Me And Yu : Maevino

Me And Yu : Maevino
Eps. 30 'Me2Yu' : [Sudut Pandang]


__ADS_3


Fauzi Maevino -



2020 adalah malam dimana setelah terjadi keributan yang terjadi pada hari terakhir acara sekolah yaitu porm night.


Saat Hanna kabur karena tidak bisa menerima semua kebenaran. Aku memutuskan untuk mengejarnya. Dia mengarah menyelusuri jembatan. Berhenti ditengah-tengah itu. Menatap kesedihan, kekecewaan kembali dalam hidupnya.



Aku hanya bisa berdiri diam di sini tidak bisa mendekat. Hanya menatap dari jauh. Membuat diri ku menyedihkan dengan semua jawaban ini.


Seolah-olah aku menjadi orang yang tidak berguna di saat seperti ini. Tidak bisa membantu kembaranku dan tidak bisa menjadi pelindung gadis yang kucintai. Dia. Dia adalah Hanna.


Saat kebahagiaan ku tiba di depan mata ku. Senyuman gadis itu membuatku terhipnotis hanya dengan senyumannya. Bagaimana bisa hanya dengan senyuman yang bisa membuatku sangat bahagia seolah aku berada di taman surga.


Ketika semua siswa di sekolah mendekati ku untuk mengenal diri ku sendiri. Tapi


kamu hanya duduk diam dengan manis bersama salah satu sahabatmu.


Namun apa yang kurasakan itu tidak mampu untuk mendekatinya. Aku hanya diam dan hanya bisa memandanginya dari jauh. Tetapi ketika ada kesempatan, aku melakukan sesuatu agar aku dapat berbicara dengannya meskipun itu hanya sepatah kata. Tetapi melihat respon seolah-olah aku hanyalah angin yang lewat. Meski begitu aku bisa melihat senyumnya dari dekat dan mendengar suaranya.


Satu tahun berlalu kita telah menjadi senior. Kelas 12 adalah akhir dari sekolah menengah dan akan berakhir dengan perpisahan. Ketika sekolah mengadakan acara untuk peserta didik baru. Aku menjadi salah satu panitia di acara itu. Dan mendengar bahwa nama yang aku kenal dengan baik, aku benar-benar tidak dapat mempercayainya. Apa benar rekanku adalah gadis yang selama ini aku lihat diam-diam. Cinta dalam keheningan. Tapi, kenapa dia tidak ada di sini? Dan pertemuan kedua membahas acara tersebut. Aku menunggunya. Menunggu dia bahwa aku tidak salah bahwa rekanku adalah dia. Dan benar. Dia datang dengan keterlambatannya.


Senyum terukir dariku. Saat dia mendekat. Kami saling memandang dan tersenyum.


Mencoba memberanikan diri.


"Hanna, kan? Gue Fauzi."


Itulah kalimat pertamaku yang keluar.


Acara itu menjadi kesempatanku untuk dekat dengannya. Apa Tuhan memberiku izin untuk dekat dengannya? Iya. Aku berpikir seperti itu.

__ADS_1


Hari demi hari tidak sulit untuk dekat dengannya. Aku sedikit menyesali kenapa tidak dari dulu dan menyia-nyiakan waktu yang telah berlalu. Dan kesempatan datang lagi padaku. Ketika sahabat laki-laki terdekatnya, pernah aku mengira dia adalah pacarnya. Dia mengajakku untuk ikut bergabung dalam band yang dia buat karena kekurangan personel. Dan aku pun bergabung.


Waktu terus berjalan membuatku lebih dekat dengannya dan teman-temannya. Sesuatu yang aku inginkan bisa menjadi kenyataan. Sekarang aku bisa bercanda dengannya, melihat dia tersenyum di dekat ku, dan mendengar suaranya.


Tapi.


Ketika aku menemukan kebenaran dari saudara kembar ku. Bahwa gadis yang kucintai adalah salah satu korban yang terjadi akibat dari kejadian kecelakaan yang berhubungan dengan saudara kembar ku. Aku tidak percaya. Apa aku tidak percaya sungguhan atau aku tidak percaya tidak mau mengakuinya. Seolah-olah tembok pemisah itu langsung ada di antara aku dan dia.


Aku berusaha agar saudara kembar ku untuk menjauh darinya. Bukan untuk kepentingan pribadiku tapi untuk kepentingan Fauzan dan juga Hanna.


Trauma yang dialami oleh mereka tidak boleh terjadi lagi. Dan aku tidak ingin melihat saudara kembarku merasa bersalah lagi meskipun itu tidak semua salahnya dan membuat cedera di otaknya yang ia derita akibat kecelakaan itu bertambah parah.


Tapi kenapa?


Fauzan malah terus mendekati Hanna. Bahkan semakin dekat. Bukannya menjauh. Malah aku yang semakin menjauh darinya.


Aku menanyakan hal itu dan bertanya apa yang ia rencanakan.


