
Akhirnya Hanna dan Afra tiba juga di Kota Bogor. Afra mengantarkan Hanna lebih dulu untuk bertemu dengan orangtuanya Aji. Sekaligus sudah menjadi orangtuanya Hanna juga.
"Lo nggak bakalan ikut masuk juga?" tanya Hanna. Hanna sudah berada di depan gerbang pintu rumahnya Aji.
"Hem. Kayaknya nggak deh. Gue harus balik dulu ke rumah. Gue kan belum pulang dari kemarin," tutur Afra. Hanna hanya mengangguk. "Kalau udah beres kabari gue. Nanti gue jemput lagi."
Hanna tersenyum. "Oke Afra. Kok gue ngerasa jadi bos lo selalu diantar jemput."
"Makanya lo gaji gue dong," canda Afra.
"Hahaha... nanti gue traktir deh."
"Nah gitu dong. Sip. Yaudah gue cabut sekarang. Umm .. salamin juga buat om sama tante," salam Afra.
"Iyah."
Bim .. bim..
Mobil Afra pun melaju kembali.
Hanna segera beranjak untuk memasuki rumah ini. "Assalamu'alaikum."
Ternyata di halaman rumah sudah ada Mang Ujang yang sedang mencukur rumput-rumput halaman.
Mang Ujang melihat seorang yang datang padanya. "Non Hanna?"
Hanna tersenyum. "Hallo Mang Ujang."
"Ya Allah ... Non Hanna kamana wae atuh?" Hanna bersalaman dengan Mang Ujang. "Aduh ieu budak geus gede geningan."
Hanna berseri dapat kembali mendengar suara Mang Ujang.
"Bunda sama Papah ada?" tanya Hanna.
"Ada Non ada. Hok masuk we ada di dalam."
"Hanna masuk dulu ya Mang Ujang," pamitnya.
"Sok sok mangga."
Hanna kembali beranjak dan memasuki rumah. Dan saat sampai pintu utama untuk masuk. "Bunda .... Papah ...."
Mereka berdua terlihat terkejut dengan kedatangan Hanna. "Hanna?"
Hanna langsung berlari menuju ayah dan bundanya Aji dan kemudian memeluk bunda tersebut yang seperti ibunya sendiri. "Bunda ..."
__ADS_1
"Kenapa nggak bilang-bilang kalau mau kesini?" tanya Bunda Naila.
"Mau kasih kejutan," jawab Hanna berseri.
Bunda Naila pun memeluknya kembali erat. "Anak bunda ini.... kangen banget."
Hanna pun menoleh kepada ayahnya Aji. "Hallo Pah." Hanna segera memeluknya juga.
"Anak papah udah besar."
"Iyah dong ... kan berkat bunda sama papah," ujar Hanna.
Ayahnya Aji yaitu Pak R. Sastra mengelus rambut Hanna. Dia sangat bangga dan senang dapat kembali melihat Hanna yang sudah dianggap sebagai putrinya sendiri.
"Kesini sama siapa?" tanya R. Sastra.
"Sama temen Hanna. Afra," jawabnya.
"Afra?"
Hanna mengangguk. "Iyah sama Afra."
"Kenapa nggak ikut masuk juga? Bunda juga udah lama nggak ketemu Afra," terang Bunda Naila. "Bunda kan harus ketemu sama calon mantu."
Papah R. Sastra hanya tersenyum mendengar hal itu. Begitupun dengan Hanna. "Afra harus langsung pulang. Tapi dia nitip salam buat bunda sama papah."
"Ah, udah makan belum?" tanya Bunda Naila.
"Udah kok, Bun."
...****************...
Di suatu tempat. Dimana tempat ini adalah tempat jika mereka untuk bertemu. Gina dan Nasrul akhirnya dapat bertemu kembali.
Mereka sudah cukup lama tidak berkomunikasi maupun bertemu setelah kelulusan SMA. Saat itu mereka benar-benar disibukkan untuk masuk Universitas yang mereka impikan juga meraih impiannya menjadi dokter satu sama lain. Gina telah berhasil mendapatkan beasiswa menjadi mahasiswi Kedokteran Hewan di Institut Pertanian Bogor (IPB) sedangkan Nasrul telah berhasil memasuki Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung. Dia pun telah berhasil dengan usahanya sendiri dan bekerja keras memperjuangkan impiannya menjadi mahasiswa Kedokteran.
"Apa kabar?"
Gina tersenyum. "Baik, kamu?"
"Aku juga baik."
Tutur kata mereka menjadi berbeda dibandingkan saat masih SMA. Dan sekarang satu sama lain mereka menggunakan kamu dan aku untuk berbicara.
"Kita udah lama nggak komunikasi."
__ADS_1
Gina mengangguk. "Kita sama-sama disibukkan dengan kuliah."
"Bener."
"Oh gimana kabar nenek sama kakek?" tanya Nasrul.
"Mereka baik. Makasih udah nanyain kabar nenek sama kakek," balas Gina. "Kalau pak Raja gimana? Masih ngajar di sekolah?"
"Masih kok semakin kesini makin garang katanya," kekeh Nasrul mengejek ayahnya sendiri.
Gina tertawa mendengar hal itu.
Nasrul tersenyum dan kemudian memandang ke arah sekitarnya. "Hmm... tempat ini nggak berubah yah."
Gina mengangguk senyum.
"Cuman bedanya sih sekarang udah banyak tumbuh-tumbuhan lebat."
"Iyah makin sejuk." Gina tertawa kecil.
"Gin masih inget nggak kita pernah jatuh disini?"
Gina tersenyum mengingat kembali. "Kejadian itu nggak bakalan lupa."
"Haha iyah. Orang-orang pada ketawain kita," tawa Nasrul. "Kamu sih ada-ada aja malah berhenti turun dari sepedah buat manjat pohon."
"Aku kan lihat kucing disana, kasian kan kalau nggak ditolongin," jawab Gina.
Nasrul tertawa. "Kepedulian kamu sama hewan-hewan udah dari dulu. Sekarang.... impianmu terwujud."
"Iyah. Aku bersyukur banget."
Gina hanya bisa tersenyum hanya bisa mengenang masa sekolahnya saat itu bersama dengan laki-laki yang ada di sampingnya ini.
...🐻🌹🐨...
...Hallo semuanya terima kasih atas dukungannya kalian ......
...Jangan lupa like vote favorit dan tinggalkan jejak agar Author dapat membalas dan mendukung kalian juga....
...Dan jangan lupa yang belum baca cerita Season 1 dari ini mampir yah ... untuk baca cerita pertama yang dirilis oleh Author yaitu Diary Of A School : Me and Yu...
...Agar bisa memahaminya untuk membaca cerita Season 2 ini....
__ADS_1
...Yang sudah baca pun boleh mengulangnya lagi karena sudah revisi dan semakin menarik....
...Dadah Boo Luv...