
4 Tahun Kemudian
Gadis yang dulu hanya menjalani hidupnya dengan menyakitkan menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang terjadi, sekarang beban itu sudah telah lama hilang. Hidupnya sangat rumit tetapi dia sangat bertekad untuk menerima semua itu, seorang gadis lugu yang kini telah tumbuh menjadi wanita karier tetapi
keceriaannya masih melekat. Semua orang menyukainya.
Dia duduk bersama dengan sahabatnya tengah menikmati makan siang di kantin kantor. Mereka dipertemukan kembali di salah satu stasiun televisi ini. Itu membuat mereka sangat bahagia, dari kuliah hingga sekarang bekerja di tempat yang sama, dan mereka mencapai impian mereka bersama-sama.
Tetapi ada sedikit perbedaan.
"Aaaa..." Dia begitu menggemaskan melihat pada layar ponsel. "Selamat datang malaikat kecil Mimi..."
"Hallo aunty Hanna..." Orang dibalik layar HP Hanna adalah wanita yang sedang menggendong bayi. Dia baru saja melahirkan.
"Mia sorry yah... kita nggak bisa nemenin lo lahiran disana..."
"Iyah, Mi. Sorry ya. Tapi lo nggak usah khawatir. Kita bakalan jenguk lo kesana yah kan Han?" sahutnya. Hanna mengangguk iya.
"Yahlah harus. Kalau enggak gue gibeg lo lo pada," kilat Mia.
Hanna dan Zeki tertawa.
"Ohyah. Gue mau ngasih tahu kalian, kalau gue mau resign dari tempat kerja."
"Hah?" Pengakuan itu membuat Hanna dan Zeki terkejut. "Kenapa?"
"Gue mau fokus sama suami sama anak," terangnya. Dia menatap suaminya yang sedang memegang ponsel membantunya untuk melakukan video call dengan sahabatnya. Ternyata perjuangan Mia dengan pacar LDR-nya itu berhasil sampai ke jenjang pernikahan. Sekarang mereka telah dikaruniai anak.
Apa kalian menyangka bahwa Mia akan berakhir dengan Zeki? Jika iya, Hanna berpikiran sama dengan kalian.
Meski kehilangan, tidak bisa bekerja sama lagi di sini. Tapi mereka akan mendukung keputusannya, terlebih lagi keputusan ini tidak salah. Dia bisa fokus mengurus rumah tangganya.
Tapi tidak lama kemudian salah satu pekerja disini datang menghampiri meja kami. "Permisi bu Hanna."
"Ah iyah?" Hanna baru saja mengingatnya. "Oh mereka sudah tiba?"
"Iyah bu. Mereka sedang menunggu di ruang rapat," jawabnya. Lalu Hanna bangkit dari duduknya. "Maaf, Bu. Ibu tidak usah terburu-buru, masih ada waktu 15 menit lagi."
"Tak apa. Saya tidak ingin melihat pak produser datang lebih awal lagi daripada saya. Nanti saya dikira lelet," terang Hanna berseri. Dia pun kembali pada layar ponsel yang sebenarnya milik Zeki untuk melakukan video call ini. "Mia, maaf yah gue cabut dulu."
"Iyah nggak papa. Gue tahu lo lagi sibuk-sibuknya ngurusin proyek film itu."
Hanna tersenyum, melambai tangannya diikuti oleh Zeki. Mereka mengakhiri panggilan video.
"Zek, ayok."
"Oke bu sutradara," ledeknya membuat Hanna jengkel pada sahabatnya.
Mereka berdua meninggalkan kafetaria dan menuju ke salah satu ruangan untuk bertemu dengan rekan kerja membahas proyek film, beberapa adegan telah direkam dan sekarang ini adalah akhir dari cerita. Mereka akan membahasnya lebih lanjut.
Membuka pintu untuk masuk, mereka dengan mengerikan melihat sosok di dalam. Lagi-lagi mereka harus didahului oleh produsernya yang terlalu rajin. Menyembunyikan kekejutan mereka dengan senyuman. Produsernya datang lebih awal kami yang dibawahnya walaupun belum terlambat tapi kalau begini mereka merasa datang terlambat. Seperti kami.
"Wah bapak rajin sekali yah datangnya," sindir Hanna setelah duduk. "Apa bapak tidak makan siang?"
Mereka hanya melongo melihat keberanian Hanna kepada bapak produser ini. Meski semua tahu bahwa hubungan mereka sangat dekat. Tapi dengan adanya Hanna, itu mewakili semua orang tentang keluhan waktu.
"Saya tidak makan siang."
"Ohh... tapi para kru bapak harus makan siang agar bisa berkerja dengan baik," balas Hanna enteng.
"Ini kan masih ada 10 menit untuk istirahat, kalian bisa lanjutkan makan siang kalian itu."
__ADS_1
Hanna menatapnya malas. Dan produser itu malah tersenyum membuat matanya itu semakin menyipit.
"Maaf membuat kalian harus mengurangi waktu istirahat karena kerajinan saya," kekehnya. "Setelah ini saya akan mentraktir kalian."
Tiba-tiba semua mata tertuju pada produser mereka dengan mata berbinar, bibir itu terukir dengan senyuman.
"Woh! Pak produser kita yang paling the best!" sorak Zeki.
"Iyah, Pak. Saya senang bekerja dengan bapak di tim ini," sambung yang lain.
"Dengan kata traktir, kalian langsung memuji saya. Apa kamu tidak mau mengatakan sesuatu pada saya Hanna?"
Hanna menengok menatapnya lalu ia tersenyum manis. "Bapak sudah bekerja dengan sempurna."
