Melepasmu Dengan Ikhlas

Melepasmu Dengan Ikhlas
Episode 2


__ADS_3

Aku masih termenung membaca isi pesan yang baru saja aku terima, pesan tersebut dituliskan dengan kata-kata yang puitis dan terkesan kuno. Bahasa yang baku dan berlebihan. Aku membaca pesan itu berkali-kali, sepertinya sang pengirim pesan ingin menyampaikan sebuah pesan yang tersirat.


Tiba-tiba terdengar ketukan yang berasal dari luar kamarku, aku dengan setengah hati berjalan menuju pintu kamarku dan membuka pintu kostku. Aku menoleh ke kanan dan kiri, pasalnya tak menemukan siapapun di sana,


saat aku hendak berbalik seseorang menyentuh pundakku “Tuhann jangann... Setan siapapun ituu pergii,, aku anak baik-baik kok. Bener dehh,,” ucapku ngelantur, sungguh aku takut saat ini. setelah hening cukup lama, terdengar sebuah tertawa dengan suara yang berat. Tubuhku kembali meremang, “Jangan-jangan dia ini yang tadi ada di pantry kantor. Dia kesini karena marah tadi Rama datangin dia?” monologku, karena rasa takutku mengalahkan rasa penasaranku aku segera berlari memasuki kamar kostku dan membaringkan diri jangan lupakan selimut yang


menutupi seluruh bagian tubuhku. Malam itu cuaca sedang tidak bersahabat, awan tak menampakkan bintang, angin berhembus dengan kencanganya. Aku semakin larut dengan ketakutanku sendiri. aku memaksa mataku agar mau terpenjam.

__ADS_1


Sinar mentari masuk melalui celah-celah jendela kamarku, aku mengerjapkan mata merasakan sinar matahari yang menyilaukan mata. Tubuhku enggan bangkit dari kasurku. Tiba-tiba Dean memanggilku dan menggedor pintu kamarku secara kasar, dengan terpaksa aku menyibakkan selimutku dan bangkit menuju pintu, “Apa sih De? Pagi- pagi udah rusuh aja, untung hari libur,” sungutku masih dengan piyama bermotif kucing yang meekat ditubuhku. “ Pagiii Alissyyyaaa... Karena ini hari libur, jalan yuk.. cari sarapan gituu,” ajak Dean padaku yang masih setengah terpejam, “Jadi sekarang, mendingan loe siap-siap gue udah laper.. Buruan Sya,” suruh Dean padaku dengan tanpa ijinku mendorong tubuhku masuk kedalam kamar mandi. Memang kost yang aku tempati saat ini tersedia kamar mandi di dalam. Karena penghuni kost di sini memiliki mobilitas yang tinggi sehingga tak mungkin jika harus mengantri hanya untuk mandi. Aku berjalan dengan mata yang belum terbuka sempurna, sejujurnya aku baru saja bisa tertidur, usai mendapatkan pesan misterius dan juga tamu misterius.


“Syaaa, jangan lama-lama lah.. Ntar bubur ayam Mang Ucok keburu habis, cepet Syaaa,” pekik Dean dari atas kasurku. “Berisikk!!” ucapku seraya melempar handuk yang tadi kupakai untuk mengeringkan rambutku. Dean


