
Hari Keempat berlangsung syuting di Le Marais Paris. Distrik bersejarah di Paris dimana terdapat bangunan dengan nilai sejarah penting memberikan atmosfer tempo dulu.
"CUT!"
Sudah beberapa take yang diambil namun sutradara belum puas. Hanna mulai sedikit jengah.
"Kamu," tunjuknya pada aktris. "Kamu berlatih apresiasi mu lagi sebelum pengambilan berikutnya. Coba kamu mengingat hal-hal yang membuat mu bahagia sekaligus menyakitkan pada saat bersamaan."
"Saya minta maaf."
"Kamu tidak usah minta maaf, cobalah sekali lagi saya tahu kamu pasti bisa," ucap Hanna memberikan semangat. "Semuanya kita beri dia 10 menit untuk berlatih lagi."
Hanna menghela napas dalam-dalam dan menyandarkan punggungnya ke kursi lalu memejamkan mata. Mencoba merilekskan tubuhnya.
Bahagia sekaligus menyakitkan pada saat bersamaan....
Hanna membuka matanya untuk menyadarkan dirinya. Bayang-bayang wajah itu tiba-tiba saja muncul. Padahal sudah lama Hanna melupakannya.
"Bu Hanna," panggilnya.
Hanna menengok mendapati Zeki sambil membawa dua minuman, satunya diberikan padanya.
"Makasih."
"Ibu kenapa?" tanyanya sambil mengarahkan minuman ke bibirnya. Dia bertanya karena melihat ekspresi Hanna yang terlihat bingung dan gelisah.
"Gue bukan ibu lo," timpal Hanna.
Zeki terkekeh. "Lo kenapa?"
"Agak pusing."
"Aduh... Sutradara nggak boleh sakit nih, nanti syutingnya nggak bakalan jalan," panik Zeki.
"Nggak usah lebay, Zek. Pusingnya nanti juga ilang."
"Ada apa?"
Suara milik produser kami menghampirinya.
"Pak Arnold, bu Hanna sakit pak," beber Zeki.
"Kamu sakit?" Arnold angsung panik mendekat pada Hanna.
"Nggak, Pak. Saya cuman pusing aja dikit."
"Nggak papa gimana? Aku bawain obat dulu." Belum juga memberikan jawaban Arnold langsung saja pergi dengan cemas.
Hanna menatap tajam Zeki, yang ditatap cengegesan.
"Lo buat produser panik. Kalau film nya nggak lancar dia nya panik kayak gitu gimana?"
"Heheh sorry. Tapi, gue nggak nyangka banget bang Arnold jadi perhatian banget sama lo. Padahal dulu kalian sering ribut, lo juga benci sama dia."
"Dulu sama sekarang udah beda, Zek."
"Iyah... gue tahu," jawab Zeki. "Han."
"Hem?"
"Lo nggak mau ngasih kesempatan bang Arnold buat masuk ke hidup lo?" Hanna langsung terdiam. "Lo juga udah tahu kalau bang Arnold suka sama lo, sampai sekarang dia masih nungguin lo tuu."
"Gue nggak tahu belum mikirin."
"Justru pikirin Bambang! Inget umur," sindirnya.
"Dih bawa-bawa umur. Emangnya lo enggak?" Hanna membalikkan sindiran itu. "Calon pacar juga belum ada. Jomblo!"
"Yaaa! Jangan bawa-bawa gue..."
"Lo duluan."
__ADS_1
Keributan terjadi di antara persahabatan mereka karena masalah umur. Namun terdiam setelah kedatangan produser kami ini.
"Ini Han, langsung minum. Aku juga bawain vitamin buat kamu."
"Makasih. Maaf jadi ngerepotin."
"Nggak ngerepotin."
Hanna tersenyum. Dia segera meminum obat yang dibawakan oleh Arnold.
"Bu... udah 10 menit." Kru datang memberitahukannya.
"Kita mulai lagi," balas Hanna.
"Ayo.... ayo... mulai lagi nih....." Kru itu berjalan sambil memberitahu semua orang untuk segera kembali ke posisinya. Begitu juga Zeki yang telah hilang.
"Kalau tambah pusing jangan maksain. Kamu bilang sama aku," pinta Arnold.
Hanna hanya mengangguk senyum. "Makasih."
"Aku ke sana dulu."
"Iyah, Pak."
Hanna kembali menatap layar monitor bersiap untuk memulainya. Ting. Notif pesan dari ponselnya menyala, Hanna mengecek ponsel disampingnya itu. Nomor yang tidak dikenal masuk.
| Haii
"Siapa?" Seseorang mengirimkan pesan. Dia bertanya-tanya. Padahal sekarang dia berada di Perancis. Nomor yang ia pakai otomatis diganti untuk sementara selama di sini. Yang tahu hanya rekan-rekan kerjanya sekaligus keluarga di Indonesia. Hanna membalas pesan tersebut.
^^^Siapa? |^^^
"Tunggu. Siapa tahu dia bukan orang Indonesia." Hanna pun berjaga-jaga untuk mengirimkan pesan jika bukan dari Indonesia.
^^^Sorry, who are u? |^^^
"Bu Hanna..."
Setelah mendengar jawaban dari mereka, kamera sudah merekam. Clapper board tersebut berbunyi. Dan. "ACTION!"
Arnold memperhatikan syuting sekaligus memperhatikan Hanna yang fokus menatap monitor. Dia mengkhawatirkan kesehatan Hanna. Saat akan memalingkan, Arnold tidak sengaja melihat pria yang memakai topi beanie yang sama cukup jauh dari keberadaannya.
