
“Gimana kalau udah terlalu dalam Mba?” tanyaku dengan suara parau, Mba Ranti hanya menatapku seraya tersenyum. “Gak papa, nanti juga nemu obatnya. Setiap luka itu pasti ada obatnya Sya, tenang aja,” ujarnya lembut.
“Kalau gitu, Mba balik ke ruangan Mba dulu ya,” pamitnya setelah ia membersihkan gelasnya. Aku hanya mengangguk, aku menatap dalam-dalam minuman yang ada di depanku.
Ini bukan pertama kalinya aku terluka, namun entah mengapa luka ini yang sangat dalam. Apa karena aku terlalu
berharap banyak padanya? Dulu aku hampir saja menikah dengan seseorang namun lagi-lagi aku gagal dan berakhir dengan menjadi tamu undangan. Bahkan sempat aku dekat dengan seseorang, belum sempat kami menjalin suatu hubungan yang serius ia sudah memilih wanita lain dan meninggalkanku dengan berjuta janji dan
rayuannya. Aku menghela nafas panjang, aku bangkit dan membawa coklat panas yang tak lagi panas, persis seperti hatiku. Saat aku berjalan menuju ruanganku, aku berpapasan dengan Tania dan juga kenan ia sama sekali tak melirikku. Aku tertawa miris dengan nasibku. Selalu ditinggalkan dan selalu dicampakkan.
“Syaa, loe gak papa kan?” tanya Dean setibaku di ruangan kerjaku. “Iya Dee, makasih ya,” sahutku seraya
tersenyum. “Syaa, kamu yang sabar ya. Aku yakin kok itu semua cuman gosip semata aja,” ujar Dean dengan lemah lembut, “Iyaa De, makasih ya, aku balik kerja lagi ya,” ujarku seraya berjalan menuju meja kerjaku.
Malam ini, lagi dan lagi divisiku harus kerja lembur. Karena lusa akan diadakannya audit besar-besaran. “Syaa,
mau kopi gak?” tanya Rama seraya mendekati meja kerjaku. “Ehh gak usah Ram, ngopi mulu perasaan,” tolakku dengan senyuman tipisku, “Kamu De?” tanya Rama pada Dean, Dean berbinar mendengar tawaran yang diajukan Rama. “Boleh Ram, makasih ya Mas Rama,” sahut Dean manis. Aku tersenyum menyaksikan interaksi dua
orang lawan jenis yang sedang dilanda kasmaran. “Ciieee, Deann,,” godaku, Dean menatapku malu malu.
__ADS_1
Sudah hampir 15 menit, namun Rama tak kunjung kembali ke meja kerjanya. “Rama kok lama ya Sya?” tanya Dean padaku, aku hanya mengendikan bahu. “Apa aku susul aja ya?” tanya Dean “Ya elah De, Rama gak akan nyasar kok. Tunggu aja bentaran,” sahutku seraya memutar bola mata malas. “ishh, Syasya mah,” kesal Dean dengan manja. Dean memang mudah berubah-ubah, kadang menjadi dewasa, kadang mandiri, kadang kenakanan, kadang juga ia akan menjadi monster yang paling menakutkan.“Sorry ya De lama, ada kendala tadi,” ujar Rama seraya meletakkan minuman milik Dean. “Iya Ram, gak papa kok,” sahut Dean lembut.
Aku memfokuskan diri pada tumpukan berkas di atas mejaku, hari ini aku tak ingin pulang larut malam lagi. “Sya, ngebut banget sih,” tanya Rama padaku yang tengah menikmati minumannya bersama dengan Dean. “Iya Ram, ada janji,” sahutku tanpa mengalihkan pandanganku. “Janji sama siapa Sya? Kenan?” tanya Dean menatap aku curiga. “Enggak De,” sanggahku “Gak usah bohong kali Sya,” kini Rama ikut memojokkanku. “Sya, kamu itu gak bisa Sya di giniin terus. Kalian tuh pacaran tapi gak kayak orang pacaran. Gak capek berjuang sendiri?” ucap Dean padaku, “Apasih De. kalau aku bilang aku gak temuan sama Kenan, ya berarti enggak De,” ucapku tegas, Dean
menatapku terkejut. Aku juga tak tahu mengapa aku membentak Dean, sungguh tak ada niatku untuk membentak Dean. Dean mengalihkan pandangannya dariku. ia bahkan kembali ke meja kerjanya meninggalkan Rama yang menatap kami bingung.
