
“Sebenarnya ada di batas apa aku ini? Kebahagian yang tak terukur atau kesedihan yang begitu dalam?” monologku seraya menatap nanar pantulanku. Setelah melalui hari-hari yang begitu berat. Aku menghela nafas
berat, tak pernah aku merasakan beban seberat ini sebelumnya. Sebenarnya apa yang salah dari diriku? Apa aku kurang cantik? Atau aku kurang menarik? Huh sekali lagi ku hela nafasku berat. Ku tatap pantulanku, semakin ku pandang semakin aku rasakan sesaknya dada ini. Aku terhanyut pada lamunanku, aku terhanyut pada kesedihanku. “Tuhan? Kapan aku kau ijinkan untuk dapat merasakan bahagia?” monologku. Ku tatap kertas yang tergeletak diatas nakasku, ku alihkan pandanganku pada sebuah bingkai foto, “Tak ada! Tak ada lagi kebahagian. Tak ada tawa cerianya. Tak ada lagi perhatiannya,” batinku. Ini bukanlah pertama kalinya aku mengalami hal ini, namun entah mengapa ini terasa sangat sakit dan memilukan. Ku langkahkan kakiku meninggalkan meja riasku. Ku bulatkan tekadku, ku mantapkan hatiku, ku siapkan mentalku, bukankah hidup terus berjalan? Setidaknya biarkan aku berusaha untuk melanjutkan hidupku, setelah kepahitan yang aku lalui.
“Syaa!!!” pekik Tania, sahabatku dulu. “Syaa aku minta maaf ya Sya!” ucapnya memohon, “Iya Tan. Aku buru-buru. Duluan ya,” sahutku cepat tanpa memandangnya. “Syaa aku beneran gak tau kenapa akhirnya begini. Sya maafin aku ya Syaa.. Bisakan Sya kita kembali kayak dulu lagi?” ucapnya ada rasa penyesalan diucapannya. Aku tak menjawab, kutinggalkan Tania yang masih menatapku. Tuhan aku tak pernah membencinya, namun bolehkah aku untuk tak berjumpa dengannya terlebih dahulu? Aku tak mau jika kelak, Tania menjadi pelampiasan atas ketidak dewasaanku.
Ku percepat langkah kakiku, saat aku melihat sosok yang selama 2 tahun ini menemaniku, menjadi tumpuan hidupku, menjadi tempatku berbagi keluh kesah. Jika bisa memilih jalan lain, tentu aku akan memilih jalan lain. Namun sayangnya, koridor inilah satu-satunya jalan agar aku bisa sampai ke ruang kerjaku. Kukumpulkan semua keberanianku, langkah demi langkah, sedikit lagi aku akan berpapasan dengan dia. Aku berhasil melewatinya, aku merasa ia masih menatapku.
“Syaa,,,” panggilnya lirih, saat ini ia berada di belakangku. Ku hentikan langkahku, “Syaa,,” ulangnya, Tuhan apa yang harus ku perbuat? Hatiku berperang aku ingin menengok dan melihat wajahnya, garis wajahnya yang selalu membuatku tenang, namun aku tak ingin terlihat lemah. Ku bulatkan tekadku, ku lanjutkan perjalananku. Ku abaikan panggilannya.
__ADS_1
“Pagii Syaaa!!” sapa Dean, rekan kerjaku. “Pagi De,” sahutku senormal mungkin. “Kenapa nih Sya? Letoi amat?” tanya Dean, aku sedikit terkejut saat Dean menyadari perubahan sikapku. “Biasa De, mau tanggal hehe,,” alibiku, Dean hanya manggut-manggut. “Syaa, ntar sore nyalon yok!!” ajak Dean semangat, “Ayoo udah lama juga gak nyalon De,” ucapku semangat, bagaimanapun juga hidup terus berjalan. Aku tak mau terus-terusan tenggelam pada kesedihan. “Gak usah sok semangat gitu loh Sya kalo emang lo lagi badmood,” ujar Dean tepat sasaran. Aku hanya mengendikkan bahu acuh dan berjalan menuju pantri kantorku.
Aku ragu-ragu memutar knop pintu pantri, seketika pikiranku melayang pada kejadian 1 minggu lalu..