Mengetahui tujuan yang diinginkannya untuk Hanna. Aku mencoba untuk memahami semuanya dan mendukungnya. Bisa saja aku tidak mendukungnya. Tapi tidak. Semua yang dia rencanakan baik untuk Hanna. Kebahagiaan yang ingin dia kembalikan untuknya. Untuk apa aku melarangnya? Justru aku mendukung hal itu.


Menerpa ku untuk siapa aku di saat seperti ini? Dan memutuskan untuk pergi mengikuti Hanna yang melarikan diri dari kejadian ini dengan air mata. Tanpa ingin mendekat seperti yang aku lakukan kembali ke awal. Menjaganya dari jauh sampai di mana dia kembali lagi kepada teman-temannya.


Tapi aku tidak melihat saudara kembar ku di sekolah malam itu. Apakah dia sudah pergi? Tentu saja. Jika aku menjadi saudara kembar ku, aku pun akan pergi menenangkan diri. Tak lama kemudian aku mendapatkan telepon dari seseorang yang aku tidak kenal.


"Hallo ..."


Detak jantung berhenti seketika. Aku langsung berlari dan masuk ke dalam mobil setelah mendapat kabar bahwa saudara kembar ku mengalami kecelakaan.


Dan terjadi lagi.


Fauzan dalam kecelakaan. Tapi sekarang dia berada di antara hidup dan mati. Seperti mayat hidup yang berbaring tak sadarkan diri.


Tanpa disadari, hidup ku saat itu hanya terpaku pada saudara kembar ku, Fauzan dan ibu ku yang melahirkan di hari yang sama dengan kecelakaan Fauzan.


Tidak jadi mengambil kesempatan beasiswa yang diberikan kepadaku dan memutuskan untuk menjaga saudara kembar ku dan ibu dan adik baruku yang cantik. Aku tidak menyesalinya.

__ADS_1


Satu tahun berlalu.


Seolah aku menjalani hidup dengan kematian. Aku merasakan apa yang Fauzan rasakan yang terbaring tidak sadar selama itu.


Kenangan SMA kembali memenuhi pikiranku. Mereka tidak tahu bahwa Fauzan telah mengalami kecelakaan dan koma. Karena saat itu semua sudah berubah.


Aku mencoba untuk melihat Hanna namun tidak untuk menemuinya. Menghampiri rumahnya tapi sepi. Aku pun mendapatkan informasi bahwa Hanna sudah pindah ke rumah ayahnya. Mendengar itu aku sangat senang bahwa kehidupan Hanna telah kembali bersama keluarganya mendapatkan kebahagiaan yang telah hilang. Dan itu berkat Fauzan. Fauzan yang telah menyatukan kembali kebahagiaan Hanna.


Mencoba mengingat kembali untuk mengerti liku-liku masalah yang terjadi.


Karena masalah itu lo jadi kaya gini, Fauzan. Jika semua harapan lo terwujud dan mengembalikan kebahagiaan Hanna. Apakah lo akan bangun?


Jawabannya adalah Hanna.


Jika itu terjadi, gue akan berusaha mewujudkannya. Gue akan melanjutkan misi impian lo itu. Gue akan pergi ke Belanda.


Benar. Hanna adalah jawabannya. Aku pun memutuskan akan melanjutkan perjuangan Fauzan untuk mengembalikan kebahagiaan Hanna yang belum tuntas. Dan hari itu tiba aku pun pergi ke Negeri Holland.


Apa yang terjadi di sana adalah bukan bagian rencanaku. Menjadi sosok kembaran ku menjalani kehidupan seperti kembaran ku. Bukan diriku.


Kesempatan datang ketika Hanna akan datang ke mari. Ke negeri Holland.


Di bandara, inilah kesempatanku memberi tahukan bahwa sosok ibu Hanna ada di negara ini. Mungkin tidak langsung ke Hanna. Namun melalui orang terdekatnya, Aji. Tapi hanya dengan melihatku dia sudah emosional dan membenciku. Tidak. Lebih tepatnya, kebencian terhadap sosok saudara kembarku, Fauzan.


Tapi tanpa sengaja Tyo memanggilku Fauzi. Dan di situlah semuanya terungkap. Aji menjelaskan semua isi hatinya yang membara dan akhirnya aku mengatakan yang sebenarnya. Tentang semua kebenaran ini. Bahwa aku bukan Fauzan yang ia kira tapi aku adalah Fauzi.


Pembicaraan kami ditunda karena pesawat yang dinaiki Hanna sudah mendarat.


Aku bersembunyi.


Ingin melihatnya.


Dan akhirnya selama beberapa tahun aku dapat melihat mu lagi. Di depan mataku. Kamu datang dengan senyuman itu yang tidak pernah berubah dari sudut bibirmu. Kamu berlari-lari seperti anak kecil meski pakaianmu tidak sesuai dengan dirimu yang sudah dewasa. Atau mungkin ini adalah akhir dari keremajaan kita di umur 20 tahun.


Aku senang jika kamu baik-baik saja selama ini. Meski aku tidak bisa berada di sisimu sebagai Fauzi. Kamu harus tahu bahwa aku masih tetap mencintaimu Hanna Mafaza. Biar keheningan ini yang menyempurnakan cintaku padamu.

__ADS_1


......🥀......


__ADS_2