Me And Yu : Maevino

Me And Yu : Maevino
Eps. 34 'Me2Yu' : Menganggu Pikiran


__ADS_3

Dua anak muda yang terikat seperti saudara kandung sedang berjalan-jalan di sekitar pohon musim semi. Tidak hanya menikmati pemandangan indah ini, tapi juga menikmati suasana perbincangan mereka, yang pastinya sebuah lelucon bahwa pria konyol ini telah membuang kedewasaannya.


"Ah iyah, Han.."


"Um kenapa?" Senyuman itu masih terukir setelah tawa mereka berakhir.


"Om Wisnu sehat?"


"Sehat."


"Tante Lia?"


"Sehat juga."


"Kak Bella?"


"Lo sehat?" Hanna malah bertanya balik, dia merasakan keanehan di balik sikap Aji sekarang.



"HAHAHAHAHAHAHA."


"Malah ketawa," cemooh Hanna.


"Hahahah aduh perut gue." Aji mengatur nafasnya perlahan tawa itu mereda. "Ditanya malah balik tanya."


"Yah gara-gara sikap lo sendiri. Aneh. Tiba-tiba nanyain kabar keluarga gue," gerutu Hanna. "Eh dari dulu juga lo emang aneh. Larat, dah gila."


"Aish!" decaknya. "Emang salah nanyain kabar? Huh?" Langkah kaki Aji dan Hanna berhenti dan saling berhadapan.


"Mmm... nggak juga," balas Hanna tersenyum memperlihatkan gigi putihnya itu. "Hehehe."


Dueng!


Jari Aji menyentuh jidat Hanna dan mendorongnya. "Malah iklan odol."


"Yaa Aji!"


"Awww," ringkis Aji mendapatkan balasan pukulan kecil darinya.


Langkah mereka kembali berjalan. Namun di sisi lain Aji masih memikirkan bagaimana ia harus memberitahu tentang ibu kandungnya yang sebenarnya ia sudah bertemu dengan beliau.


Kalau gue bahas ibunya tiba-tiba. Hanna bakalan curiga nggak yaa? Dan kalau gue ngomongin Fauzan, Fauzi... Hanna bakalan shock nggak ya? Gue takut penyakitnya kambuh lagi. Tapi....


Hanna yang sedari tadi memperhatikan gelagat Aji yang semakin aneh menurutnya. Dia melamun membuat Hanna cemas.


"Aji."


"Ah i-iyah, Han? Ada apa?" Aji langsung tersadar. "Lo udah laper lagi? Atau mau pulang?"


Hanna menghela nafas. "Kalau ada yang ngeganggu pikiran lo, lo cerita aja. Atau,, ada sesuatu yang mau lo bicarain ke gue?"


"Mm soal itu..."


"Ya?"


"Sebenarnya gue seneng kalau lo bisa kumpul bareng lagi sama keluarga, om Wisnu, tante, kak Bella, dan sekarang ada bang Fatur sama adek gemes."

__ADS_1


Hanna masih terdiam mendengarkannya.


"Dan lo udah bahagia sama keluarga lo itu. Tapi,, apa lo nggak penasaran sama ibu kandung lo sendiri.... tante Diana?"


Nama yang terdengar familiar membuat Hanna terdiam membeku. Dadanya tiba-tiba merasa sesak begitu sakit dan juga sedih. Apa dia kecewa, marah? Tetapi emosi kesedihan untuk rindu yang memenuhi hatinya sekarang.


Melihat reaksi yang diberikan Aji segera untuk mengalihkan pembicaraan itu. "Ah, Na. Liat di sana." Pandangan Hanna mengikuti arah yang ditunjuk. "Kesana yuk? Pemandangannya lebih bagus, ayok." Ditariknya tangan Hanna olehnya, tapi pikiran Hanna masih terganggu dengan pembicaraan tadi.


...***...



"Gimana? Enak?"


"Hu'um." Tiba-tiba saja dia mengelap bibir gadis di depannya itu dengan ibu jarinya membuat gadis itu mematung.


"Als een kind."


(Kayak anak kecil)


Katlyn tersenyum dengan malu. Tapi dia berusaha untuk menghilangkan malunya itu. "Sok romantis."


Tyo malah kesal. "Di romantisin salah, dibaikin salah, diejekin salah, di---"


"Terus-terus bang terus.... waaa udah sampe ke Indonesia aja nih," sosor Katlyn.


Tyo tidak menjawab hanya mengekspresikan dengan raut wajahnya yang jengkel, Katlyn tertawa kecil.


"Ohiyah Tyo..."