*Flashback
Hari ini aku diharuskan lembur, karena ada beberapa pekerjaan yang harus ku teliti. Namun, aku tak sendirian ada Dean dan Rama yang menemani ku berlembur. “Mau kemana Sya?” tanya Rama saat melihatku bangkit dari kursi kerjaku “Pantri” sahutku singkat, “Sya,, sekalian kopi satu ya Syaa. Ngantuk nihh,” ujar Dean seraya menguap. “Nonton drakor aja trus De,” ucapku santai, Dean hanya tertawa dan kembali fokus pada layar komputer di hadapannya. Ku putar knop pintu pantri, aku berjalan menuju kitchen set dan menyalakan kompor. Aku memainkan ponselku seraya menunggu air masak. Tiba-tiba terdengar bunyi benda jatuh dari dalam kamar mandi, aku mengabaikan suara itu. Walau sejujurnya bulu kudukku berdiri, namun aku memberanikan diri menyelesaikan
“Ngapa Syaa? Dikejer setan?” tanya Dean padaku saat aku kembali ke meja kerjaku dengan nafas yang terengah, “Tadi di kamar mandi pantry ada suara-suara gitu De,, serem ihh sekarang kantor kita,,” jelasku mencoba mengatur nafasku “Jangan ngaco deh Syaa,, yang lembur cuman kita ini,” sahut Dean dengan wajah yang panik, “Ya ngapain aku bohong sih Sya, ini tuh beneran. Gak liat nih bulu kudukku udah berdiri,” sahutku seraya menunjukkan lenganku. “Coba sini gue liat,” ucap Rama seraya bangkit dari kursinya, “Ngapain sih Ram? Udah gak usah.. Berabe ntar urusannya,” cegahku dan Dean hanya mengangguk pertanda ia setuju dengan usulku, “Gue penasaran Syaa. Setan apa yang demen maen di kamar mandi,” ujar Rama melangkahkan kakinya menuju pantry, seakan tak memperdulikan ucapanku. Aku dan Dean berpegangan tangan erat saling menyalurkan keberanianku. “Syaa si Rama ada-ada aja deh, gue gak berani balik kost kalo begini,” keluh Dean seraya meremas tanganku kuat, “Ya gimana loe tau sendirikan si Rama itu keras kepala, jadi ya udah kita tunggu aja dia balik,” ucapku pasrah, walau
__ADS_1
sejujurnya dalam hati aku sama khawatirnya dengan Dean. Tak lama, Rama telah kembali dengan ekspresi wajah yang kusut dan menahan amarah. Aku dan Dean tak berani menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Kami hanya diam menunggu Rama mengatakan sesuatu. Namun, sampai saat ini Rama masih membisu. Pandangan matanya
kosong, “Ram,” ucapku hati-hati. Aku memberanikan diri menyapa Rama, aku takut hal buruk menimpanya. “Kalo disuruh milih kalian milih mana? Cantik tukang selingkuh atau jelek setia?” tanya Rama tiba-tiba, aku dan Dean bertukar pandang tak mengerti arah pembicaraan Rama. “Emang kenapa Ra?” ucap Dean lirih “Jawab aja,” ucap Rama dingin, Rama tak pernah bersika begini sebelumnya, ia pria yang selalu ceria dan mampu menghidupkan suasana tapi kini Rama berubah menjadi pria yang misterius. Atmosfer di ruangan kerjaku berubah menjadi lebih mencekam dari biasanya. “Ram gak usah aneh-aneh lah Ram,” keluhku pada Rama, Rama mengalihkan pandanganya padaku. Aku terkejut melihat mata Rama yang sudah berkaca-kaca dan siap menjatuhkan airmata. “Ram, loe oke?” tanyaku memastikan. “Kita pulang aja, ini bisa dikerjain besuk pagi,” suruh Rama padaku dan Dean, “Tapi Ram,,,” sanggah Dean “Gue yang bilang Pak Bagas,” ucap Rama menghentikan ucapan Dean.
Kami berjalan beriringan dengan Rama yang berada di paling belakang, saat sampai di basement aku melihat mobil Kenan, kekasihku. “Syaa itu mobil Kenan kok di sini sih?” tanya Dean menatap mobil Kenan heran, “Gak tau De, mogok mungkin,” jawabku acuh. “Telepon gih, tanyain,” usul Dean, aku mengangguk dan meriah benda pipih berlogo apel yang digigit. Kenan tak kunjung menjawab panggilanku. Aku sudah mencoba menelponnya hingga ke lima kalinya, namun hasilnya tetap sama, tak ada jawaban dari Kenan. “Mungkin udah tidur kali Sya,, coba besuk pagi loe tanyain,” ucap Dean menenangkanku. “Hhh tidur,” sinis Rama dan berlalu meninggalkan aku dan Dean. “Rama kenapa ya Sya? Kok kayak ada yang aneh deh?” tanya Dean padaku. Aku masih terus mencoba menghubungi Kenan. Tak ada rasa curiga sedikitpun, aku hanya khawatir dengan keadaannya. Aku tak mau
terjadi sesuatu yang buruk padanya. Aku dan Dean segera mengambil motor kami masing-masing. Aku dan Dean memanglah anak kost, karena kami merantau dari kampung halaman kami.
Setibanya di kostku, aku bergegas membersihkan diri dan bersiap menyelami alam mimpiku. Namun sebuah dering notifikasi membuatku harus mengurungkan niatku. Aku terkejut saat membaca pesan yang tertera di layar
__ADS_1
ponselku.