Arnold terlihat senang setelah mendengar pujian dari gadis yang selama ini dia cintai. Yah. Dia baru saja menyadarinya bahwa dia mencintainya selama ini.
Jam kerja telah berakhir. Tapi banyak orang disini yang harus bertahan karena pekerjaannya, bekerja di stasiun televisi harus siap kerja malam hari atau bahkan harus tetap di kantor sepanjang hari seperti tempat tinggal mereka.
Sebuah mobil berhenti di depannya, Hanna tersenyum memasuki mobil tersebut. "Kak Arnold mau minta tolong apa sama Hanna?"
Sisi Hanna telah kembali. Terkadang di mata Arnold, Hanna itu tidaklah berubah menjadi sosok gadis yang dewasa, itu lucu untuknya.
"Sebenarnya aku juga nggak tahu sih," kekehnya.
"Kak Arnold itu dari dulu sampai sekarang nggak berubah, suka nggak jelas," ledek Hanna.
Arnold tertawa kecil sambil mengemudi.
"Yaudah karna kak Arnold nggak tahu mau apa, mending anterin Hanna. Hanna mau beli koper."
"Kamu nggak punya koper buat berangkat besok?"
Arnold mengangguk-angguk. "Besok bangunin aku yah. Seperti biasa."
"Siap bapak produser kesayangan," goda Hanna.
"Kesayangan siapa?"
"Kesayangan semua orang."
"Bukan kamu?"
Hanna diam sambil tersenyum sambil menggodanya. "Mm.. enggak."
Arnold tidak membalasnya. Dia selalu tersenyum jika bersama dengannya.
...****************...
...✈️...
Penerbangan mereka ke Prancis telah tiba. Mereka semua harus syuting adegan terakhir film di negara yang penuh romantisme ini.
Cut!
Sutradara Hanna bersuara menghentikan sebuah adegan itu. Bernafas lega. Akhirnya pekerjaan di hari ketiga disini telah selesai.
Hanna masih berbicara dengan kru Prancis. Untuk proyek film ini mereka bekerjasama dengan orang Perancis yang ahli di bidang film. Arnold juga di sini berbicara, sebagai produser dia harus tahu dan menjadi tanggung jawabnya. Tidak lama, perbincangan mereka telah selesai.
"Hah... lelah sekali," keluh Hanna ditambah udara terasa dingin.
Syalnya dilepas, Arnold memakaikannya pada Hanna. "Kamu harusnya pake ini, biar nggak sakit."
__ADS_1
Hanna tersenyum. "Karna aku sutradara disini."
"Selebihnya karna aku nggak mau liat kamu sakit."
Hanna kembali tersenyum.
"Ehekm...!" Suara itu membuat mereka berdua menoleh. "Pacaran jangan disini. Masih ada kru yang lagi kerja nih."
Hanna dan Arnold tersenyum tidak terlalu menanggapi apa yang Zeki katakan pada mereka. Meski kita membuat film romantis di sini, kenyataan yang lebih romantis di dunia nyata bukanlah para pemainnya melainkan produser dan sutradaranya.
"Han?"
"Em?"
"Malam ini kan kita nggak ada jadwal. Gimana... kalau kita jalan-jalan nanti?"
"Boleh. Pukul 7?"
"Pukul 7."
Mereka berdua tersenyum.
...****************...
Tepat pukul 7 malam mereka pergi bersama sekedar berjalan-jalan di Place De La Concorde. Menikmati pemandangan Perancis yang khas. Ornamen yang cantik, air mancur, dan lampu-lampu taman yang indah.
"Cantik bunganya."
Hanna terlihat senang.
"Lebih cantik bunga yang ada di hadapanku," balas Arnold.
"Di depan kak Arnold?" Bingung Hanna. Arnold mengangguk-angguk. Hanna seketika tertawa. "Tong sampah kak Arnold bilang cantik? Phht.. Hahahah."
Arnold berdecak. "Masak tong sampah. Bunga cantik itu kamu."
Tawa itu perlahan memudar. "Oh Hanna? Haha makasih."
Arnold masih kesal, mencoba memujinya tetapi malah ditertawai.
......................
Seseorang melewati Hanna dan Arnold dengan orang yang membuat keributan dengan gadis di sampingnya.
"Lo nyebelin banget ya! Balikkin!"
"Nggak mau! Aku mau liat dulu siapa yang kamu taksir disini--aaah yaaaah... nggak seru."
Akhirnya pemuda itu bisa mengambil ponselnya berjalan tanpa menunggu gadis yang bersamanya itu.
Gadis itu menatapnya kesal. "Dasar dingin. Beda banget sama kakaknya," gerutu dia.
......................
Hanna berbalik untuk berjalan lagi setelah melihat bunga-bunga cantik tadi. Karena terdengar suara yang samar-samar orang berbicara dengan bahasa Indonesia ia sedikit memperhatikan mereka. Hanya meliriknya.
Entah sejak kapan Arnold menjadi manis di depannya. Mungkin setelah kejadian 4 tahun yang lalu. Arnold selalu ada disampingnya setiap saat.
Mereka kembali untuk melihat pemandangan lain. Hanna tampaknya kedingan dia terus menggosok kedua tangannya. Arnold meraih tangan itu, Hanna terkejut. Dipegangnya oleh Arnold memasukkan tangan mereka pada saku mantelnya untuk memberikan kehangatan pada Hanna. Hanna tersenyum menerima perlakuan itu dari Arnold. Perasaan dulu dan sekarang memang sudah berbeda. Di umur kami ini kami harus berpikir dewasa, lupakan yang lalu dan jalani hidup yang sekarang.
...🥀...
__ADS_1