"Kenapa?" jawab Tyo jutek tanpa melihat lawan bicaranya.


Nampak Tyo terdiam setelah mendengar hal itu, raut wajahnya pun berubah. "Gue nggak pulang."


"Nggak pulang?"


Tyo mengangguk.


"Kenapa?"


"Karena ya tempat gue di sini," tawar Tyo.


"Kamu lagi ada masalah ya?" Melihat perubahan itu, Katlyn mendapatkan jawabannya. "Kalau kamu mau, kamu bisa cerita sama aku."


Tyo langsung memandangi Katlyn. Mereka pun memutuskan untuk meninggalkan tempat makan dan menuju tempat lain yang lebih nyaman untuk bercerita.


......


"Katlyn, gue... gue nggak bisa balik lagi ke Indonesia."


"Iyah kenapa, Yo? Kenapa kamu nggak bisa kembali ke Indonesia?"


"Mungkin lo udah denger soal gue dari Fauzi kalau sebenarnya gue di Indonesia itu karena kabur dari rumah."


"Aku belum pernah denger, kok," jawab Katlyn menatapi polos. "Buat apa Fauzi ceritain kamu dan buat apa aku cari tahu tentang kamu."


Awalnya Tyo ingin cerita dan suasana sudah mendukung malah menjadi jengkel dengan kata-kata Katlyn itu.

__ADS_1


Nampak kekesalan, Katlyn malah tertawa. "Ahaha maaf maaf." Sambil mengelus rambut Tyo yang nampak cemberut. "Maaf ya."


"Kalau lo gitu lagi gue nggak jadi cerita nih."


"Iyaaaah."


"I can't go home because there's an appointment I can't break."


(Gue nggak bisa pulang karena ada pernjanjian yang nggak bisa gue langgar)


"Wat is dat?"


"Itu..."


"Atau jangan-jangan." Tyo menoleh pada Katlyn menunggu apa yang dikatakannya. "Atau jangan-jangan permasalahan kamu itu kayak di film-film atau novel? Karena kamu dari keluarga kaya, ayah kamu itu keras, ngengkang kamu atau nyuruh kamu lanjutin bisnisnya? Atau karena perjodohan? Oh atau jangan-jangan kamu nya yang bandel yah?"


Tyo menghela nafas ada sedikit kesal juga karena Katlyn begitu cerewet hari ini. "Dari semua itu yaa, lo benar. Tapi perjodohan, no. Ah mungkin soal itu, gue rasa akan terjadi juga. Kalau gue udah cukup umur."


"Cukup umur." Katlyn mendengus. "Umur kamu udah legal, aku tahu kamu suka dateng ke bar terus mabuk-mabukkan, kan?"


"Lo liat gue segitu buruknya? Gue nggak kayak gitu, Kat. Yaa kalau gue nggak sadar, keblablasan sih... yaa gitu."


"Hem sama aja," sindir Katlyn. "Jadi, kamu minta apa sama ayah kamu sampai buat perjanjian gitu?"


"Soal itu gue nggak bisa bilang."


"Atau jangan-jangan..."


"Atau jangan-jangan apa lagi?" tanya Tyo begitu sukanya Katlyn mengatakan kalimat itu.


"Karena kamu bantuin tante Diana?" enteng Katlyn.


Tyo tersedak begitu mendengarnya. "Kenapa lo bisa tahu?"


Bola mata Katlyn membulat kejut. "Beneran? Gara-gara itu?"


"Lah kenapa lo yang kaget?"


"Aku cuman asal ngomong. Jadi itu bener?"


Dengan terpaksa Tyo pun mengangguk membenarkan.


"Oh My God!"


"Katlyn lo rahasiain ini dari Fauzi yah."


Katlyn menatap heran. "Kenapa? Fauzi juga harus tahu, kamu udah ngorbanin buat mereka."


"Itu nggak penting lagi. Sekarang udah terjadi, gue juga nggak keberatan buat bantuin mereka, malah gue seneng bisa nyatuin keluarga Hanna. Dia berhak bahagia juga, Kat. Gue ngerasain apa yang Hanna alami soal masalah keluarga. Orang tua yang begitu egois terhadap anak-anaknya? I don't know, but it really hurts."


Katlyn tak bisa berkata-kata untuk saat ini. Apa seperti itu masalah yang menimpa anak yang terlahir dari keluarga kaya? Ah tidak. Itu karena sifat manusia.


...🦄🥀...


------------------------------


Note :

__ADS_1


Terus pantengin yaaa cerita dari Aniedaa. See you boo ...


__ADS_2