"Beanie itu lagi..."
Saat dia berada di Place De La Concorde bersama Hanna pada hari kedua. Ketika dia sedang membeli jajanan untuk Hanna kemudian kembali dia tidak sengaja menabrak seseorang dan orang itu adalah pria yang memakai beanie. Saat itu, saat ia dan Hanna hendak pulang ke hotel, ia melihat lagi pria beanie itu tampak seperti sedang mengawasi kami, namun Hanna tidak mengetahuinya. Arnold mengira pria beanie itu orang jahat yang mengikuti kami. Kami buru-buru pulang. Kemudian keesokan harinya dia tidak sengaja melihatnya lagi di lokasi syuting. Penasaran siapa dia, karena Arnold tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Dan yang lebih mengkhawatirkannya adalah pria beanie itu selalu memperhatikan Hanna.
Lagi.
Dia kembali datang.
Tapi saat akan kembali melihat orang itu, dia sudah menghilang. "Kemana beanie itu?" Karena melamun untuk mengingat, Arnold jadi kehilangan pria beanie itu lagi.
Malam hari telah tiba....
Mereka baru saja selesai syuting dan kembali ke penginapan. Hanna juga membersihkan dirinya di kamar mandi, merasa segar kembali.
Dia sedang melakukan perawatan malam pada wajahnya bercermin di meja rias. Saat melihat ke cermin, cermin itu memantulkan pemandangan dari luar jendela. Menara Eiffel. Aktivitasnya berhenti. Dia bangkit, berjalan ke arah jendela, melipatkan kedua tangannya pada dada sambil melihat menara Eiffel.
Negara yang ingin dia kunjungi. Menara Eiffel yang ingin dia lihat bersamanya.
Hanna dengan semangat berlari kecil mendekati menara Eiffel bohongan yang ada di tepi jalan. Fauzan mengambil gambar Hanna begitu banyak dari ponselnya.
"Sekarang kita selfie," ajak Hanna. Mencoba meraih Fauzan lebih dekat agar terambil oleh kamera. "Fauzan senyum."
Tersenyum lah Bulan setengah Matahari itu.
"Lo suka banget menara Eiffel?"
Hanna angguk. "Kamu bilang kamu pengen keliling dunia. Dari seluruh dunia itu, kamu mau bawa aku ke Negara mana?"
"Perancis."
__ADS_1
"Yaaah kamu bilang itu karena udah dikasih tahu kalau aku suka menara Eiffel...."
"Engga. Gue emang pengen ngajak lo ke Perancis."
Hanna senang. "Kenapa? Kenapa? Apa karena romantis?"
"Bukan."
"Terus?"
"Mau ketemu Victor Hugo," jawabnya lalu pergi.
Hanna masih diam dengan kebingungannya. "Victor Hugo?" Ia pun mengingat kutipan Victor Hugo yang dikatakannya kepada Fauzan. Dia tersenyum.
Segera Hanna menyusulinya, menyamakan langkah dengannya. "Kalau gitu, kita bisa liat menara Eiffel sama-sama."
Fauzan tersenyum mengiyakan. "Heem."
"Benar yah berarti kamu harus janji sama aku. Promise?" Pinky Swear. Hanna meminta janji jari kelingking.
Fauzan pun mengaitkan jari kelingkingnya sebagai tanda berjanji. "Promise."
Dia telah melupakannya. Tetapi ketika dia mengetahui bahwa proyek film ini harus syuting di Prancis. Dia mengingatnya lagi.
Ting. Notif pesan masuk terdengar. Segera Hanna mengeceknya. Lagi. Nomor yang tidak dikenal membalas pesannya.
| Haii
^^^Siapa?^^^
^^^Sorry, who are u?^^^
| Malam ini Hujan
"Hujan?" Setelah menerima balasan tetapi orang itu tidak memberi tahu siapa dia tetapi mengatakan kepadanya bahwa sekarang sedang hujan. Hanna memandang ke jendela, pasti cukup banyak tetesan air hujan yang membasahi jendela, terlihat embun.
Hujan yang turun Hanna sudah tidak takut lagi. Malah merindu.
Ding... dong...
Bunyi bel pintu terdengar, Hanna segera membukanya.
Sosok di luar sana tersenyum.
"Kak Arnold? Kak Arnold habis dari luar? Bajunya basah."
Hanna khawatir. Arnold malah berseri.
"Ini." Arnold memberikan bingkisan.
"Apa ini?"
"Aku beliin kamu makanan sama minuman vitamin."
"Kak... Hanna jadi nggak enak, jadi ngerepotin." Padahal vitamin yang diberikan sebelumnya ia belum memakannya.
"Aku nggak ngerasa direpotin. Mmm.. kalau gitu aku balik ke kamar."
"Iyah, Kak. Kak Arnold langsung ganti baju ya.. biar nggak masuk angin."
Arnold tersenyum lalu pergi ke kamarnya yang tidak jauh. Setelah Arnold pergi, Hanna kembali masuk.
Dengan sikap Arnold seperti ini, Hanna merasa tidak enak padanya. Mengingat lagi apa yang dikatakan sahabatnya tadi. Memberi kesempatan Arnold untuk masuk ke dalam kehidupan dirinya.
"Kak Arnold udah baik, dia juga udah pernah bilang sayang sama aku. Apa aku kasih kesempatan aja ya?"
...🥀...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Bab bab terakhir ini akan berkaitan dengan D'OAS Revisi terbaru....
__ADS_1