Aku merapikan pekerjaanku, aku sudah kehilangan moodku. Aku ingin segera pulang. “Loh Sya, kok dirapiin?”
tanya Rama seraya berjalan ke arahku. “Gak papa, aku lanjutin di kost aja Ram,” sahutku seraya meraih tas dan berkasku. Dean tak berkomentar apapun ia hanya diam. Aku juga tak mau ambil pusing, hari ini tubuhku terasa lelah.
“Loh, Alisya!” panggil Mba Ranti mengejutkanku. “Mba Ranti, bikin aku kaget aja sih Mba,” ucapku seraya tertawa
loby kantor, aku berpisah dengan Mba Ranti. Ia di jemput oleh calon suaminya.
Setelah memarkirkan motorku, aku berjalan menaiki anak tanga dengan lesu. Saat kakiku menginjak pada anak
terakhir, aku melihat seorang pria tengah berdiri di ambang pintu kamarku. “Kenan,” gumamku lirih. Kenan pria yang tak ingin kutemui itu tengah berdiri menungguku. Aku melangkahkan kakiku mendekat pada kamar kostku.
“Sayang, aku udah selesai nih,” ucap Tania, sekretaris baru Kenan. Tunggu apa tadi dia bilang? “Sayang?” aku
__ADS_1
menghentikan langkah kakiku. Di depan mataku Kenan memeluk Tania dengan erat, pundakku jatuh, aku menahan air mataku sekua tenaga. Aku tak sanggup lagi, di sana Kenan tengah mengecup kening Tania lembut. Aku membalikkan badan hendak meninggalkan tempat ini. namun langkahku terhenti kala aku berpapasan dengan
Dean. “Sya,” lirihnya menatapku iba, aku tak memperdulikan panggilan Dean aku berlari sekencang yang aku bisa. “Syaa!!” pekik Dean mencoba mengejar langkah kakiku. Aku mengabaikan teriakan Dean.
Kini aku tak tahu harus kemana, aku mengendarai motorku dengan air mata yang terus menetes tanpa mau berhenti. Aku menepikan motorku pada sebuah taman kota. Aku menumpahkan segala kekesalan, kesedihan dan kekecewaanku. Hingga aku tak menghiraukan butiran air hujan yang mulai mengguyur tubuhku. Aku tak berniat beranjak dari tempatku.
Cukup lama aku berdiam diri dan merasakan butiran air yang mengenai kulitku. Tiba-tiba hujan tak lagi menerpaku, aku mendongakkan kepalaku secara perlahan. Aku tak dapat melihat dengan jelas wajahnya, karena wajahnya terhalang sinar lampu kota. “Jangan biarkan air matamu jatuh untuk seseorang yang tak pantas untukmu,” ujarnya dengan tegas. Setelahnya ia memberiku payung dan berjalan meninggalkanku. Aku masih
termenung dengan apa yang ia katakan.
“Makasih ya Mba, maaf udah ngerepotin Mba,,” ujarku pada Mba Ranti. Sesaat setelah kepergian pria misterius itu, Mba Ranti datang dan mengajakku menginap di rumahnya. “Iya Sya, mau berapa kali sih bilang makasihnya?” ujar Mba Ranti dengan senyum tulusnya. “Ya udah kamu istirahat dulu ya, Mba tinggal ya Sya,” ujarnya seraya berjalan meninggalkan aku yang tengah berbaring di kamar tamu rumahnya. Rumah Mba Ranti tidaklah mewah, hanya sebuah rumah dengan nuansa minimalis.
Aku mencoba memejamkan mataku berharap dapat melupakan apa yang aku lihat bebrapa jam lalu. Sepertinya dewi fortuna sedang tidak berpihak padaku. Semakin aku berusaha untuk melupakan kejadian tadi, semakin tergambar jelas di pikiranku. Aku menghela nafas kasar.
Mentari pagi tak begitu terlihat pagi ini, mungkin karena semalam kota ini diguyur hujan dengan intensitas cukup
lama. Aku menatap jam dinding di kamar ini, hari ini Mba Ranti memaksaku untuk tak berangkat bekerja terlebih dahulu. Sekuat tenaga aku mengatakan jika aku tak apa, sekuat tenaga pula Mba Ranti melarangku.
Aku tak mengerti dengan jalan pikiran Kenan. Aku ini dianggap apa olehnya? Ia tak mengkhawatirkan keadaanku, ia bahkan tak menanyakan dimana aku berada, mengapa aku tak datang ke tempat yang iya katakan kemarin. Kepalaku terasa berat tatkala mengingat perlakuan Kenan padaku. Di tengah ke gundahanku, aku menerima pesan singkat yang membuatku membulatkan mata terkejut.
__ADS_1