
Setelah beberapa hari di rumah sakit dan mendapat perawatan, hari ini Fauzan akhirnya bisa dipulangkan. Meski harus pulang dengan mata kanan yang tidak bisa melihat. Mata itu ditutup dengan alat penutup mata sebelah.
Fauzan terhenti.
"Kenapa, Uza?"
"Mah, Uza... nggak bisa pulang naik mobil."
Fauzan masih trauma dengan kecelakaan pertamanya. Dia tampak ketakutan, jika melihatnya, dia selalu membayangkannya.
"Mamah juga nggak bisa biarin kamu naik motor."
Fauzan lebih trauma naik mobil dari pada naik motor. Karena kecelakaan pertamanya, dia tidak akan pernah bisa dilupakan. Kesedihan bagi semua orang, bukan hanya dia.
"Aunt, Fauzan biar sama saya aja. Saya bawa motor ke sini," saran Tyo.
Tyo memang kembali ke Indonesia untuk sementara, ia terbang ke Indonesia bersama Katlyn setelah mendapat kabar bahwa Fauzi telah meninggal dunia.
"Tapi.."
"Mah..." Fauzan berharap agar ibunya mengizinkan ia untuk pulang bersama Tyo.
Akhirnya ibunya setuju. Keluarga Maevino dan Katlyn masuk ke dalam mobil, sementara Fauzan dan Tyo bergegas ke tempat parkir.
Tyo memberikan helm berwarna kuning kepada Fauzan. Fauzan tampaknya tidak senang. "Gue punyanya cuman itu," pungkasnya. Meski helm kuning, tapi helm itu memiliki kenangan yang berharga bagi Tyo.
Sepeda motor mereka melesat meninggalkan rumah sakit.
Tak jauh dari tempat parkir tadi, di dalam mobil yang diparkir. Ada seseorang yang telah mengawasi Fauzan sejak dia keluar dari rumah sakit. Mereka keluar dari persembunyian, membenarkan posisi duduk mereka.
Aji menatapnya pada Hanna, dengan perasaan sedih. Meski Hanna telah memutuskan untuk tidak bertemu dengan Fauzan, dia berusaha mencari tahu kondisinya. Seperti sekarang, dia bersembunyi untuk bisa melihatnya. Dan dia selalu menerima pesan dari Katlyn, meski tidak memintanya, Katlyn selalu memberikan informasi tentang kondisi Fauzan. Hanna sudah tahu siapa Katlyn. Hanna berhutang budi padanya, dia telah membantu Fauzi, Fauzan dan dirinya.
Mendapat kabar bahwa Fauzan buta sebagian, tentu membuat Hanna sedih. Fauzan lebih menderita, tetapi sebaliknya dia mencoba mengembalikan kebahagiaan orang lain dibanding dirinya.
"Aji, kita pulang."
Setelah mendapat perintah dengan segera Aji menjalankan mobilnya.
...****************...
Motor hitam milik Tyo berhenti setelah lampu merah menyala. Ada sedikit ketakutan bagi Fauzan untuk melihat jalan raya. Karena dua kali dia mengalami kecelakaan, dan mengingat bahwa saudara kembarnya meninggal karena kecelakaan juga, dengan gadis yang mereka cintai, Hanna. Fauzan sangat ingin bertemu dengannya, tetapi dia telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan pernah melihatnya lagi setelah kembalinya kebahagiaan kepada Hanna bersama keluarganya.
Ketika dia secara tidak sengaja berbalik ke sisinya. Ia berpapasan dengan pengendara sepeda motor lainnya, mereka saling memandang. Pengendara itu memberikan ekspresi terkejut padanya. Saat lampu hijau menyala, pengemudi cepat pergi, Fauzan masih terheran-heran. Dia juga tampak akrab dengan pengendara sepeda motor tersebut. Tapi ia tidak mengingatnya.
Keluarga Maevino dan Fauzan telah tiba di rumahnya. Selang beberapa tahun, Fauzan baru saja menginjakkan kaki lagi di rumah pertamanya, di Jakarta. Ibukota tempat mereka tinggal sebelum mereka diharuskan pindah ke Bogor. Padahal sebenarnya Si Kembar Maevino lahir di kota Hujan.
"Yo, thanks."
"Oke, santai aja."
"Aunt, uncle, saya pamit pulang."
__ADS_1
"Iyah makasih ya nak Tyo."
"Sama-sama." Tyo lalu melihat ke arah Katlyn berada. "Tlyn." Berpamitan padanya, mereka tersenyum.
Setelah itu, sepeda motor Tyo kembali melaju.
Mereka memasuki rumah dengan perasaan bahagia, karena Fauzan telah kembali. Fauzan bertanya pada ibunya, dia ingin menggendong adik kecilnya. Fauzan sangat bahagia, dia kehilangan banyak waktu dengan orang yang dia cintai. Dia bangun, dan telah menerima banyak kabar baik dan lebih banyak kabar buruk. Adik perempuannya lahir dan sudah besar.
