunggu lagi untuk menyakinkan perasaan. Menunggu satu sama lain dan terus berharap akan cinta yang terbalaskan. Tapi apa yang mereka lakukan...
Ada saatnya orang menunggu akan lelah. Terus meyakinkan sampai rasa itu perlahan menghilang bukan menjadi sebuah harapan cinta yang diinginkan.
__ADS_1
...🦄🌹...