hanya memanyunan bibirnya, “Syaa,,” panggilnya padaku yang tengah mengeringkan rambutku, “Kira-kira semalem yang dilihat Rama tuh apa ya? Dia sampe berubah gitu,” ucap Dean seraya menerawang, “Mana ku tahu neng,, sok tanya langsung aja sama orangnya,” sahutku seraya memakai cardiganku. “Cihh biasa aja dong komuknya,” sahut Dean kesal. “Jadi gak nih?” tanyaku setelah siap dengan semua perlengkapanku, Dean tak menjawab, namun dengan segera ia bangkit dan menduduki motorku, “Emm mon maaf, motor anda yang itu Mbaa,” ucapku dengan nada yang dibuat-buat, “Iya tau kok, emang gak boleh nebeng gue Syaa? Lagi mager nih, jadi Alishya yang cantik jelita tanpa make up ini yang membawa. Gimana?” usul Dean padaku yang menatapnya kesal. Namun tak urung juga aku mengikuti permintaan Dean. Sepanjang berjalan, Dean tak henti-hentinya menceritakan tentang pria yang sedang ia kagumi. Pria yang dikabarkan akan bergabung dengan kami. Aku hanya diam mendengarkan celotehan dari Dean. Aku memikirkan Kenan yang sedari semalam tak kunjung memberiku kabar. Aku gelisah, namun aku tak mau berburuk sangka padanya. Ia lelaki baik yang pernah ku kenal. Tapi bukahkah setiap manusia itu terlahir baik? Tidak, tidak Kenan pria yang baik dan berasal dari keluarga yang baik-baik. Aku sudah cukup lama mengenal Kenan ia kakak kelasku saat aku masih duduk di bangku Smp. “Syaa, kamu dengerin aku gak sih? Dari tadi diem aja, aku udah ngomong sampe berbusa kamunya diam aja,” tanya Dean seraya menepuk pundakku, “Hah apa De?” ucapku sedikit meninggi, “Yeee dasar kutu, dari tadi ngomong gak didengerin,” sungut Dean, aku hanya dapat melihat ekspresi kesal Dean dari kaca spion motorku.


keluarga besarnya. Kenan pun tak terlalu terbuka padaku masalah keluarga besarnya. Aku hanya mengenal Ayah, Ibu dan adiknya. Karena sempat beberapa kali Kenan mengajak aku mengunjungi rumahnya. Mobil yang dikendarai Kenan berbelok menuju ke arah puncak. Sepertinya benar jika gadis yang duduk dikursi penumpang itu saudaranya. Mungkin keluarga besarnya sedang mengadakan arisan keluarga. Sehingga Kenan harus satu mobil dengan gadis itu. Aku menghela nafas kasar dan mencoba menetralkan pikiran burukku tentang kekasihku itu.

__ADS_1


“Syaa!!!” pekik Dean membuatku terkejut dan secara mendadak menarik rem tangan motorku, “Kenapa sih De? ngangetin aja tau gak. Gimana kalau kita kenapa-napa tadi.,” sungutku seraya menoleh ke arah Dean. “Justru kalau


aku gak panggil kamu, yang ada kita malah kenapa-napa,” ucap Dean gemas, aku menaikkan sebelah alisku pertanda aku tak mengerti dengan apa yang diucapkan Dean “Noh liat, di depan ada apaan yang lewat,” ucap Dean seraya menunjuk menggunakan dagunya. “Astagfirulloh,,” ucapku terkejut, “Makanya fokus Syaa. Kenapa sih? Dari tadi gak fokus amat,” tanya Dean padaku, “Gak papa De, santai aja,” sahutku mencoba menutup kegelisahanku, “Udah sini biar gaku aja yang bawa, aku masih mau nikah masih mau punya anak, masih mau,,” ucap Dean mulai melantur “Mau tuker sekarang atau tahun depan?” ucapku memutuskan khayalan Dean. “Iya-iya sini. Aku yang bawa aja motornya,” sahut Dean mengambil alih stang kemudi. Aku hanya diam saat Dean mengambil alih stang kemudi. Walau aku berusaha untuk berpikir positif dengan apa yang baru saja aku lihat, namun dalam hatiku masih sedikit ada keraguan atas apa yang aku lihat.


“Sya, kamu mikirin apa sih? Dari tadi diem mulu, gak kayak kamu biasanya,” ucap Dean saat ia berhasil memarkirkan motorku dengan rapi. Aku hanya mengendikan bahu acuh dan berjalan mendahului Dean yang tengah menatapku heran. Jujur, kadang aku merasa tak tenang, tatkala Kenan tak kunjung memberi kabar. Bahkan Kenan melupakan jika hari ini, tepat 2 tahun. Namun, Kenan tak kunjung memberiku kabar. Karena terlalu larut dengan pikiraku, tanpa sadar aku menabrak seorang pria yang kini menatapku dingin. Keringat dingin mulai


bercucuran di dahiku. Wajah ini, sepertinya aku pernah melihatnya, aku mencoba mengingat-ingat garis wajahnya. Setelah berdiam diri cukup lama aku mendongakkan kepala dan terkejut.

__ADS_1


__ADS_2