"Kak Pauji... ayo maen kuda-kudaan."
Tertegun.
Fauzan berusaha tegar, ia tersenyum.
"Ade, ini Kak Fauzan, bukan Kak Fauzi." Ibunya berusaha memberitahu putri kecilnya.
"Kak Paujan? Pangeran tidur itu ya?" Fanya namanya. Adik kecil ini teringat saat kakaknya Fauzi memberitahunya bahwa sosok yang sedang tertidur lelap di rumah sakit itu adalah kakaknya juga yang dia panggil pangeran tidur.
Fauzan terkekeh mendengar adiknya itu.
"Telus kaka Pauji dimana?"
Semua orang terdiam.
"Bi.." panggilnya. "Bibi tolong bawa Fanya dulu ya."
"Baik nyonya."
"Ade sama bibi dulu yah... kita main di taman," lanjutnya. Ternyata Fanya menurut, ia mau bersama bibi. Bibi membawanya bermain keluar.
"Iyah, Mah. Uza ke kamar dulu."
"Biar aku anterin..." selosor Katlyn langsung menggandeng Fauzan.
"Gue bisa sendiri," tawarnya.
Katlyn mendengus, saudaranya yang satu ini menyebalkan, berbeda dengan Fauzi. Tapi ia memaksa, ia mengantarkan Fauzan ke kamarnya.
...****************...
Pengendara asing itu berhenti di tempat dia nongkrong dengan ekspresinya yang begitu kaget setelah melihat orang yang seharusnya sudah meninggal.
"Dia masih hidup?"
Kaget tidak percaya. Dia berjalan ke arah teman-teman yang telah berkumpul.
"Hallo bang... apa kabar?"
"Oy Ki, dateng-dateng muka dah gitu aja," sindir temannya. "Jelek amat."
"Kenapa bro cerita sama kita-kita."
__ADS_1
"Barusan gue liat Fauzan," terangnya yang masih kebingungan.
"Fauzan? Maksud lo... Si kembar itu? Bukannya kemarin lo udah buat celaka dia lagi ya. Lo bilang dia dah mati."
"Haha si Abang bohong nih. Masak Si Fauzan bangkit dari kubur. Serem amat."
"Gue masih nggak percaya sih kalau Si Fauzan masih hidup. Dulu, kita udah buat dia celaka, yah nggak?" paparnya. "Tapi, lo bilang lo liat Si Fauzan sama ceweknya itu di sini, dan lo juga buat mereka celaka kan, Si Fauzan meninggal."
"Hah! Atau jangan-jangan yang Abang liat itu kembarannya?"
Semua orang mulai memikirkannya.
"Yang dibonceng itu ceweknya si Fauzan, jelas mukanya gue masih inget," cemoohnya.
"Kan bisa aja dia maen sama abang pacarnya, atau enggak karena si Fauzan dah mati jadi berpaling sama saudara kembarnya... Hahahahah....!"
"HAHAHAHA..."
"Lo lo pada mau gue tampol hah?!"
"Hehehe..." Mereka berseri tawa itu meredup karena takut.
"Lo udah cek kuburannya belum?"
"Belum. Gue nggak tahu dia dikuburin di sini atau di Bogor," decitnya.
"Alah cari informasi mah gampang, bang."
"Yaudah gue minta lo cariin buat gue..."
"Beres!"
Saat itu ia memutuskan pindah dari Bogor karena masalah itu. Dia mencari perlindungan dan berakhir di ibu kota. Ketika dia tidak sengaja melihat sesosok yang dia benci yang menurutnya telah mati karena tindakannya juga. Tapi kenyataannya dia masih hidup. Dia masih memendam kebencian padanya, hidupnya hancur.
Dia memutuskan untuk mengikutinya. Begitu bahagianya dia bersama pacarnya itu. Tidak terima. Dirinya menderita tapi dia bahagia? Cih!
Brum! Brum! Brum.....!
Semuanya mati! Dan dia juga harus mati! Tidak ada yang bisa hidup bahagia setelah kejadian itu, pikirnya.
Mencoba menyerempet motornya. Namun ternyata rencananya tidak disangka-sangka, motor tersebut ditabrak mini bus dengan sangat parah. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, bahwa Fauzan dan pacarnya terluka parah, darah di mana-mana. Fauzan meninggal di tempat.
Wajah bercodet itu memandang kecemasan. Jika benar Fauzan masih hidup, sekarang dia dalam masalah.
...****************...
...Hosh! ...
...Hah.....
Fauzan yang terbangun dari tidurnya begitu panik setelah mendapatkan ingatannya di malam dia kecelakaan.
__ADS_1
"Itu... bukan kecelakaan."
...🥀...